Home > Uncategorized > Ramadhan : Lapar Bersama

Ramadhan : Lapar Bersama

MandiKAMPOENGSUFI | Lembang – Ada anak dan emak yang miskin di dekat rumah Dolob,, tiap hari menggendong rasa lapar kemana2,, mereka tak mengemis,, emak bekerja jadi tukang pungut beras tumpah di pasar,, anak umur enam tahun masih ingusan,, kadang Jarkoni sering kasih mereka makan, itupun tak mereka pasti terima,, karena martabat,, walau suami tukang pungut beras tumpah itu minggat,,,

Saat masuk ramadhan seperti ini,, anak dan emak itu senangnya bukan main,, sebab berjuta-juta orang akan mengalami rasa derita yang sama dengan mereka,,,

Tapi kemarin sore si anak bingung,, melihat orang2 berkelahi lidah,, ikut hilal apa hisab,, sabtu apa minggu,, anak bertanya pada emaknya,, kenapa mereka cuma sebulan tak makan siang saja ampuh tarik urat leher seperti seumur hidup akan kelaparan seperti kita??

Masuk sahur,, ibu menelan segelas air putih,, anak terbangun oleh suara perutnya sendiri,, tapi hanya angin yg bisa ia telan,, dan si anak penasaran,, ia lari ke rumah samping,, pasti juga menelan angin,, tapi mata anak terbelalak,, nasi hangat,, ikan segar,, telur berbutir’butir,, macam2 sambal,, sayur 17 macam,, susu panas,, pencuci mulut beraneka buah,,

Anak kolong zaman itu,, menelan ludah,, ia kecewa,, katanya puasa menahan diri,, dari apa??

Siangnya ia ke pasar,, ke mall,, ke bank,, ke kantor pemerintahan,, ke semua pusat penumpukan uang,, dan di sana,, semua manusia masih suka belanja,, licik dan saling sikut,,

Anak kolong zaman itu,, menelan ludah,, ia kecewa,, katanya puasa menahan diri,, dari apa??

Dia mampir pulangnya di gardu,, ah televisi kampung, ia buka semua stasiun,, amboi,, alimnya,, tapi setelah disaksikan isinya tetap saja pelacur yg mangkal tapi dibungkus baru agar tampak ikut ramadhan,,

Anak kolong zaman itu,, menelan ludah,, ia kecewa,, katanya puasa menahan diri,, dari apa??

Bedug magrib tiba,, dan aneka jajan pasar di embat ludes di pinggiran jalan,, si anak baru sadar,, sejak malam ia cuma telan angin,, pantas makin lemas,, di ujung jalannya yg rapuh,, datang malaikat penolong,,, dolob membawa satu kotak takjil dr masjid,,

“Kau makanlah ini ujang,,, aku tahu kau kelaparan,,!!”

“Bang dolob bagaimana?! Nasibmu tak jauh beda denganku bukan?!”

“Abang dolob memang senasib dengan kau,, tp abang ini punya kelicikan,, besok besar seperti akulah,, setahun lumayan ada sebulan kita bisa mampir ke tempat orang sembahyang,, ada kotak makanan dr Tuhan yg bisa kita telan,,!”

“Tak mau aku bang,, makanlah saja,,!”

“Ambillah ujang,, aku bisa balik ambil dua’tiga takjil lagi,,!”

“Aku tak mau sakit hati bang?!”

“Kenapa kau bilang begitu ujang?!”

“Mereka hanya ingat aku dalam sebulan,, setelah itu mrk lupakan,, aku cuma mereka butuhkan untuk di injak agar mereka bisa masuk surga krn kasih orang miskin makan hanya pada saat ramadhan,,,!”

“Jangan sombonglah kau ujang,, kalau mrk sama sekali tak kasih makan setahun bagaimana?!”

“Tak mengapa,, aku sudah hapal rasa lapar,, tak kaget apalagi heran,,!”

“Sialan kau ujang,, kau tampar aku punya nafsu dan pikiran bebal,, malu aku pada kau,,!”

“Syukurlah kalau abang dolob punya pikiran,,”

“Lalu bagaimana dgn kotak makanan ini,, siapa yg mau makan?!”

“Itu bang ada anjing lewat,, kasih ke dia,, siapa tau gara2 itu kita saat mampus kelak bisa masuk surga,, jadi bukan hanya orang kaya saja yg punya doa,,,”

^__^ …. \M/

  1. Edi Sampana
    5 July 2016 at 1:22 am

    harusnya nasi kotaknya dimakan saja. Tanda bersyukur. Yang memberi takjil juga tidak gembira kalau ia mendengar makanan tadi diberikan ke anjing

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: