Home > Uncategorized > Jiwa yang Sehat

Jiwa yang Sehat

Jeruk
Jika sebuah pohon yang memiliki akar dan batang yang sehat dikarenakan sesuatu hal atau mengakibatkan buahnya berjatuhan, daunnya berguguran, batang dan rantingnya menjadi patah, bunganya berguguran karena udara dingin atau yang serupa dengan itu.

 Tentunya kejadian ini walaupun sangat disayangkan namun tidak menciptakan kesedihan, mengapa demikian? Sebab jika pohon itu dalam keadaan sehat maka untuk kesekian kalinya dia akan berdaun, berbunga, dan berbuah lagi. Dengan menyaksikan peristiwa ini, manusia berhak membesarkan hatinya dengan mengatakan, “yang penting pohon itu sehat”.

Dalam hal ini wujud manusia juga tidak berbeda dengan sebuah pohon yang dapat memberikan faedah. Jika manusia itu sehat dan tidak mempunyai cacat niscaya dia akan lebat, berbunga, menjadi tempat berteduh benda-benda yang berada di bawahnya dan melindungi orang-orang yang berlalu di bawahnya dari sengatan matahari. Namun sebagaimana juga pohon, mungkin berbagai peristiwa yang tidak terduga akan dialami manusia.

Bertahun-tahun seorang manusia bersusah payah dan sedikit demi sedikit mengumpulkan hasil jerih payah dari keringatnya, narnun tiba-tiba karena suatu peristiwa yang tidak terduga maka seluruh hasil jerih payah keringatnya itu sirna. Kefakiran telah menjadikan dia tidak berdaun dan berbunga. Peristiwa-peristiwa seperti hilangnya kekayaan dunia, terbakarnya dan banyak lagi peristiwa pahit yang sejenis, walaupun ini membawa kekecewaan namun bagi satu jiwa yang sehat dan penuh dengan pengharapan tidak akan mendatangkan kesedihan yang berkepanjangan.

Demikian pula satu tubuh yang masih muda dan sehat, tatkala mendapat Iuka, hal itu tidak menyebabkan kekhawatiran karena kelak Iuka itu akan sembuh kembali. Sementara badan yang sakit, misalnya yang terkena penyakit gula, dia memerlukan waktu lama untuk menyembuhkan satu Iuka yang kecil sekalipun. Demikian pula jiwa yang sehat dan aktif dia akan mampu memenuhi setiap kekurangannya.

Musibah betul-betul teradi tatkala kerusakan menimpa akar dari satu pohon. Jika hal ini terjadi maka usaha untuk melindungi tangkai buah dan daun itu tidak berguna lagi. Demikian, tatkala seorang manusia dari segi jiwa dilanda oleh perasaan apatis, atau memilki pandangan yang jelek terhadap kehidupan dunia ini, serta dia merasa sendiri dan merasa tidak mempunyai teman tempat berbagi rasa, maka manusia yang seperti ini tidak akan lagi memberi manfaat buat dirinya sendiri apalagi untuk orang lain. Kehidupan seperti itu yang tidak jauh berbeda dengan kematian.

Di dalam Alquran Al-Karim terdapat banyak ungkapan yang menyatakan bahwa kerugian yang sebenarnya itu terjadi tatkala manusia kehilangan dimensi spiritual dalam dirinya. Sirnanya buah kehidupan berupa harta duniawi itu tidak begitu penting, karena setiap kehidupan senantiasa memiliki buah dan pengaruh yang lain. Namun apabila manusia telah kehilangan pengharapan dalam hidupnya maka ini menjadi sangat memprihatinkan.. Terlebih lagi tatkala iman dan kesadaran tentang dirinya telah hilang maka ini sangat memprihatikan, karena iman merupakan sumber pengharapan.

Imanlah yang menghasilkan sifat tawakal, percaya diri, dan sifat optimis dalam diri manusia. Seorang yang beriman tidak memandangi bahwa dirinya sendiri tanpa penolong dalam kehidupan ini. Dia senantiasa mengatakan dalam salatnya, “Hanya kepada-Mu, ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu, ya Allah kami memohon pertolongan.” Seorang Mukmin mengatakan. “Ya Allah, kepada-Mu kami berserah diri dan kepada-Mu lah kami kembali.”

Seorang manusia yang beriman tatkala mengalami kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan tidak begitu bersedih hati. Berkaitan dengan orang-orang yang seperti ini kita harus mengatakan, “iman dan aqidahnya masih selamat.”

Alquran Al-Karim berkata kepada Rasulullah saw., Katakanlah bahwa aku adalah manusia seperti kamu. Aku sepertimu butuh makan dan minum, aku seperti kamu mempunyai pikiran, perasaan, dan pengharapan. Apa yang dimiliki manusia aku pun memilikinya. Hanya saja perbedaannya adalah aku menerima wahyu bahwa Tuhan yang kamu sembah adalah Tuhan yang Esa. Siapa saja yang berharap untuk berjumpa dengan Tuhannya maka dia harus beramal saleh dan tidak menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi-Nya.

Agama dan iman di samping menumbuhkan sikap optimis dan kekuatan, ia juga berusaha menekan dan mencegah berkembangnya beberapa bentuk pengharapan. Manusia memiliki cita-cita dan pengharapan yang tidak terbatas. Kadang-kadang, pengharapannya itu sesuatu yang mustahil, misalnya dia berharap masa mudanya berulang kembali dan berharap menjadi saudara dan kerabat orang tertentu. Semua harapan di atas adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Walaupun demikian, tidak mungkin mencegah timbulnya pengharapan. Dari sini dapat dipahami bahwa cita-cita dan pengharapan tidak memiliki kaidah dan aturan. Maksudnya, pengharapan itu tidak senantiasa sejalan dengan kaidah amal. Dia harus ditata dan diatur sesuai dengan kaidah dan aturan. Harapan-harapan yang tidak tertata itu tidak lain yang dalam agama dinamakan “harapan-harapan setan”. Harapan-harapan seperti inilah yang menipu manusia dan menyia-nyiakan umur dan kesempatan yang dimiliki.

Harapan-harapan ini telah menjadikan manusia menghambur-hamburkan kekuatan pikiran dan imajinasinya secara percuma. Dia tidak ubahnya seperti sebuah pohon. Sebuah pohon membutuhkan tukang kebun untuk menyirami dan menjaganya dari segala bahaya. Di samping itu, keberadaan tukang kebun diperlukan untuk menata ranting-ranting yang tidak diperlukan karena ranting-ranting itu menghamburkan energi dan daya hidup yang dimiliki pohon secara sia-sia. Harapan-harapan batin yang ada dalam diri manusia tidak ubahnya seperti ranting-ranting itu. Bila ranting itu dipangkas ini akan menumbuhkan harapan yang lebih kuat untuk berkembang.

Ketika manusia menginginkan harapan-harapan realistisnya menjadi kenyataan dan dia mencapai kesuksesan dalam mewujudkannya, maka yang pertama harus dia lakukan adalah memerangi segala bentuk harapan dan khayalan dusta yang akan menipunya. Alquran Al-Karim mengatakan, setan memberikan janji dan harapan kepada manusia, namun ketahuilah bahwa harapan- harapan itu adalah dusta, itu tidak lain tipuan semata. I]

Oleh : Murtadha Muthahhari /Jejek-jejak Ruhani/Pustaka Hidayah

Tetaplah SEMANGAT Tetaplah SHALAWAT

Proudly Powered by Ama Salman al-Banjari

Categories: Uncategorized
  1. 11 September 2014 at 3:30 am

    One thing I’d really like to say is that ooften before getting
    more computer memory, consider the machine directly into
    which it can be installed. In case the machine is usually running Windows XP,
    for instance, the memory ceiling is 3.25GB.
    Using in excess of this would merely constitute any
    waste. Make certain that one’s mother bard can handle the
    particula upgrade volume, as well. Good blog post.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: