Home > Uncategorized > Islam Kapitalis

Islam Kapitalis

Agama memang bukan muncul dan berkembang di tengah realitas yang sunyi. Islam hadir memberikan alternatif kehidupan dan semangat perlawanan di tengah iklim penindasan dan eksploitasi kemanusiaan.

Spirit Agama yang menolak manusia menghamba pada penindasan membuat Nabi, para Imam,  orang-orang suci dan para pejuang Islam datang di tengah masyarakat selalu berada dalam resiko.

Disana agama tak jarang dibawa dalam sebuah pertempuran yang sengit dalam berbagai aspek kehidupan, bergulat dengan struktur penindasan yang mempunyai aparat dan sistem yang siap menindas. Tanpa benturan maka tidak ada yang namanya pengorbanan, tanpa pengorbanan tidak ada yang disebut perjuangan.

Akan tetapi maraknya model  “mubaligh pop” yang menghias langit dakwah negeri ini menghadirkan Islam dalam wajah baru yang seolah akrab dengan keseharian, mudah, gurih dan renyah tapi sebenarnya “asing” dalam dataran sejarah itulah “Islam Kapitalis”.  “Islam” model seperti apa hal ini?  Bukankah Islam seharusnya “Islam” saja, tidak enak mendengarnya tapi itulah kenyataan!

Islam kapitalis adalah agama yang dikemas dalam bungkus kapitalisme. Agama yang dihias dengan polesan ramah dan akrab dengan sistem penindasan dan kedzaliman.

Agama model ini akan sangat memanjakan pengikutnya dengan fasilitas ritual yang tidak bersentuhan langsung dengan struktur sosial. Islam kapitalis sangat akrab dengan logika pasar yang menjadi  sumber darah sistem kapitalisme. Pilar-pilar agama hanya mengurus pembinaan pribadi bukan membicarakan soal tatanan sosial.

“Kesalahan” cara beragama seperti ini ialah memandang masalah politik itu masalah sederhana. Agama disajikan sebagai etalase yang terlihat indah dilihat tapi sulit untuk dirasakan. Islam model ini memperkenankan pemuka agama yang selalu santun dan akrab bersalaman dengan pemimpin yang  terlihat sholeh dan penuh senyum ramah tapi dzalim

Seolah jika “hati” bersih” bereslah seluruh kehidupan, sebuah logika kekanak-kanakan. Islam seperti ini sangat egoistis  karena sangat percaya kalau perubahan sosial yang lebih besar bisa terpahat jika terjadi pembentukan pribadi yang mulia. Kemuliaan seorang pribadi muslim tercantum dari bagaimana dirinya melatih serta mendisiplinkan diri. Implementasinya dibuatlah beragam model pembinaan “instant” yang dapat menghadirkan kesolehan dan mencetak manusia “beriman” secara singkat, sungguh menakjubkan?

Dengan mencangkokkan pendekatan fungsional yang dilakukan oleh David Mc Clean, Islam Kapitalis  mengadopsi apa yang kemudian diistilahkan sebagai etika protestan, sebuah etika yang dirasakan cocok dengan pembentukan sistem ekonomi yang kapitalistik.

Etika inilah yang mengenalkan bagaimana ethos penting untuk diajarkan dan melatih kita untuk bekerja keras. Pandangan ini kemudian dihias dengan serangkaian teks AlQuran yang cocok. Dan teks inilah yang kemudian menjadi pemandu bagi setiap pemuka agama dalam menyampaikan model dakwahnya. Malah beberapa rohaniawan kemudian menyajikannnya dengan metoda yang lebih baru. Jika kemudian ada kenyataan yang bertolak belakang dengan sistem keyakinan. Seperti halnya orang yang sudah bekerja keras kemudian masih saja taraf ekonominya tidak mengalami perubahan, dengan cekatan agama menyebutnya sebagai ujian. Islam memang mendorong pemeluknya bekerja keras dan ketika gagal, Islam-pun menyediakan hiburan berupa “kepasrahan”. Pandangan ini benar-benar cocok dengan sistem buas kapitalisme.

Dalam bahasa singkat, kapitalisme punya kemampuan untuk memelihara kelas sosial miskin agar tidak marah, yakni dengan memberikan “sedekah”. Sedekah yang dulu menjadi prosedur keagamaan kini diadopsi dengan mahir oleh sistem kapitalisme. Hadirnya berbagai lembaga philantropis dengan struktur bangunan kapitalisme, seolah menjadi saluran akan”kedermawanan” ditengah himpitan penderitaan kaum tertindas di negeri ini, untuk itulah “Bahtera Ummat” hadir sebagai alternatif jawaban yang suatu saat akan mempertanyakan “Mau kemana kita ini pergi?”. Wass

Salam Perjuangan.

Malam Sunyi, 21 Ramadhan 1430

Ama Salman al-Banjari

Categories: Uncategorized
  1. Alfayed
    28 September 2012 at 8:51 pm

    Sangat suka Tulisan ini…

  2. 17 February 2015 at 9:21 pm

    Reblogged this on Bayt al-Hikmah Institute.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: