Home > Uncategorized > Wajah Perempuan Wajah Tuhan

Wajah Perempuan Wajah Tuhan

nopeKetika Abu Basir bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq sa., “Apakah Tuhan berkalam sejak azal-Nya?” Imam As bersabda, “Kalam Tuhan adalah hadis (tercipta). Tuhan ada sebelum Dia berbicara, setelah itu Dia menciptakan Kalam (Pena).

Dengan pena Tuhan mulai “menggambar” alam semesta dan menuliskan ketentuan takdir. Tapi mungkinkah Pena itu menulis tanpa Lembaran…? Menurut Ibn ‘Arabi, hanya lewat Pena dan Lembaran-lah alam semesta dan para makhluk tercipta. Jika Pena melambangkan laki-laki, maka Lembaran tersebut dapat ditafsirkan sebagai simbol perempuan. Kita tahu betapapun Pena itu tampak kuat dan perkasa, ia tetaplah terbatas. Sebaliknya, Lembaran Semesta tidak terbatas. Siapapun dapat menulis di atas Lembaran itu, karena pada dasarnya apa yang tertera di sana adalah tanda yang tak henti-hentinya diurai dan diinterpretasikan. Sebuah misteri.
Kata Ibn ‘Arabi, “Tuhan tak pernah terlihat dalam keadaan tak berwujud. Dan melihat-Nya dalam diri seorang perempuan adalah yang paling sempurna dari segalanya.”

Bagaimana mungkin seorang Ibn ‘Arabi mengatakan demikian, bila perempuan saat ini (terutama di negeri kita) menderita sekian banyak pelecehan dan diskriminasi…? Benarkah memandang perempuan itu merupakan pengalaman menyenangkan…? Kita pernah menatap foto seorang perempuan di media yang dianiaya juragannya di negeri tetangga. Sekujur tubuhnya mengelupas. Wajahnya hancur lebam. Satu-satunya yang bisa kita lihat cuma harapannya untuk hidup.

Kasus-kasus kekerasan lainnya yang ada ini, memperlihatkan betapa perempuan kini dalam ancaman.
Mungkin ungkapan di atas perlu direfleksikan dalam konteks tanggung jawab etis kepada yang lain. Wajah perempuan adalah wajah kerentanan. Kapitalisme saat ini “menjajah” Wajah itu lewat komodifikasi, lewat iklan dan advertensi. Sementara budaya patriarki bekerja mendistorsi Wajah itu lewat agama dan kultur tidak ramah pada perbedaan. Hal ini semua menjadi tantangan besar, betapa dalam kehidupan yang semakin terbuka seperti saat ini, kekerasan masih terus terjadi, dan para
korban umumnya adalah kaum perempuan.

Ibnu ‘Arabi dengan ajaran sufinya, ingin memberi kabar baik, bahwa dunia akan terasa indah bila dibangun dengan penghormatan dan rasa cinta kepada orang lain. Ketika hubungan gender tak lagi identik dengan kekerasan terhadap yang lain, maka barulah kita menangkap arti “kehadiran” Tuhan pada diri perempuan. Sebab kaum sufi yakin, Wajah perempuan sesungguhnya adalah penanda bagi Wajah Tuhan yang senantiasa hadir menghangatkan dunia dengan belaian kasih dan rahmat-Nya.

Ama@Cikole_Lembang 1 Des 2014

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: