Home > Uncategorized > Pembagian Rejeki Tuhan

Pembagian Rejeki Tuhan

Rus 11 OKPukul 10 pagi, dokter memasuki ruang pasien yang didalamnya terdapat 10 ranjang yang diatasnya terbaring 10 pasien dengan penyakit yang berbeda-beda. Bersama perawat, dokter mendatangi pasien satu-satu.

Beliau berkata, untuk pasien A untuk makan siangnya berikan dia nasi dan daging. Untuk pasien di sampingnya, berikan dia bubur. Untuk pasien ketiga berikan dia buah dan obat suplemen. Yang disampingnya jangan berikan makanan apa-apa, cukup beri suntikan sesuai dengan resep yang telah saya tulis. Satunya cukup diberi segelas susu saja dan begitu seterusnya sampai pasien kesepuluh. Perawat mencatat perintah dokter dengan baik untuk diserahkan kebagian konsumsi untuk menyediakan makanan pasien sesuai petunjuk dokter.

Mendengar perintah dokter tersebut, meskipun memberikan arahan yang berbeda satu sama lain, tidak ada satupun pasien yang protes. Sebab mereka percaya, dokter lebih mengetahui kondisi kesehatan mereka dan tahu jenis makanan yang layak mereka konsumsi untuk membantu proses penyembuhan mereka. Dan jika saja, saat itu ada diantara pasien yang protes, “Mengapa untuk saya hanya disediakan bubur sementara yang lain ada yang dikasih nasi lengkap dengan lauknya?” maka dokter akan paham, pasien tersebut bukan hanya sakit secara fisik namun juga secara mental.

Demikian pula semestinya kita bersikap, ketika Allah menurunkan dan membagikan rezekinya. Kalau kita protes, “Mengapa untuk dia Kau beri rumah yang besar dan mewah, sementara untuk saya, rumah yang sekedar memenuhi syarat kelayakan saja tidak Kau beri.” Posisi kita, sama dengan pasien yang bukan hanya bermasalah secara fisik namun juga kejiwaan.

Kita tidak mengetahui hikmah dibalik pemberian Tuhan itu. Kita seharusnya paham, sebagaimana para pasien pahami, sehingga mereka tidak protes pada arahan dokter. Kitapun tidak selayaknya protes terhadap apa yang Allah putuskan. Lakukan apa yang sudah menjadi kewajiban kita, hasilnya pasrahkan pada keputusan Allah SWT.

[Nasehat almarhum Ayatullah Mujtahidi rahimahullah, ulama besar Iran, semoga Allah SWT melapangkan kuburnya dan membahagiakan hatinya]

Categories: Uncategorized
  1. hikmahyahya
    7 March 2014 at 11:50 am

    Reblogged this on alwayshikmah and commented:
    Tuhan adalah Pencipta kita dan Mahaadil..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: