Home > Uncategorized > Dua Dirham yang Menyesatkan

Dua Dirham yang Menyesatkan

DuitImam Baqir as berkata, “Di permulaan hijrah salah seorang mukmin Suffah bernama Saad hidup dalam kondisi di bawah garis kemiskinan. Tapi sekalipun dalam kondisi yang demikian, ia senantiasa hadir dalam shalat jamaah dan tidak pernah meninggalkan shalatnya. Rasulullah benar-benar sedih ketika melihatnya.

Keterasingan dan kemiskinannya membuat Rasulullah benar-benar sedih. Suatu hari kepada Saad Rasulullah berkata, “Bila aku mendapatkan sesuatu maka akan aku buat engkau tidak membutuhkan.”

Waktupun berlalu dan Rasulullah masih juga belum mendapatkan sesuatu untuk membantu Saad. Ketika Rasulullah dalam keadaan sedih, Allah mengutus malaikat Jibril untuk mendatangi Rasulullah dengan membawa uang dua dirham seraya berkata, “Wahai Rasulullah. Allah tahu Engkau bersedih. Apakah Engkau menginginkan agar Saad menjadi orang yang tidak membutuhkan?”

Rasulullah Saw menjawab, “Iya.”

Jibril berkata, “Berikan kepadanya uang dua dirham ini dan perintahkan ia berdagang dengan uang ini.”

Rasulullah Saw menerima uang itu dan keluar dari rumah menuju masjid untuk shalat. Beliau melihat Saad berdiri di samping masjid menunggu Rasulullah. Ketika Rasulullah melihat Saad, beliau berkata, “Hai Saad, apakah kau mengerti perdangan dan jual beli?”

Saad berkata, “Demi Allah! Saya tidak memiliki apa-apa yang bisa saya gunakan untuk berdagang.”

Rasulullah Saw memberikan uang dua Dirham itu seraya berkata, “Berdaganglah dengan dua dirham ini dan carilah rezeki Allah!”

Saad menerima uang dua dirham itu dan masuk ke dalam masjid bersama Rasulullah untuk mengerjakan shalat Zuhur dan Asar. Setelah Shalat kepadanya Rasulullah Saw berkata, “Bangunlah dan carilah rezeki. Aku sedih melihat kondisimu.”

Saad bangkit dan pergi berdagang. Uang dua Dirham itu benar-benar berkah sehingga setiap barang yang dibelinya pasti membawa keberuntungan. Dunia telah berpihak kepadanya dan harta kekayaannya bertambah banyak. Perdagangannya benar-benar ramai. Ia memiliki tempat di samping masjid untuk usahanya dan sibuk melakukan transaksi.

Suatu hari Rasulullah Saw melihat Bilal Habasyi sedang mengumandangkan azan mengumumkan tibanya waktu shalat, sementara itu Saad masih saja sibuk melakukan jual beli. Dia tidak mengambil wudhu dan juga tidak menyiapkan diri untuk shalat. Ketika Rasulullah Saw melihat kondisi Saad demikian, kepadanya beliau berkata, “Hai Saad! Dunia telah menahanmu melakukan shalat.”

Saad beralasan dengan ucapannya, “Apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya buang barang milik saya? Saya menjual barang kepada orang ini dan saya ingin mengambil uangnya. Kepada orang ini saya membeli barang dan saya ingin memberikan uangnya.”

Rasulullah kali ini benar-benar sedih memikirkan kondisi Saad. Bahkan lebih sedih di banding ketika Saad masih dalam kondisi benar-benar miskin.

Malaikat Jibril turun mendatangi Rasulullah dan berkata, “Allah tahu akan kesedihanmu tentang Saad. Terkait kondisi Saad manakah yang engkau suka? Apakah kondisi yang pertama yakni kemiskinannya dan perhatiannya kepada shalat dan ibadah ataukah kondisi yang kedua, kaya dan tidak membutuhkan tapi tidak memperhatikan ibadah?”

Rasulullah Saw berkata, “Aku suka kondisi yang pertama. Karena kondisi yang kedua membuat dunia dan agamanya hilang.”

Kemudian Jibril berkata, “Innaddunya Wal Amwaala Fitnatun Wa Musyghilatun ‘Anil Aakhirati…sesungguhnya dunia dan kekayaan adalah sumber ujian dan menyibukkan manusia dari akhirat.”

Lalu Jibril berkata, “Ambillah uang dua dirham yang kau pinjamkan kepadanya, maka kondisinya akan kembali lagi seperti semula.”

Kepada Saad Rasulullah Saw berkata, “Tidakkah kau mau mengembalikan uangku dua dirham?”

Saad menjawab, “Akan saya kembalikan dua ratus Dirham sebagai gantinya.”

Rasulullah Saw berkata, “Tidak, dua dirham saja.”

Saad mengembalikan uang dua dirham kepada Rasulullah dan sejak saat itu dunia membelakanginya dan seluruh hartanya menjauhinya sedikit demi sedikit dan kehidupannya kembali pada kondisi semula.

Kisah ini sebagai peringatan bagi orang-orang yang mencintai dan bergantung kepada dunia dan menjadikan dunia sebagai tujuan. Sementara ia lupa bahwa dunia adalah perantara untuk akhirat. Terlalu bergantung kepada dunia menyebabkan seseorang melupakan akhiratnya.

Sumber: Gonah Shenasi, Mohsen Qaraati, hal 183-186.  (IRIB Indonesia)

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: