Home > Uncategorized > Sa’di, Pujangga Sufistik Persia

Sa’di, Pujangga Sufistik Persia

cut_away_view_of_mp5Sa`di adalah seorang penyair lirik dan penulis kisah-kisah perumpamaan paling terkemuka dalam sejarah sastra Persia. Karya-karyanya dikagumi di Timur dan di Barat.

Nama lengkapnya Musharifuddin bin Muslihuddin `Abdullah al-Shirazi. Dia menggunakan takhallus (nama pena) Sa`di untuk menghormati pelindungnya seorang atabeq atau gubernur provinsi Pars pada awal abad ke-13 yaitu Abu Bakar Sa`d.. Penyair ini lahir di Shiraz pada tahun 1184 M dan wafat di kota yang sama pada tahun 1291 M. Sejak masa Sa`di hingga akhir abad ke-19, Shiraz bertahan sebagai pusat kebudayaan Persia yang masyhur.

Makam (masoleum/kuburan) Sa’di

Pada masa Sa`di masih kecil, ayahnya meninggal dunia. Kesedihannya menjadi anak yatim ditulis dalam sebuah puisinya. Tetapi dia sangat tabah menghadapi berbagai kesukaran dan selalu berjuang keras untuk mendapat pendidikan terbaik pada zamannya. Bersama ibunya dia mendapat perlindungan seorang pemimpin kabilah Arab. Ayah angkatnya kemudian mengirimnya ke Baghdad untuk belajar di Universiti Nizamiyah yang terkenal. Pada tahun 1210 M dia memulai pengembarannya ke Kashgar, Asia Tengah, yang bersempadan dengan negeri Cina.

Di Baghdad dia antara lain belajar kepada Syeikh Syihabuddin al-Suhrawardi (w. 1234 M), seorang filosof dan sufi terkemuka. Pengalamannya pada masa mengajar dia rekam dalam Bustan. Masa hidup Sa`di sejak mendapat perlindungan dari pemimpin kabilah Arab sampai tahun 1226 penuh ketenangan dan kebahagiaan. Selanjutnya hari-harinya dilalui penuh kesukaran. Ketika bangsa Mongol telah menguasai negeri Cina, Asia Tengah dan sebagian besar negeri Islam di bagian timur.

Pada tahun 1252, cucu Jengis Khan yaitu Hulagu Khan membawa ribuan tenteranya ke Bagdhad untuk menghancurkan kota itu dan membunuh ratusan ribu penduduknya. Sa`di sedang berada di Baghdad tatkala tentara Hulagu memasuki kota tersebut. Suatu keajaiban terjadi – Sa`di dapat menyelamatkan diri dari pembantaian serdadu Mongol Setelah berhasil menyelamatkan diri Sa`di kemudian mengembara ke India, Hijaz, Yaman, Yerusalem, Mesir, Afrika Utara, Eropah, Anatolia dan Asia Tengah.

Untuk pertama kali Sa`di merekam pengalamannya selama menjadi pengungsi pada tahun 1226. Yaitu ketika propinsi Fars diserang tentara Mongol. Rekaman itu kemudian dijadikan Mukadimah karya agungnya Gulistan. Pada tahun 1256 M Sa`di kembali ke Shiraz. Tak lama kemudian dia menerbitkan bukunya Bustan, dan satu tahun kemudian disusul dengan Gulistan Sebagai pengembara.Sa`di telah mengunjungi banyak negeri seperti Balkh, Ghazna, Punjab, Somnath, Gujarat, Yaman, Hejaz, sebahagian Arabua, Abyssinia, Luban, Syria, Yerusalem, Mesir, Marocco, Anatolia, Balkan, Mediterania, Kazhgar dan Cina. Jalan laut dan darat telah dialaminya. Kadang-kadang dia berpakaian sebagai seorang darwish dan bercampur baur dengan rakyat jelata. Kadang bercampur baur dengan para saudagar dan mengikuti kafilah di gurun pasir, kadang menjadi buruh di kibutz orang Yahudi, dan pernah pula ditawan oleh tentera Perancis di Yerusalem tatkala Perang Salib mulai berkecamuk lagi, Pernah pula dia dikejar segerombolan pencuri arca emas di kuil Somnath, India.

Sa`di meninggal dalam usia yang sangat tua pada tahun 1292 M di Shiraz. Ketika dia wafat sudah banyak pemimpin dan raja Mongol memeluk agama Islam. Di antara raja Mongol pertama yang memeluk Islam ialah Ahmad Takudar (1282-1284 M) . Pada tahun 1294 M seluruh orang Mongol di Persia dan Iraq tak ketinggalan pula memeluk agama Islam, setelah raja mereka yang saleh Sultan Ghazan (1294-1304 M dan Uljaytu Khuda-Banda (1305-1316 M) memeluk Islam.

Sa`di menulis tidak kurang dari dua puluh buku, puisi dan prosa. Bahasa Sa`di sangat indah, khas bahasa golongan terpelajar. Beliau menguasai hampir semua bentuk persajakan dan gaya penulisan.

Salah satu bait prosa liriknya yang masyhur ialah seperti berikut l

Segenap ras manusia adalah anggota sebuah keluarga besar
Di atas segalanya mereka berasal dari hakekat yang sama
Jika kau tak pernah merasakan derita mereka yang teraniaya
Tak patut kau disebut bani Adam
All Adam’s race are member of one frame;
Sinc e all, at first, from the same essence came.
If thou feel’st not for others’ misery
A son of Adam is no name for thee

Dalam catatan pengembaraannya ia menulis antara lain sebagai berikut:

Aku mengembara ke berbagai belahan bumi ini
dan melalui hari-hariku bergaul dengan bermacam-macam orang.
Aku memetik manfaat-manfaat di setiap penjuru bumi,
dan mengutip sebutir gandum setiap menuai hasil tanaman.

Tetapi tidak pernah kujumpai orang yang saleh dan alim seperti si bijak dari Shiraz—semoga rahmat Tuhan melimpah di atas negerinya —
negeri yang mengikat hatiku dan membawa jauh hatiku ke Syria dan Turki.
Aku menyesal karena mesti pergi daripada taman dunia ini
tanpa membawa sesuatu apa pun untuk teman-temanku,
dan fikirku: ‘Para musafir membawa gula daripada Mesir sebagai hadiah untuk teman-teman mereka’.

Walaupun aku tidak punya gula,
aku memiliki kata-kata yang lebih manis.
Gula yang kubawa tidak untuk dimakan,
tetapi orang yang mengetahui kebenaran
akan mengambilnya penuh hormat.

Kemudian kata Sa`di lagi: Pada tahun 655 H kekayaan yang masyhur ini pun lengkaplah dengan mutiara pembicaraan yang fasih. Sebuah jubah tebal dari sutra hasil sulaman orang-orang Cina yang indah.
Karya Sa`di merupakan perpaduan puisi dan falsafah, ditulis dengan pemikiran yang dalam dan kecakapan sastra yang tinggi. Di dalam buku ini masalah akhlaq lebih banyak dibicarakan, keseluruhan kandungannya membentuk sebuah ringkasan falsafah moral, sendi-sendi ajaran agama dan pesan kerohanian yang abadi dan relevan sepanjang zaman.

Pandangan Sa`di tentang pentingnya moral dan kewajiban mengamalkan perbuatan baik kepada sesama manusia, tanpa memandang ras, bangsa, agama dan kaum, ada pada bab pertama bukunya. Kata beliau, “Agama berlaku sama dalam pelayanan terhadap manusia; itu tidak akan ditemui pada tasbih, tikar sembahyang atau pakaian yang bersahaja.” Bab I Sa`di menggambarkan seorang raja/pemimpin negara yang ideal menurut Islam, kewajiban raja kepada para pembantunya, pentingnya menggunakan pertimbangan yang matang dalam memutuskan perkara kenegaraan, kewaspadaan untuk tidak mengikuti perkataan tukang fitnah yang dapat merugikan diri sendiri dan kerajaan, kemuliaan raja yang berjiwa faqir dan lain-lain. Dalam nasihatnya yang ditujukan kepada Abu Bakar, Sa`di menulis: “O Raja, jangan hiasi dirimu dengan pakaian kerajaan apabila kau sedang beribadah, buatlah permohonanmu seperti permohonan seorang darwis yang berkata, ‘Ya Tuhan! Kekuatan dan kekuasaan hanya milik-Mu. Apabila bukan kerana pertolongan-Mu yang mendukungku, apa yang kuperolehi?…Jika engkau memerintah pada siang hari, berdoalah dengan sungguh-sungguh pada malam hari, hamba-hambamu yang berbakti menunggu di pintumu, maka itu berbakti pulalah engkau dengan bersembahyang di hadapan pintu Tuhan”. Dalam Nasihat Raja Nusyirwan kepada anaknya, Sa`di memberi ingat bahwa rakyat bagaikan akar dan raja bagaikan pohon, dan pohon memperolehi kekuatan daripada akar. Dalam kisah tersebut Raja Nusyirwan menasihati anaknya, “Cintailah orang miskin dan jangan mencari kesenangan untuk dirimu sendiri. Penggembala tidak semestinya cuai apabila ada serigala berhampiran dengan domba-domba. Lindungilah orang-orang miskin kerana seorang raja memakai mahkota demi rakyatnya.” Dalam kisah tentang Pengembara Sa`di memberi ingat agar seorang raja menghormati para saudagar dan musafir yang datang dan pergi ke dan dari negerinya, kerana merekalah yang membawa nama baik kerajaannya ke negeri-negeri lain. Menurut Sa`di seorang raja dapat memerintah dengan baik dan membawa kerajaannya menjadi sejahtera apabila para pemimpinnya mencintai dan adil terhadap rakyatnya. Ini dikemukakan dalam Kisah Darius dan Penggembala. Kisah ini menceritakan bagaimana seorang penggembala kuda dapat lebih arif dibanding raja Darius yang cepat berang dan marah, dan setiap kali melihat seseorang datang kepadannya dianggap oleh raja sebagai musuhnya. Sa`di menyindir dalam kisah itu, “Kehancuran akan mengakibatkan penderitaan terhadap suatu kerajaan apabila kebijaksanaan penggembala melebihi kebijaksanaan rajanya.” Sindiran dan kritikan Sa`di yang berkenaan kehidupan beragama dalam masyarakat sezamannya dapat dilihat dalam dua kisah dalam Bab III: Tentang Ketabahan Cinta membuatmu tidak sabar dan selalu merasa terganggu. Dengan keikhlasanmu itu berarti kau telah meletakkan kepalamu di kaki-Nya dan melupakan dunia. Apabila kekayaan tidak punya erti dalam pandangan Kekasihmu, maka emas dan debu tidak ada bezanya bagimu. Dia selalu ada dalam mata, apabila matamu tertutup, Dia akan hadir dalam fikiranmu. Apabila Dia menghendaki hidupmu, letakkanlah hidupmu pada tangan- Nya, apabila Dia meletakkan pedang di atas kepalamu, kau jangan menghindar. Cinta dunia menerbitkan kebingungan. dan sekaligus ketaatan, maka jangan hairan apabila para musafir dalam jalan Tuhan karam dalam Lautan Hakikat ini! Dalam mengingat Tuhan, mereka mebelakangkan dunia; mereka begitu terpikat oleh Pembawa Piala (Saqi) tempat mereka menuangkan anggur. Tidak ada ubat yang dapat menyembuhkan sakit mereka, kerana tidak satu orang pun yang mengetahui penyakit mereka. Gunung hancur lebur disebabkan jerit rindu mereka; kerajaan porak poranda kerana ratap tangis mereka. Sedu sedan mereka pada waktu fajar menyucikan kotoran mata mereka. Siang dan malam mereka tenggelam dalam lautan cinta. Begitulah keadaan mereka sehingga tidak mengenal siang atau malam. Mereka jatuh cinta kepada keindahan Penciptanya sehingga mereka tidak mempedulikan keindahan ciptaan-Nya. Mereka minum anggur suci Yang Maha Esa sehingga mereka lupa masa kini dan masa datang. Catatan: ‘Meletakkan kepala di kaki-Nya’ merujuk kepada posisi sujud dalam sembahyang. Bandingkan dengan sajak Rumi, “Kini kulihat kekasihku…” Perkataaan “Apabila matamu tertutup, Dia akan hadir dalam fikiranmu” merujuk kepada tafakkur atau meditasi. Ungkapan “Apabila Dia meletakkan pedangmu, kau jangan menghindar” merujuk kepada perintah Tuhan kepada Nabi Ibrahim a.s. untuk mengurbankan putranya Nabi Ismail a.s. dan apabila Nabi Ibrahim a.s. melaksanakan perintah itu maka Tuhan menggantikan Nabi Ismail a.s. dengan seekor domba. Peristiwa ini melandasi pelaksanaan Idul Adha atau Hari Raya Qurban pada bulan Haji. Ungkapan “Gunung hancur lebur oleh jeritan rindu mereka” merujuk kepada hancurnya Thursina pada waktu Nabi Musa a.s. mendengar suara Tuhan sebagai jawaban terhadap jeritan dan permohonan Nabi Musa a.s. Kisah Orang Yang Rajin Sembahyang Seorang tua melewatkan malam dan pagi harinya dengan sembahyang dan bertasbih memuji-Nya. Malaikat berbisik kepadanya, “Bangkitlah! Tentukan jalan hidupmu, kerana sembahyangmu tidak diterima pada pintu ini!” Pada malam selanjutnya dia mengulang perbuatan itu; dan seorang murid yang mengetahui perbuatannya, berkata: “Apabila kau tahu pintu itu tertutup, mengapa kau tetap berikhtiar membukanya?” Dia menjawab seraya meratap, “O muridku! Tidakah kau mengetahui bahawa aku akan selalu berpegang pada pelana kudaku, walaupun Dia mengambil tali kekangku? Apabila seorang pemohon ditolak di pintu yang satu, apakah yang dapat membuatnya takut jika dia mengetahui bahawa ada pintu lain? Dia mengatakan itu dengan bersujud, malaikat membisikkan perkataan ini, “Walaupun tidak ada pahala untukmu, sembahyangmu diterima, kerana hanya Dia tempat kau berlindung.” Dalam Kisah Seorang Penipu dalam bab IX dapat dilihat bagaimana Sa`di menempatkan pesan kerohanian dan moral dalam kisah-kisah perumpamaannya. Gaya yang digunakan ialah gaya seorang penyair: Seseorang merampok uang dengan cara menipu, dan pada suatu saat selepas dia melakukan salah satu perbuatan jahatnya, maka dikutuknya syaitan. Syaitan berkata: “Tidak pernah kulihat orang bodoh seperti ini! Kau bersekutu denganku secara sulit; mengapa kini kau menghunus pedang permusuhan kepadaku”? Waha! Malaikat akan mencatat kejahatan yang kaulakukan mengikut perintah syaitan. Masuklah apabila kau melihat pintu damai terbuka, kerana pintu penyesalan akan tertutup secara tiba-tiba. Beban dosa jangan kau tambah, O Anak, kerana seseorang yang memikul barang pada akhirnya akan kehabisan tenaga dalam perjalanannya. Nabi ialah perantara untuk orang yang mengikuti jalan ajaran-ajaran- nya. Unsur otobiografis dalam karya Sa`di telah dibahaskan. Kisah masa kanak-kanaknya sering memberinya ilham menuliskan kisah kecil yang mengandung hikmah seperti berikut: Sebuah Kenangan Pada Masa Kanak-kanak Pada waktu aku masih kanak-kanak, pada hari raya Aidil Fitri, aku pergi keluar rumah bersama ayahku dan di antara keramaian orang yang berlalu lalang aku terpisah daripada ayahku. Aku menangis ketakutan; tiba-tiba ayahku mencubit telingaku dan berkata: “Berapa kali telah kukatakan kepadamu agar jangan melepaskan ujung jubahku!” Anak kecil tidak tahu caranya pergi sendiri, sukar untuk bepergian di jalan yang tak nampak. Engkau, hai orang malang, bagaikan anak kecil yang berusaha berjalan sendiri; pergilah, pegang hujung jubah orang arif. Jangan duduk bersama-sama si nista, tetapi eratkan peganganmu pada tali kekang orang yang alim. Seperti Sa`di, pergilah, himpunlah biji kearifan agar kau peroleh panen pengetahuan yang melimpah. (Abdul Hadi W. M.)

Demikian pembahasan tentang beberapa aspek daripada Bustan karya Sa`di. Bibliografi A. Hart Edward. The Bustan of Sa`di. Lahore: SH Muhammad Ashraf, 1980. Edward B. Eastwick. The Rose-Garden of Sheikh Muslihu’d-din Sadi  of Shiraz. London: Octagon Press, 1979. A. J. Arberry. Classical Persian Literature. London: George Allen & Kegan Paul Ltd., 1967. Edward G. Browne. A Literary History of Persia. Vol. II. Cambridge: Cambridge University Press, 1969.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: