Home > Uncategorized > Jika Kamu Berdosa!

Jika Kamu Berdosa!

Dwiوَالَّذينَ إِذا فَعَلُوا فاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَ مَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللهُ وَ لَمْ يُصِرُّوا عَلى ما فَعَلُوا وَ هُمْ يَعْلَمُونَ
أُولئِكَ جَزاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَ جَنَّاتٌ تَجْري مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهارُ خالِدينَ فيها وَ نِعْمَ أَجْرُ الْعامِلينَ
 “

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Q.S. Ali Imran : 135-136).

Muadz bin Jabal mendatangi Rasulullah saaw sambil menangis tersedu-sedu. Dia mengucapkan salam kepada Rasulullah saaw dan beliau menjawabnya. Kemudian beliau bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Muadz?” Muadz menjawab, “Wahai Rasulullah saaw! di depan pintu ada seorang pemuda yang bersih badannya, putih kulitnya, tanpan wajahnya, sedang menangis seperti tangisan anak kecil yang kehilangan ibunya. Dia ingin menemui engkau.” Nabi saaw berkata, “Suruh masuk pemuda itu.” Muadz pun membawa pemuda itu masuk menjumpai Rasulullah saaw dan mengucapkan salam kepadanya. Rasulullah menjawab salamnya dan berkata, “Apa yang membuatmu menangis wahai pemuda?” Pemuda itu menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, aku telah melakukan banyak dosa. Kalau saja Allah membalas sebagian dosa itu, pasti aku masuk neraka jahanam. Aku tidak memandang kecuali Allah akan membalas semua dosa-dosaku dan tidak mengampuni aku selamanya.

Rasulullah saaw bertanya, “Apakah engkau mempersekutukan-Nya?” Pemuda itu menjawab, “Aku berlindung kepada Allah untuk mempersekutukan-Nya dari sesuatu pun.” Rasulullah saaw bertanya kembali, “Apakah engkau membunuh seseorang yang diharamkan Allah untuk membunuhnya?” Pemuda itu menjawab, “Tidak!”

Rasulullah saaw bersabda, “Allah akan mengampuni dosa-dosamu meskipun sebesar gunung yang menjulang ke langit.” Pemuda itu berkata, “Dosaku lebih besar daripada gunung.”

Rasul saaw berkata, “Allah akan mengampuni diosa-dosamu meskipun sebesar tujuh lapis bumi berikut lautan, pasir, pohon, dan segala yang ada padanya.” Pemuda itu menjawab, “Dosaku lebih besar daripada gunung itu.”

Rasul saaw berkata, “Allah akan tetap mengampuni dosamu meskipun sebesar langit, berikut bintang gemintang, dan singgasana dan kursi-Nya.” Pemuda itu menjawab, “dosaku lebih besar dari itu.”

Mendengar hal itu, wajah Rasul saaw marah, kemudian berkata, “Celaka engkau wahai pemuda. Apakah dosamu yang lebih besar atau Tuhanmu?” Maka tersungkurlah pemuda itu sambil berkata, “Maha suci Allah, Tuhanku, tidak ada sesuatu pun yang lebih besar daripada Tuhanku.” Rasul saaw berkata, “wahai pemuda yang celaka, beritahukanlah kepadaku dosa yang kau perbuat.”

Pemuda itu menjawab, “Baiklah akan kuberitahukan kepadamu. Dulu selama tujuh tahun, pekerjaanku adalah menggali kuburan. Jika ada yang meninggal aku mengeluarkan mayatnya dan mengambil kafannya. Pada suatu hari, ada seorang gadis anshar meninggal dunia dan dikuburkan. Pada malam hari, aku mendatangi kuburannya, kugali dan kukeluarkan dia, lalu kuambil kain kafannya. Setan membujuknya untuk menggaulinya, dan akupun menggaulinya kemudian kutinggalkan dikuburannya. Saat itu aku mendengar suara, “Wahai pemuda, celakalah engkau dihadapan Allah pada hari kiamat kelak. Pada hari di mana engkau akan diperlakukan seperti diriku ini. Engkau meninggalkan diriku telanjang di tangah-tengah orang mati, engkau keluarkan aku dari kuburku, engkau ambil kafanku, dan engkau meninggalkan aku dalam keadaan junub sampai hari hisab nanti. Celakalah engkau wahai pemuda, tempatmu di neraka.” Setelah itu, aku tidak pernah mengira untuk mencium bau surga selamanya. Bagaimana pendapatmu wahai Rasulullah saaw?”

Rasul saaw berkata kepadanya, “Enyahlah engkau dari sisiku wahai orang fasik. Aku takut akan terbakar bersama apimu. Alangkah dekatnya dirimu dengan api neraka.”

Maka keluarlah pemuda itu. Lalu ia pergi dari Madinah sambil membawa bekal menuju gunung. Dia beribadah dan tinggal di sana, dan selalu menggantunkan tangannya di lehernya. Dia menangis, berdoa, merendahkan dirinya di hadapan Allah, selama empat puluh hari. Setelah itu ia menengadahkan tangannya ke langit sambil berdoa, “Ya Allah!, tidakkah Engkau bisa melakukan sesuatu untuk memenuhi hajatku? Jika Engkau mengabulkan doaku, maka ampunilah segala kesalahanku dan berilah wahyu kepada Nabi-Mu. Jika Engkau tidak mengabulkan doaku dan tidak mengampuni diriku, dan Engkau ingin menghukumku, maka segerakanlah hal itu. Bakarlah diriku dengan api atau azablah aku di dunia ini sekarang juga, tetapi selamatkanlah aku dari siksaan di hari kiamat nanti.”

Lalu Allah menurunkan wahyu kepada Nabi saaw, “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Q.S. Ali Imran : 135-136).

Tatkala ayat ini turun, Rasul saw tersenyum dan berangkat menemui pemuda tersebut di gunung dan menyampaikan kabar gembira bahwa Allah telah mengampuninya. Kemudian beliau bersabda kepada para sahabatnya, “Beginilah jika kamu berdosa; seperti yang dilakukan oleh pemuda ini,” lalu Rasulullah saaw membacakan ayat di atas.

Tobat (taubah) secara bahasa berarti ar-ruju’ yang berarti kembali. Karena itu sebagian ulama mendefenisikan tobat sebagai “ar-ruju’ minal mukhalafah ilal muwafaqah”, kembali dari menentang Allah kepada ketaatan pada perintah Allah. Adapun secara terminologis syariat Rasulullah saaw bersabda, an-nadamu taubatun, penyesalan adalah tobat. Dalam riwayat lain beliau bersabda, “Tobat nashuha adalah penyesalan atas suatu dosa ketika terlepas darimu (yakni melakukannya karena khilaf), lalu engkau memohon ampunan kepada Allah, kemudian engkau tidak kembali lagi kepadanya selamanya.” Pintu ilmu Nabi, Ali as berkata, “Tobat memiliki empat rukun, yaitu : penyesalan dengan hati (an-nadamu bil qalbi), istighfar dengan lisan (istighfar bil lisan), beramal dengan anggota badan (amalu bil jawarih), dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa (azmu an la yaud).” (Raysyahri, Ensiklopedi Mizan al-Hikmah Jil.1, hal. 357-358). Jadi, tobat bagi rasulullah saaw dan Imam Ali as adalah penyesalan atas dosa-dosa. Orang yang berbuat dosa atau maksiat kemudian dia menyesal dengan segenap jiwanya, maka dia telah memasuki pintu pertobatan. Dari sini Abdurrahman Aiji dalam Syarah al-Mawaqif menyebutkan bahwa tobat adalah “an-nadam ‘alal ma’shiyah min haitsu hiya ma’shiyah ma’a azmin an la ya’uda ilaiha idza qadara”, penyesalan atas maksiat sebagaimana hal itu diyakini sebagai perbuatan maksiat disertai tekad yang kuat untuk tidak mengulainya lagi ketika masih memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Makna di atas menjelaskan dengan baik persoalan tobat. Tobat dikatakan “penyesalan atas maksiat” (an-nadam ‘alal ma’shiyah), menunjukkan penyesalan atas suatu perbuatan yang bukan maksiat, yang halal, atau ketaatan kepada Allah tidak disebut tobat. Selain itu, disyaratkan pula meninggalkan maksiat itu dikarenkan keyakinan bahwa perbuatan itu memang maksiat dan dilarang oleh Allah swt. Karenanya, jika orang meninggalkan suatu perbuatan maksiat tanpa keyakinan kemaksiatannya tidaklah dinilai sebagai tobat. Misalnya, orang yang tidak lagi meminum minuman keras karena telah menjadi tokoh masyarakat, terkena penyakit, atau merugikan hartanya, bukan karena menganggapnya maksiat (dosa) maka secara syariat, sesuai defenisi di atas tidak dianggap bertobat. Inilah makna “sebagaimana hal itu diyakini sebagai perbuatan maksiat” (min haitsu hiya ma’shiyah).

Kemudian, kalimat “disertai dengan tekad yang kuat” (azm) menunjukkan bahwa penyesalan itu tidak bermakna tanpa disertai niat dan usaha yang serius untuk tidak mengulangi perbuatan maksiatnya dalam bentuk apapun.

Adapun, ungkapan “ketika masih memiliki kemampauan” (idza qadara) bermakna orang yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan maksiat, seperti orang tidak lagi berzina karena sudah dikebiri, maka niatnya meninggalkan maksiat tidak bernilai tobat. Meskipun tentu saja sah tobatnya (lihat al-Mujahidi, Jangan Tobat, 2007: 59-63). Karena itu, bagi kita-kita yang merasa pendosa, cepatlah betobat selagi tenaga masih mantap, pikiran masih dahsyat, dan badan masih kuat. Jangan menunda-nundanya sampai tenaga mulai lemah, pikiran mulai lelah, dan badan sudah “bau tanah”. Allah berfirman dlm Q.S. Ali Imran : 133, “Bersegeralah kamu menuju ampunan Tuhanmu, dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (CR/liputanislam.com)

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: