Home > Uncategorized > Natal

Natal

Yesus KristusNatal selalu menyenangkan. Setiap tahun mengunjungi kalender kita, bangsa Indonesia. Setiap orang senang, baik karena ia hari besar bagi orang Kristen maupun hari libur tanggal merah bagi non Kristen.

Hari Natal, momentum untuk mengenang dan mengucapkan terima kasih kepada sosok manusia langit manifestasi kasih Tuhan di Bumi.Merayakan kelahiran Isa al-Masih, salah seorang utusan terbesar sepanjang sejarah umat manusia merupakan ekspresi pengagungan tanda-tanda kebesaran Tuhan di muka bumi. Bagi sebagian kalangan, hal itu dianggap tidak tepat bahkan bertentangan dengan keislaman. Padahal penolakan kalangan Islam terhadap teologi Kristen yang memperlakukan Yesus sebagai salah satu dari Trisakti, tidak menular terhadap perayaan kelahiran Isa al-Masih dalam perspektif teologi Islam yang memperlakukannya sebagai pewarta Tauhid kepada bangsa Israel. Meski dipisahkan oleh sejumlah titik beda, terutama tentang kepercayaan Yesus sebagai putra Tuhan, memuliakannya adalah satu dari sekian banyak titik temu umat Islam dan umat Kristen.

Muhammad, Yesus dan para nabi telah membawa ajaran cinta, cinta Allah dan cinta tetangga serta bahkan cinta terhadap makhluk-makhluk-Nya yang terkecil sekalipun. Dalam teks-teks non Kristen, diriwayatkan Yesus memberikan beberapa makanan kepada makhluk-makhluk di laut. Namun cinta ini tidak berbenturan dengan sentimentalisme yang mencegah pelaksanaan hukum ilahi ketika sikap munafik kaum Yahudi. (Cf.Matt. 23:25).

Dalam al-Qur’an, terdapat sebuah ayat yang menggambarkan penghormatan yang begitu tinggi kepada Maryam al-Adzra’ (Perawan Suci Bunda Maria), dan menganugerahi Yesus gelar Kalimat Allah: “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah memberikan kepadamu kabar gembira tentang sebuah Kalimat dari-Nya, namanya al-Masih putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat dan salah seorang yuang didekatkan (kepada Allah).” (3:45).

Tentu saja penafsiran mengenai logos dalam teologi Kristen berbeda dengan penafsiran kalimah oleh ulama Islam. Bagi umat Muslim Kalimah adalah makhluk, bahkan ia merupakan prinsip kreatif, karena ia berada dalam ucapan Allah dari kata “Jadi!” maka jadilah ia. Al-Qur’an menyebut Kristus sebagai Kalimat Allah tidak untuk mendewakannya atau menganggapnya bersifat ketuhanan (divine), tetapi untuk menegaskan statusnya sebagai nabi. Karena kenabiannya, Yesus menjadi ‘firman Tuhan’ karena ruhnya dibersihkan sedemikian rupa sehingga menjadi cermin untuk mengenal Tuhan.

Al-Qur’an juga menyebutnya sebagai ‘Ruh Allah’; “Sesungguhnya Al-Masih Isa putera Maryam itu adalah utusan Allah dan Kalimat-Nya dan Ruh-Nya.” (QS. 4:171). Kata ‘Ruh dari-Nya’ memberikan signifikansi pengertian universal, bahwa poros moral Kristen dan Islam itu sama. alam wilayah teologi ini, umat Kristen telah memperdebatkan pentingnya sejarah Yesus yang bertentangan dengan gambar Yesus yang terdapat dalam tradisi-tradisi Gereja-gereja Kristen dan pandangan Injil mengenai Yesus.
Menurut Legenhausen dalam pengantar The Gospel of Ali, para penulis Kristen cenderung menitikberatkan teologinya pada fungsi Yesus sebagai juru selamat, yang tampaknya tidak memiliki tempat di dalam Islam. Umat Islam menerima Yesus sebagai juru selamat, bukan karena ke-Yesus-an-nya namun karena fungsi kenabian sebagai penyelamat manusia dari malapetaka dosa melalui pewartaan pesan petunjuk Allah, bukan melalui melalui penebusan dan penyaliban.

Di lain pihak, para kristolog muslim cenderung menghasilkan karya-karya polemik mereka sendiri-sendiri dengan menunjukkan berapa banyakkah di dalam Injil yang bersesuaian dengan pandangan Islam mengenai Kristus sebagai seorang nabi ketimbang sebagai seorang pribadi ber-Trinitas, sebagaimana Was Yesus Crucified? karya Ahmed Deedad (1992). Inilah dealock yang dapat memperuncing kecurigaan selama bertahun-tahun.
Karena itulah diperlukan sebuah terobosan baru untuk menghindari kebuntuan ini. Mungkin salah satu cara terbaik umat Kristen untuk dapat berdialog dengan umat Islam adalah ‘mengintip’ teks-teks Islam tentang potret, terutama al-Qur’an dan hadis.

Wawasan yang mendalam lagi mengenai berbagai perbedaan antara Islam dan agama lainnya, termasuk Kristen, dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Frithjof Schuon, Syekh ‘Isa Nur al-Din Ahmad, yang menghadirkan permulaan Kristolgi sejati perspektif Sufi dalam Islam and the Perennial Philosophy (1985). Juga dalam The Muslim Jesus: Sayings and Stories in Islamic Literature, Tarif Khalidi (2003) telah mengumpulkan referensi-referensi Islam tentang Yesus dari abad kedelapan sampai delapan belas, termasuk karya-karya mistik, teks-teks historis tentang para nabi dan orang-orang suci (wali) dan berbagai seleksi dari hadis dan al-Qur’an. Tulisan-tulisan ini membentuk suatu pola besar mengenai teks-teks yang berhubungan dengan Yesus dalam literatur non-Kristen. (Kristologi islamiah). Semoga saja pola baru ini tidak dianggap oleh sebagian ekstrimis sebagai intervensi terhadap teologi Kristen.

Dengan paradigma ini, mungkin perayaan Natal bisa dipandang secara lebih universal, bukan hanya hariraya kelahiran Yesus dari perspektif teologi Kristen dengan ragam mazhabnya yang kadang saling menafikan, namun sebagai hari kelahiran Yesus dalam persepktif teologi Islam. Ini tidak bisa secara langsung dianggap sebagai ajakan kepada umat Kristen untuk memperingati kelahiran Muhammad saw. Penghargaan mutual ini, meski bisa memperkuat kerukunan, mungkin sulit terwujud.

Ironis, bila saat kita getol menumbuh-suburkan toleransi antar umat beragama, terjadi konflik intra agama antar sekte-sekte di dalamnya karena ketidaktegasan menolak ekstremisme sektarian, yang belakangan ini dianggap sebagai parameter relijiusitas dan kesalehan. Intoleransi dan penolakan terhadap pandangan dan aliran lain dalam sebuah kelompok agama bisa dianggap sebagai penolakan par excellent terhadap hak dan eksistensi agama lain. Inilah musuh sejati semua umat beragama.

by : Muhsin Labib Note’s

Categories: Uncategorized
  1. Negari
    26 December 2012 at 8:31 am

    Terima kasih, logos dalam iman kami memang menjadi manusia…inilah iman kami..tapi tidaklah menjauhkan persaudaraan dan kasih antar manusia

  2. 14 March 2014 at 6:14 pm

    Here it is described using the 7 Words System – a way of understanding the complexity of
    human interactions that can be applied to all aspects
    of self-awareness and relationship, so that you quickly change
    your perspectives and get to a deep sense of what to do to improve things.
    In the Rider-Waite illustration of the card, the Six of Swords depicts a man paddling a boat across an ocean,
    toward two hilly, green islands. Actually, the logic of the sentence requires this interpretation.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: