Home > Uncategorized > Beragama Perlu Juga Piknik

Beragama Perlu Juga Piknik

ssys25 tahun yang lalu, kalau tak salah rasanya pernah nulis seperti ini, Bang Denny mengingatkanku akan ritus-ritus sebagai baju & asesoris yang harus dikenakan ketika ber-agama.
Ayo srupuuut lagi  kopinya…., trims Bang !

======================

Banyak kegagapan kita dalam beragama karena kita hamya sibuk pada level ritual. Ritual adalah “wujud” dalam sebuah agama. Ia berbentuk rangkaian gerakan yang meng-asosiasi-kan penyembahan kepada Tuhan. Ketika kita bicara “ibadah” maka yang terbersit dalam benak adalah ritual-ritual seperti shalat, puasa, zakat dan sebagainya.

Ketika kita memahami konsep agama hanya pada level ritual, maka semua ritual itu bersifat kewajiban. Malah yang lucunya lagi ada yang memahami bahwa shalat itu sebagai “pengguguran kewajiban”, maksudnya itu kewajiban yang harus dilaksanakan supaya tidak ada lagi beban kewajiban.

Lucu memang jika berbicara dengan mereka yang hanya terpaku pada level ritual. Mereka tidak mampu menggali lebih dalam lagi tentang apa sebenarnya agama itu. Buat mereka agama itu adalah aksesoris, sebuah pakaian yang dikenakan ketika kita menganut agama tertentu. Sebuah seragam yang bertuliskan di dadanya PT ISLAM Tbk.

Padahal sejatinya ketika mereka menggali agama itu lebih dalam, maka tampaklah disana sebuah “buku petunjuk”, manual book kehidupan dan kematian. Banyak tips dan trick yang bisa dijadikan pegangan. Sebuah peta dalam perjalanan, kompas dalam menentukan tujuan dan GPS dalam pencarian.

Masuk pada level pemahaman itu, ternyata kita menemukan bahwa agama itu sebenarnya spiritual. Kenapa ? Karena sesungguhnya petunjuk2 itu bukan untuk jasad tetapi untuk ruh. Kita baru memahami bahwa ruh itulah sebenar2nya kita, sedangkan jasad hanya kendaraan kita di dunia saja.

Baru kita memahami bahwa ritual itu sesungguhnya bukan kewajiban, tetapi kebutuhan. Sehingga meninggalkannya, sama saja dengan kita tidak mendapatkan “asupan”. Dan ruh yang tidak mendapatkan asupan jelas menjadi lemah, labil dan dangkal. Jiwa menjadi kering dan tandus.

Karena itulah dalam agama, perlu pemahaman spiritual sehingga kita menjadi paham makna, sebuah inti, esensi yang dalam. Mengkaji, bukan membaca.

Kalau hanya membaca saja terus bangga2an, yah begitulah jadinya pemahaman selalu saja gagal. Ketika di bilang “Tuhan sedang ingin minum secangkir kopi dengan kita”, yang dibayangkannya Tuhan itu sejenis mahluk yang dudukvdan minum kopi padahal itu hanyalah sebuah kata kiasan, sebuah pendekatan.

Memang di agama pun di perlukan piknik, sehingga pemahamannya luas… Seperti kata bukan hadis, “Sesungguhnya orang2 yang kurang piknik itu adalah orang2 yang butuh liburan..” Seruputttt….

DENNYSIREGAR.COM

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: