Home > Uncategorized > Derajat Pecinta Tuhan

Derajat Pecinta Tuhan

Suatu hari seorang Arab Badui bertanya kepada Ali sa. tentang derajat muhibbin (para pecinta Tuhan), Imam berkata, “Derajat terendah muhibbin adalah orang yang menganggap kecil ketaatannya, dan membesar-besarkan dosanya, dan dia mengira bahwa di dua dunia (dunia dan akhirat) Allah Swt hanya akan menghukumnya.” Maka seketika itu juga orang Badui itu pingsan. Ketika tersadar, dia bertanya, “Apakah ada derajat yang lebih tinggi dari itu?”  Imam menjawab, “Iya, ada tujuh puluh derajat.!”

Ayatullah Mojtaba Tehrani menjelaskan, “Sekarang jika kalian ingin mengetahui apakah kalian termasuk di antara muhibbin atau tidak, Imam Ali as telah menunjukkan ciri-ciri derajat terendah orang yang mencintai Allah Swt. Mereka yang mengklaim mencintai Allah Swt, harus mencocokkan diri dengan parameter yang telah ditunjukkan Imam Ali as.”

“Terkadang—nauzubillah—kebalikan dari ucapan Imam Ali ini yang disaksikan pada diri manusia. Maka celakalah orang yang menilai amalnya sangat besar dan menganggap maksiatnya kecil. Dia hanya mengingat amalnya tapi lupa akan maksiatnya.”

“Ini adalah sebuah parameter. Jika kalian melihat seseorang yang hanya mengingat amalnya akan tetapi di sisi lain dia melupakan dosanya, maka ketahuilah bahwa dalam pandangan orang itu dosa sangat kecil dan amal sangat besar.”

“Sekarang bagaimana kita tahu posisi kita? Kita dapat memahaminya melalui riwayat ini. Jika—nauzubillah—kalian ingin mengungkapkan amal kalian maka ketahuilah bahwa kalian sedang berlawanan dengan riwayat tersebut. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa jika seseorang beramal, akan tetapi ketika dia mengungkapkannya, maka semua pahala amalnya akan hilang. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa jika dia kembali memamerkan amalnya untuk kedua kali, maka bukan saja pahalanya terhapus, maka dia akan mendapat catatan perbuatan riya’. Maka celakalah orang yang sampai pada derajat ini.”

“Saya ingin mengatakan bahwa manusia harus membangun diri dari dalam dan menyelamatkan dirinya dari hawa nafsu serta harus berhati-hati dengan masalah amalnya, jangan sampai mengandalkan amalnya saja tapi melupakan dosanya, karena ini yang akan menghancurkan seseorang.

133 مستدرك الوسائل ج1 ص

Tetap SEMANGAT Tetap SHALAWAT…!

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: