Home > Uncategorized > Dosa yang Meruntuhkan Penjagaan

Dosa yang Meruntuhkan Penjagaan

Defile
Dalam sebuah doa yang diriwayatkan oleh Kumayl bin Ziyad dari Ali bin Abi Thalib as, disebutkan sebuah ungkapan: “Ya Allah, aku memohon ampunan dari dosa-dosa yang meruntuhkan penjagaan.” Dan diriwayatkan di Al-Bihar 73:362, Rasulullah saw bersabda,  “Orang mukmin memiliki 72 penghalang (satr). Jika dia melakukan sebuah dosa maka akan runtuhlah satu penghalang darinya…”

Ali bin Al Husayn as mengatakan: “Dosa-dosa yang meruntuhkan penjagaan ialah: meminum khamar, bermain judi, melucu yang membuat manusia tertawa, menyebutkan aib orang, bergaul dengan orang yang penuh keraguan.

Minum Khamar

Dialah dosa pertama yang mendorong manusia agar terjerumus kepada kehinaan. Sebabnya sangat jelas. Begitu khamar diminum, maka larilah akal sehat dan yang tinggal hanyalah nafsu dan instink kehewanan. Hilangnya akal adalah kemenangan bagi nafsu dan syahwat. Hilangnya malu yang merupakan perisai manusia.

Imam Ali bin Musa Al-Ridha as, mengatakan: “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan khamar karena di dalamnya ada kerusakan serta menghilangkan akal, serta melenyapkan rasa malu dari wajahnya.” [Al-Mustadrak 3:137]

“…Allah mengharamkan khamar karena didalamnya terdapat kerusakan dan perubahan akal peminumnya. Juga menyebabkan pengingkaran terhadap Allah Ta’ala, meragukan Rasul-Nya, kerusakan, pembunuhan, menuduh orang lain, perzinaan, dan mudah melakukan hal-hal yang haram…” [‘Ilal Al-Syara’i 2:161]

Ketika syahwat telah meracuni dan merasuki manusia yang minum khamar (pemabuk), ia akan menggiringnya kepada kehinaan dan melupakan kemanusiaan, kewarasan, kesadaran, kehormatan dan rasa malunya. Semua hal baik akan ditanggalkannya. Khamar adalah kejahatan. Baik orang yang beragama maupun tidak semua sudah sadar dan mengetahui kalau minuman keras itu adalah bahaya akibatnya. “Allah menciptakan gembok bagi kejahatan dan menjadikan kunci bagi gembok itu, yaitu minuman keras….”, itulah kata Imam Muhammad bin Ali al-Bagir as.

Perjudian

Hal lain yang meruntuhkan pnjagaan adalah berjudi. Suatu dasar bagi keuntungan dan kerugian yang tidak beratur, yaitu perjuadian. Dengan judi manusia bisa kaya mendadak dan juga bisa bangkrut dengan tiba-tiba. Perjudian bukan itu juga termasuk penyakit sosial, bukan hanya karena alasan miskin lantas berjudi. Tapi orang yang sekali berjudi merasa ketagihan, apalagi kalau sekalinya berjudi langsung untung dan kaya mendadak. Hal ini adalah penyakit. Suatu penyakit yang berdosa, yang meruntuhkan penjagaan. Berjudi suatu ‘aktivitas’ miring yang senantiasa diliputi hawa nafsu setan yang merasa tidak puas akan sesuatu. Dari sini juga, akan tumbuh penyakit-penyakit lain, yaitu tidak bersyukur kepada Allah, dendam, pemarah,tidak mampu menguasai dirinya. Walhasil, diketahui bahwa dengan perjudian bisa menimbulkan permusuhan juga.

Dalam Al-Quran ul Karim 5:91, “Sesungguhnya setan bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan perjudian…”

Lawakan dan Lelucon

“Sesungguhnya sesorang yang berbicara agar ditertawakan oleh orang-orang yang ada disekitarnya akan jatuh lebih jauh daripada sebuah biji yang dijatuhkan oleh tanamannya.” [al-mahajjah al-baydha’, 5:232]

Sabda Rasulullah yang lain lagi adalah, “banyak canda dan melucu akan menghilangkan air muka.”

Dituturkan dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali Al-Askari as, dikatakan: “Janganlah kamu menghina karena hal itu akan menghilangkan kewibawaanmu, dan janganlah kamu bercanda karena hal itu membuat orang-orang akan berani kepadamu.”

Dari Imam Ali as diriwayatkan bahwa beliau berkata: “Janganlah sekali-kali kamu mencandai saudaramu, karena dengan hal itu dia akan memusuhi kamu. Jika tidak menjadi musuh, dia akan menyakiti kamu.” [Ghurar ul hikam, halaman 726]

Mengikuti Perkembangan Aib Orang Lain

Inilah dosa keempat yang disebutkan oleh Imam Al-Sajjad dalam hadithnya. Menyebutkan aib orang lain adalah dosa yang berakibat sangat buruk bila dilakukan oleh pengumpat dan pencela yang jiwanya sakit. Adapun bila dilakukan oleh orang yang jiwanya bersih dan tidak pernah menyimpang dari aturan-aturan yang benar, tidaklah merupakan dosa, bahkan itu wajib dilakukan oleh orang Muslim terhadap saudara Muslimnya yang lain.

Imam Ali as mengatakan:”Barangsiapa yang melihatmu dan menjagamu tatkala kamu tak ada, maka dia adalah sahabatmu yang perlu kamu jaga. Dan barangsiapa yang menutupi aibmu dan membukakan aibmu ketika kamu tidak ada, maka dia adalah musuhmu yang perlu kamu bersikap hati-hati kepadanya.” [Ghurar ul Hikam, halaman 679]

Para Imam ma’shum as memberanikan para sahabat mereka untuk menunjukkan aib-aib mereka agar menjadi sunnah yang baik di kalangan kaum muslimin. Al-shadiq mengatakan:”Aku sangat senang kepada kawan-kawanku yang menunjukkan kepadaku aib-aibku.”

Sunnah yang baik ini sama sekali tidak mungkin dijalankan kecuali dalam suasana keimanan yang dipenuhi rasa saling percaya antara semua individu, yang jauh dari rasa dendam dari permusuhan di antara mereka, serta dilandasi oleh ruh pendidikan yang mengantarkan manusia menuju kepada kesempurnaan. Dengan demikian akan hilanglah aib-aib yang ditunjukkan itu dari diri kita dan perilaku mulia itu akan semakin bertambah dalam jiwa kita.

Dengan demikian, yang dicela dalam menyebutkan aib orang lain yaitu celaan yang bermula dari rasa dendam yang berupaya menjelekkan, menjatuhkan orang lain dan menyebarkan aib-aibnya di tengah masyarakat. Tidak rahasia lagi, bahwa perilaku seperti itu adalah timbul karena hilangnya salah satu hijab saling menghormati antara satu individu dengan individu yang lain. Sehingga manusia lupa dengan aibnya sendiri ketika dia sibuk membicarakan aib orang lain. Dan boleh jadi, perilaku membukakan aib orang lain seperti itu juga timbul akibat hilangnya perisai penghalang aib yang ada dalam masyarakat pada tingkat tertentu.

Allah Ta’ala berfirman:

“… dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri….” (QS. 49:11)

Imam Ali as berkata:”Berbahagialah orang-orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri dan tidak sempat melihat aib orang lain.” [Safinah Al-Bihar, 2:295]

Jika ada lidah seseorang yang mudah membukakan aib orang lain dalam suatu masyarakat, maka dia akan menjadi sumber bagi runtuhnya kepribadian dalam masyarakat tersebut serta menimbulkan keonaran di dalamnya. Biasanya, orang-orang seperti itu akan ditakuti di dalam masyarakatnya karena orang-orang takut karena sengatan lidahnya. Dan pada gilirannya akan timbul hubungan dan keterkaitan yang kurang wajar antara individu dalam masyarakat tersebut. Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda:

“Orang yang paling buruk pada hari kiamat nanti adalah orang-orang yang dihormati karena manusia takut akan sengatan lidahnya.” [ Ushul Al-Kafi, 4:19]

Imam Ja’far bin Muhammad Al-Shadiq mengatakan: “Barangsiapa yang ditakuti lidahnya oleh orang lain, maka dia akan masuk neraka.” [Ushul Al-Kafi,19]

Bergaul dengan orang yang diragukan

Inilah dosa yang kelima yang meruntuhkan penjagaan manusia sebagaimana yang disebutkan oleh hadith tersebut.

Tidak diragukan lagi mengenai pengaruh pergaulan dengan orang-orang yang rusak kepribadiannya, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk masyarakatnya. Secara internal seseorang akan dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, dan dia akan meniru idolanya. Seseorang akan meniru lingkungannya yang rusak yang telah menghilangkan hijab rasa malu dalam dirinya. Dan secara eksternal nilai seseorang yang bergaul dengan orang-orang yang diragukan akan mencemari manusia yang lain, serta akan menjatuhkan martabat masyarakatnya. Dan demikian akan jatuh pula batas-batas dan ikatan sosial yang sebenarnya dapat memacu kegiatan manusia dan mencegahnya dari kehancuran.

Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda:

“Orang yang pertama kali berhak dituduh adalah orang yang bergaul dengan orang yang menuduh.” [Al-Mustadrak, 2:65]

Imam Ja’far Al-Shadiq mengatakan: “Barangsiapa yang bergaul dengan orang yang diragukan, maka dia perlu diragukan.” [Bihar AL-Anwar, 74:197]

Dan dari amirul mukminin Ali bin Abi Thalib as, diriwayatkan bahwa beliau berkata: “Barangsiapa yang mendudukkan dirinya sebagai orang yang menuduh, maka janganlah dia mencela orang yang berprasangka buruk kepadanya.” [ Bihar ul Anwar, 74:186-187]

Posted by  Yayasan Fatimah  & Proudly Powered by Ama Salman al-Banjari
@UNPAD – DU  7 Mei 2013

Categories: Uncategorized
  1. 7 May 2013 at 8:41 pm

    Reblogged this on |Share|.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: