Home > Uncategorized > Cinta itu Ada di Sekelilingmu

Cinta itu Ada di Sekelilingmu

Film MuslimKAMPOENGSUFI | Bandoeng – Sebagai seseorang yang mendapat amanah untuk menjadi dosen mata kuliah Psikososial Kompleks di Fakultas Kedokteran Unisba, penulis berkewajiban menghantarkan para mahasiswa untuk lebih memahami realitas psikososial yang dihadapi oleh para calon mitranya kelak. Secara teoretis kondisi psikososial akan sangat memengaruhi profil kesehatan suatu masyarakat atau komunitas. Agar para mahasiswa dapat lebih menghayati kandungan dari mata kuliah yang mereka ikuti, penulis merancang bentuk perkuliahan yang dapat dikategorikan sebagai authentic problem based learning, alias belajar dari kehidupan sesungguhnya.

Untuk itu, pada kesempatan pertama, sekitar 40 orang calon dokter diajak untuk mengobservasi kehidupan urban. Proses observasi dilakukan dengan mengamati profil penumpang kereta rel diesel (KRD) kelas ekonomi dengan jurusan Bandung-Cicalengka.

Mengapa dipilih kereta ini? Dengan menumpangi KRD, kita dapat mengamati banyak hal sekaligus, perubahan ekosistem dari daerah pusat kota sampai dengan tumbuhnya kota-kota satelit dan semakin menyusutnya areal lahan hijau. Kita pun dapat mengamati karakter dari beragam penumpang dan pengguna jasa KRD lainnya.

Keempat puluh calon dokter ini tampak sangat modis dan harum. Mereka menjadi pemandangan aneh di Stasiun Bandung, terlebih pada saat mereka antri tiket KRD ekonomi, raut wajah sang petugas tiket nyata sekali mencerminkan keheranan. Setelah menunggu beberapa saat, KRD tak kunjung menampakkan “batang hidungnya”, padahal menurut petugas yang ditanyai, semestinya KRD, apabila sesuai jadwal akan berangkat dari Stasiun Bandung pukul 10.30.

Kegelisahan dan ketidaknyamanan mulai tampak menghiasi wajah-wajah para calon dokter. Mereka berulang kali bertanya, mana kereta yang akan mereka tumpangi. Akhirnya, dari arah barat masuklah serangkaian kereta dengan gerbong dicat biru oranye yang telah lusuh dan dihela oleh sebuah lokomotif diesel tua berseri BB 303 17. Kecemasan sepintas membayang di wajah para calon dokter itu, seolah tak percaya bahwa inilah kereta api yang harus mereka naiki.

Di dalam rangkaian gerbong tersebut tampak penuh sesak dengan aneka jenis penumpang. Ada yang duduk dan lebih banyak lagi yang berdiri bergelantungan. Perjuangan untuk menaiki kereta pun dimulai, karena waktu singgahnya yang singkat maka setiap penumpang yang ada di emplasemen stasiun berusaha keras untuk masuk terlebih dahulu.

Dalam kondisi seperti ini, seorang manusia akan lebih memprioritaskan kepentingan dirinya terlebih dahulu. Bahkan keinginan untuk mengamankan kepentingannya ini mampu merobohkan norma, etika, dan rasa belas kasihan. Banyak orang tua didesak begitu saja oleh sekelompok penumpang yang jauh lebih muda, sehat, dan kuat. Setiap orang berusaha semampunya agar tidak tertinggal kereta api.

Setiba di bagian dalam gerbong suasana semakin hiruk pikuk, setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Setelah mendapat tempat berdiri yang cukup nyaman mulailah pandangan ditebarkan ke sekeliling gerbong.

Subhanallah, alangkah beragamnya para penumpang KRD ini. Ada seorang ibu yang sebelah matanya ditutup perban (mungkin pasca menjalani operasi katarak), tak terhitung banyaknya ibu-ibu yang membawa anak kecil (usia balita), demikian pula dengan kakek-kakek dan bapak-bapak yang terlihat keletihan dan terdiam terpekur dalam lamunannya masing-masing. Salah seorang mahasiswa penulis melaporkan bahwa ada satu keluarga muda yang memanfaatkan perjalanan dengan KRD ini sebagai ajang silaturahmi keluarga yang penuh kehangatan.

Hal yang paling menghebohkan, adalah banyaknya orang yang menjadi kreatif dalam mempertahankan kehidupan (how to survive). Banyak sekali pedagang yang lalu-lalang di dalam kereta dan menawarkan berbagai jenis barang yang, bahkan sama sekali, sering di luar dugaan kita. Ada pedagang minuman, buah mangga, camilan, ali agrem atau donat Sunda, kaitan penggantung gorden, lem cucurut (kecoa), lakban, hekter, klip, baterai jam tangan, sampai voucher isi ulang dan perdana juga ada. Lalu, dapat dijumpai pula serombongan pengamen, pengamen tuna netra, dan juga pengamen karaoke dangdut. Semua berjuang dan bekerja keras.

Malah ada satu peristiwa yang sangat menarik, saat penjual ali agrem yang dagangannya masih sangat banyak dan kurang laku, dihampiri oleh seorang pedagang koran yang dagangannya tampak laris. Pedagang koran ini minta dibungkuskan beberapa ali agrem dan membayarnya kontan. Tampaknya solidaritas semacam ini, telah berkembang menjadi budaya yang sangat kokoh di kalangan kaum yang disebut “terpinggir” ini.

Setiap butir peluh yang meleleh dan setiap aroma asam yang menguar dari tubuh-tubuh mereka yang penat seolah menjadi zat kimia pemersatu yang melekatkan hati dan merapatkan jiwa dalam hangatnya kebersamaan. Mereka bahu membahu mengurai simpul-simpul kesulitan hidup yang rumit.

Keempat puluh calon dokter itu tertegun, dalam gerbong yang penuh sesak itu. Mereka membayangkan betapa dengan mudahnya Mycobacterium tuberculose (TBC) berlompatan dari satu saluran napas ke saluran napas yang lain. Jamur kulit bersuka ria menumbuhkan spora-spora dan hyfa-nya di antara kulit-kulit yang bergesekan. Andai ada virus semacam flu burung, maka satu kereta ini menjadi rumah barunya. Sungguh suatu ironi, di mana kelelahan sendi-sendi lutut dan tulang belakang karena banyak berdiri dan menghirup udara polusi yang kaya radikal bebas dan miskin oksigen akan menuai badai rematik di usia senja.

Salah seorang mahasiswa penulis termangu saat penulis menanyakan bagaimana sekiranya ada salah seorang penumpang di kereta ini mengalami serangan asma?

Kejutan terindah yang kami alami adalah ketika satu scene film besutan Allah Ta’ala, Sang Sutradara Agung diputarkan di hadapan kami. Dengan musik latar pengamen buta muda belia menyanyikan lagu Ungu dengan suara sengau mendayu, “Allahu Akbar … Allah Mahabesar ….” Kemudian seorang nenek renta memunguti botol dan gelas-gelas plastik air kemasan dan memasukkannya ke dalam kantong. Ia akan mendapatkan seribu-dua ribu rupiah dari upayanya di kereta itu, tetapi ia akan mendapatkan miliaran ganjaran kelak di surga sana. Betapa tidak, perbuatannya itu menyelamatkan kita dari kerusakan lingkungan dan merosotnya akhlak untuk bekerja keras dan mensyukuri nikmat hidup yang telah diberikan.

Nenek itu adalah “orang suci” yang sudah sewajarnya dijadikan teladan bagi keempat puluh calon dokter yang ikut dalam perjalanan kali ini.

Bandung dan kantong-kantong permukimannya mungkin belum ideal bagi sebagian besar warganya, tetapi dengan kemampuan mensyukuri nikmat dan memanifestasikan doa dalam bentuk aktif berupa upaya maksimal untuk mengoptimalkan kondisi yang diterima saat ini, insya Allah para “stake holder” KRD ini juga akan menumpang kereta yang sama ke surga.

Dalam pengapnya himpitan kehidupan dan sistem yang mungkin membonsaikan cinta, justru cinta dan bahagia tumbuh dengan suburnya. Cinta itu bagaikan lumut, ia menghijau indah di permukaan sebuah batu yang kasar, keras, dan kelabu. Dengan cinta, batu itu jadi berwarna, indah dalam tegarnya, dan tegar dalam indahnya.

Terkadang, banyak hal yang luput kita rasakan dan gagal kita orbitkan menjadi sebuah kebahagiaan. Akan tetapi, bagi banyak orang lain yang bernapas dalam pengapnya himpitan kehidupan, kehadiran para gadis cantik calon dokter pada suatu siang di sebuah gerbong yang panas membekap adalah kebahagiaan. Sang nenek pengumpul botol air kemasan sepanjang hidupnya belum pernah melihat mojang-mojang cantik kecuali dalam sinetron di TV tetangga, siang itu dia merasa bahagia. Satu hari indah telah dihadirkannya.

Dihadirkannya? Ya, karena kebahagiaan, keindahan, dan cinta sesungguhnya kitalah yang diberi hak dan kewajiban untuk menghadirkannya dalam kehidupan. Jangan salahkan siapa-siapa jika cinta dan bahagia tak kunjung datang menyapa. Mungkin kita terlalu “jutek” baginya, sehingga dia kehilangan keberanian untuk menghampiri kita. Jika kita mampu mendapat manisan dalam hidup, mengapa kita terus-menerus menelan “asam cuka?” Jangan “asam” pada kehidupan karena dia akan ikut terfermentasi pula, akibatnya kita seolah akan tinggal dalam sebuah toples yang berisi aneka buah-buahan, tapi sayangnya masam semua!

Cihampelas 130, 19 Juni 2014
(Saat spanyol tersungkur di Piala Dunia 2014..HAHAHAHA!)

Tetap SEMANGAT Tetap SHALAWAT
~♥~اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ~♥~

  1. 22 August 2014 at 4:25 pm

    I read this article completely concerning the difference of latest and
    earlier technologies, it’s remarkable article.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: