Home > Uncategorized > Wasiat Sufistik Imam Khomeini

Wasiat Sufistik Imam Khomeini

ImamAnakku yang kukasihi, itu semua aku sampaikan meski aku bukan apa-apa, bahkan lebih rendah dari itu agar engkau tak sampai ke mana-mana (dalam perjalanan spiritualmu), setidaknya jangan menyangkali (hakikat) maqam-maqam spiritual dan ajaran-ajaran Ilahi. Cobalah untuk menjadi salah satu diantara orang-orang yang bersahabat dengan orang-orang saleh dan ‘arif meski kamu bukan salah seorang dari mereka. Dan jangan meninggalkan dunia ini dengan perasaan bermusuhan dengan teman-teman Allah SubhanaHu wa Ta’ala.

Anakku, akrabkan dirimu dengan Al-Quran, kitab agung pengetahuan ini, meski hanya dalam bentuk membacanya (tanpa mempelajarinya). Dengan demikian, engkau telah membangun hubungan dengan Yang Terkasih. Jangan berpikir bahwa membaca saja tanpa pemahaman (ma’rifah) adalah tak ada gunanya. Kesan seperti itu adalah hasutan setan. Bukankah ini adalah kitab yang datang dari Yang Terkasih untuk semua orang, termasuk untukmu Anakku! Surat dari Yang Terkasih amatlah indah meski si pencinta tak tahu maknanya. Dengan hasrat seperti itu, cinta Yang Terkasih, yang adalah kebaikan tertinggi, akan menyapamu dan, siapa tahu, Ia mungkin mengulurkan tangannya. Bahkan, jika kita harus bersujud sepanjang umur kita sebagai tanda terima kasih karena memiliki Al-Quran sebagai kitab suci kita, itu masih tak mencukupi.

Anakku, doa-doa dan wirid-wirid yang telah sampai kepada kita lewat para Imam yang ma’shûm adalah petunjuk-petunjuk bagi (upaya kita untuk) mengenal-Nya, ‘Azza wa Jalla. Inilah cara yang paling luhur untuk menggapai kehambaan (‘ubudiyah) dan hubungan antara Allah dan ciptaannya. Doa-doa dan wirid-wirid itu mengandung ajaran-ajaran Ilahi dan cara-cara untuk mencapai keintiman dengan-Nya. Malah, semuanya itu merupakan buah-tangan dari rumah-tangga-kenabian (ahl bait al-nubuwwah) dan mencerminkan keadaan (hal-hal) orang-orang yang memiliki (mata)-hati dan para pesuluk (di jalan menuju Allah).

Jangan sampai hasutan orang-orang yang lalai menjauhkanmu dari mendapatkan manfaat dari semuanya itu dan-kalau engkau memang memiliki kemampuan untuk itu dari menjadikannya bagian dari hidupmu. Kalaupun kita membaktikan seluruh hidup kita untuk menyampaikan terima kasih kepada para Imam yakni orang-orang yang jiwanya telah terbebaskan itu sebagai pembimbing kita, itu semua tak cukup.
Pada tahap ini, berdiri di ambang kematian dan menarik napas terakhir kehidupanku, nasihatku bagimu yang menikmati anugerah kemudaan adalah pilihlah sebagai teman dan sahabat orang-orang yang jiwanya telah terbebas, setia pada Islam, dan cenderung pada keruhanian. Yakni orang-orang yang tak memiliki kecenderungan pada dunia dan kemilaunya, yang tak mengejar harta duniawi melebihi yang biasanya cukup untuk memenuhi kebutuhannya, yang pertemuan-pertemuan dan pesta-pestanya tak terkotori oleh dosa dan (orang-orang) yang memiliki akhlak luhur. Akibat dari pertemanan dan persahabatan adalah, satu di antara dua, baik atau buruk. Berupayalah untuk menjauh dari pertemuan-pertemuan yang bisa membuat seseorang lalai dari Allah. Menjadi akrab dengan pesta-pesta seperti itu akan menyeret seseorang untuk menyia-nyiakan kapasitas (potensi) peluang pertumbuhan ruhaniah suatu kerusakan yang tak dapat dipulihkan.

(Wasiat Sufi Imam Khomeini ra)

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: