Home > Uncategorized > Narsis : Pemuja Diri

Narsis : Pemuja Diri

hjb cntkNarcissus (dibaca Narkisos) adalah sosok makhluk setengah dewa. Sehari-hari, ia senang berburu. Wajahnya tampan sekali. Bahkan, untuk ukuran pejantan, ia lebih dekat dengan kecantikan. Ia lebih cantik dari dewi kecantikan. Ayahnya dewa ‘penguasa’ sungai dan ibunya seorang peri.

Satu hari, ia berjalan-jalan di hutan — sepertinya tokoh mitologi lama sangat senang jalan-jalan. Tiba-tiba Echo, sang peri pebukitan melihatnya. Echo jatuh cinta seketika. Ia terbius keindahannya. Ia tak kuasa melawan hasratnya. Ia tunduk mengendap-endap mengikuti setiap langkah si putra dewa.

Narcissus merasa ada sosok di belakangnya membuntutinya. Ia berpaling dan berteriak, “Siapa di sana?” Dan terdengar suara Echo menggema menjawab, “Siapa di sana?” Begitu berulang kali.

Akhirnya Echo memberanikan diri menyatakan cintanya, tapi ia ditolak, berulang kali. Hingga ia menyepi menjauhkan diri, meneriakkan cintanya dan lama-lama wujudnya tak bersisa, dirinya habis karena teriak rindunya. Yang ada tinggal gemanya saja. Karena itulah, Echo artinya gaung, gema. Dan konon, menurut cerita, Echo bukan korban yang pertama.

Nemesis, dewa pembalas dendam, gerah dengan ulah Narcissus. Ia memutuskan untuk menghukumnya. Ia buat jebakan, menggoda Narcissus untuk menghampiri sebuah danau. Di sana, ia dikejutkan oleh refleksinya sendiri dan jatuh cinta karenanya. Berjam-jam lamanya ia memandangi dirinya dan bersedih saat berpisah dari cerminannya. Ia tersiksa. Ia tak kuasa berpisah dari ‘wajahnya’ dan akhirnya memilih membunuh dirinya.

Ada beberapa versi dari kisah ini. Yang jelas, Narcissus sering menjadi sandaran atas munculnya istilah ”narsis” sebagai kekaguman atas diri sendiri. Bentuknya bisa beragam: mulai berdecak memuji, hingga senang ‘mengabadikan’ diri. Narsis adalah keinginan untuk memuaskan diri. Adakah ia salah? Ataukah ia justru sejalan dengan fitrah? Haruskah ia dihindari, atau justru dijalani? Dicerca, ataukah dipuja?

Jalaluddin Rumi, penyair besar itu pernah berkata, “li kulli syai’in lahu syahid, yadullu ‘ala annahu wahid” Ada saksi bagi segala sesuatu. Bahwa sungguh yang ada hanyalah satu. Kitab suci mengajarkan pada kita bahwa segala sesuatu adalah wajah Dia. Ke mana pun kita palingkan wajah kita, di sana ada bukti kebesaran Sang Pencipta. Masih menurut firman Tuhan itu, “Kami akan perlihatkan tanda kebesaran kami di seluruh ufuk (semesta) dan pada diri mereka sendiri…” Diri menjadi satu di antara sekian banyak tanda kebesaran Tuhan.

Lembang@10 Syawal 1435H

Tetap SEMANGAT Tetap SHALAWAT

~♥~اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ~♥~

Categories: Uncategorized Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: