Home > Uncategorized > Puasa: Dari Syariat ke Hakikat

Puasa: Dari Syariat ke Hakikat

“PADA zaman Nabi Syuaib, seseorang menemui sang Nabi: Tuhan telah melihat semua perbuatan buruk yang aku lakukan. Tetapi karena kasih sayang-Nya, ia tidak menghukumku. Tuhan kemudian bicara kepada Syuaib: Jawablah dia. Kamu berkata Tuhan tidak menghukumku. Sebaliknyalah yang terjadi. Tuhan telah menjatuhkan hukuman, tetapi kamu tidak menyadarinya. Kamu sudah berputar-putar tanpa arah di rimba belantara. Tangan dan kakimu terbelenggu. Kamu adalah pool yang terus menumpuk karat. Makin lama kamu makin buta dari hal-hal rohaniah. Ketika asap menjilati poci tembaga yang baru, orang akan segera melihat bekasnya. Tetapi dengan permukaan yang segelap kamu, siapa yang tahu kapan ia menjadi lebih hitam. Di kala kau berhenti tafakur, tumpukan karat menembus masuk ke cermin jiwamu. Tak ada lagi gemerlap di dalamnya.

Jika kamu menulis sekali di atas selembar kertas, tulisanmu terbaca jelas. Jika kamu terus-menerus mencoreti kertas yang sama, tulisanmu takkan terbaca. Tenggelamkan dirimu dalam asam yang membersihkan tembaga. Kikis habis noda-noda hitammu. Begitulah Syuaib berkata, dan dalam satu tarikan napas bunga-bunga mawar merekah di dada orang itu. Tetapi masih juga ia berkata: Aku tetap minta tanda bahwa Tuhan sudah menghukumku. Tuhan berkata melalui Syuaib: Tak akan Kuungkapkan rahasiamu. Akan Aku berikan padamu tanda supaya kamu mengerti. Kamu telah melakukan banyak ibadah, puasa, salat, dan zakat; tetapi tak satu pun kaurasakan lezat! Banyak sekali kulit kacang tetapi tidak ada kacang manis di dalamnya. Mesti ada rasa, mesti ada biji kenikmatan. Tanpa itu, biji arbei tak akan melahirkan benih yang kelak menjadi pohon yang berbuah. Amal gersang tanpa rasa tidak berguna. Bentuk tanpa jiwa hanyalah khayalan hampa.

Surat bi-ja-n naba-syad ju-z khaya-l ~ Bentuk tanpa jiwa hanyalah khayalan hampa. Dengan itu, Jalaluddin Rumi mengakhiri satu paragraf puisinya dalam Matsnawi II, 3420-3450.

Jika Anda sudah tidak dapat menikmati ibadah Anda, Anda sedang mendapat hukuman Tuhan. Ketika kemaksiatan terus-menerus dilakukan, yang pertama kali diambil Tuhan dari para penyembah-Nya adalah “jiwa” keberagamaan. Salat hanya tinggal gerak badan tanpa getaran hati. Masjid berubah dari tempat beribadah menjadi saluran pengerahan massa (dan dana). Ibadah haji dan umrah menjadi salah satu di antara sejumlah wisata. Baitullah hanya tampak sebagai seonggok batu dari zaman purba; tidak berbeda dengan Tembok Cina atau Menara Pisa. Zakat dikeluarkan sama beratnya dengan pajak. Dan puasa menjadi rangkaian upacara kesalehan yang lewat begitu saja setelah usai bulan Ramadhan.

Salam Bahagia ~ Ramadhan 2012

Posting Pilihan by Ama Salman al-Banjari

Tetaplah SEMANGAT Tetaplah SHALAWAT

~♥~اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ~♥~

Sumber : Jalaluddin Rakhmat, Direktur Pusat Kajian Tasawuf Tazkiya Sejati, Jakarta (Kompas, Sabtu, 25 November 2000)

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: