Home > Uncategorized > Nasihat Imam Ali untuk Nauf al-Bukkali

Nasihat Imam Ali untuk Nauf al-Bukkali

PARS-6x6-e1454253544948Nauf al-Bukkali, salah seorang sahabat Imam Ali as, meriwayatkan bahwa pada suatu hari ia bertemu Imam Ali as di halaman Masjid Kufah. Nauf memberi salam dan beliau as membalas salam Nauf.
Kemudian Nauf meminta nasehat-nasehat bernilai dari Imam dan Imam as memberinya nasehat-nasehat yang bernilai yang bukan hanya berharga bagi Nauf tapi bagi kita semua tentunya.

  • Berbuat baiklah, niscaya engkau akan memperoleh kebaikan.
  • Hiasilah dirimu dengan sifat kasih sayang, niscaya engkau akan dikasihi.
  • Bicaralah kebaikan, niscaya engkau akan disebut dengan kebaikan.
  • Jauhkan dirimu dari berbicara ghibah, karena ghibah itu santapan anjing-anjing neraka.
  • Bohong orang yang mengaku bahwa ia terlahir dari sesuatu yang halal padahal ia memakan daging-daging manusia dengan berbicara ghibah.
  • Bohong orang yang mengaku bahwa ia terlahir dari sesuatu yang halal padahal ia membenci aku dan membenci para Imam dari keturunanku.
  • Bohong orang yang mengaku bahwa ia terlahir dari sesuatu yang halal padahal ia senang berbuat zina.
  • Bohong orang yang mengaku bahwa ia mengenal Allah azza wa jalla padahal ia berani bermaksiat kepada Allah siang dan malam.
  • Sambunglah tali silaturahim karena itu akan memperpanjang umurmu, dan baguskanlah akhlakmu karena Allah akan meringankan perhitungan amal perbuatanmu.
  • Jika engkau ingin bersamaku pada hari kiamat, maka janganlah engkau menolong para pelaku kezaliman.
  • Siapapun yang mencintai kami Ahlulbait, ia akan bersama kami pada hari kiamat.
    Seandainya seseorang mencintai batu, sungguh Allah akan mengumpulkannya bersama batu itu.
  • Waspadalah jangan sampai engkau berhias untuk manusia dan engkau berani menentang Allah dengan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat, karena Allah akan mempermalukanmu ketika engkau bertemu Dia (di hari kiamat).
  • Jaga baik-baik nasehat yang aku sampaikan untukmu ini, engkau akan meraih kebaikan dunia dan akhirat dengannya (dengan mempraktikkannya).

___________
referensi:
– Amali, Syekh Shaduq, halaman 277-278
– Biharul Anwar, Allamah al-Majlisi, jilid 77 halaman 382

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: