Home > Uncategorized > Tasawuf Menurut Ibn Arabi

Tasawuf Menurut Ibn Arabi

Banyak definisi tentang tasawuf dibuat para ahli, tapi bagi Ibn ‘Arabi tasawuf berarti “(proses) mengaktualkan potensi akhlak Allah yang ada di dalam diri kita, dan menjadikannya akhlak kita”  (al-takhalluq bi akhlaq Allah). Sebuah definisi yang ringkas dan simple, tapi dibaliknya terkandung pemikiran yang sangat mendalam. Dan ini terkait dengan gagasan tentang manusia – bahkan alam semesta – sebagai tajally (pancaran, manifestasi) Allah Swt. Manusia sebagai pembawa ruh-Nya,  yang dicipta atas fitrah keilahian dan, dengan demikian, kepenuhan dan kebahagiaan hidupnya — bukan hanya di akhirat, melainkan juga dunia — tergantung pada keberhasilannya mengaktualkan potensi keilahian-Nya itu.

“Dan ketika aku sempurnakan (ciptaan-fisik)-nya (manusia), maka Aku tiupkan ke dalamnya bagian ruh-Ku …”

Dalam bahasa Ibn ‘Arabi, berakhlak dengan akhlak Allah identik dengan menanamkan asma’/sifat-Nya di dalam diri kita. Dengan kata lain, menjadikan akhlak kita berakar pada akhlak-Nya. Ibn ‘Arabi segera melihat bahwa kesamaan kata dasar khulq(bentuk tunggal akhlaq) dengan kata khalq (ciptaan) menunjukkan bahwa sesungguhnya potensi akhlak Tuhan sudah tertanam dan menjadi bawaan (fitrah/khalq) manusia – betapa pun masih potensial.[1] Syaikh menyebutnya sebagai kesiapan (jibillah, disposisi).

Nah, bertasawuf menurut Sang Syaikh adalah mengembangkan atau mengaktualisasikan potensi akhlak keilahian yang ada pada ciptaan yang bernama makhluk manusia dalam kehidupan aktualnya. “ (Proses) menuju hidup berakhlak dengan akhlak Allah, itulah tasawuf,” ujarnya.

Ibn ‘Arabi merujuk asma’ Allah yang ia maksudkan kepada al-Asma’ al-Husna (Nama-nama yang Baik) Allah yang terdapat dalam al-Qur’an, meski  menyebut bahwa yang pasti asma’ Allah yang disebut dalam al-Qur’an berjumlah 83, bukan 99. (Di tempat lain, Ibn ‘Arabi malah mengutip sebuah hadis Nabi yang menyatakan : Allah memiliki 300 nama. Barangsiapa berhasil menanamkan satu saja dari asma’-Nya, maka dia dijamin masuk surga). Memang, jika mau lebih teliti, sebetulnya asma’ Allah itu tak terbatas jumlahnya, sejalan dengan ketakterbatasan wujud dan tajalliyat-Nya dalam ciptaan (af’al). Ibn ‘Arabi mengambil tamsil cahaya. Pada dasarnya, cahaya berwarna putih. Tapi, jika diuraikan, dia memiliki 7 unsur warna utama. Lebih jauh dari itu, setiap unsur warna dapat diuraikan lebih lanjut ke unsur-unsur yang lebih banyak. Begitu seterusnya, hingga tidak terbatas.

Meski demikian, jika dikelompokkan, Allah memiliki asma’ yang termasuk dalam kelompok asma’ jalaliyah (nama-nama yang mencerminkan kedahsyatannya yang menggentarkan, tremendum) dan kelompok asma’ jamaliyah (nama-nama yang mencerminkan keindahan dan kelembutannya yang memesonakan, fascinans). Manusia harus mampu menanamkan semuanya itu di dalam dirinya, dalam kombinasi yang lengkap dan utuh. Mengambilnya secara parsial dan tidak seimbang akan justru menjadikan akhlak yang berkembang bersifat madzmumah (akhlak yang buruk), bukan justru al-akhlaq al-karimah (akhlak mulia) yang dianjurkan. Misal, menerapkan sifat keras (qahr) dan kuasa (jabr)tanpa kasih sayang (rahmaniyah) dan keadilan (‘adl) akan mengakibatkan kesombongan dan kesewenangan yang menindas. Kombinasi utuh-menyeluruh dan seimbang ini diwakili oleh nama “Allah” sebagai nama-penghimpun (al-ism al-jami’) semua nama Allah yang  tak terbatas itu. Dan, sebaliknya, melanjutkan tamsil warna di atas, berakhlak dengan akhlak Allah sama dengan menananmkan akhlak Allah itu dalam kombinasi yang utuh dan pas sehingga unsur-unsur akhlak itu menghasilkan warna cahaya putih yang seimbang.

Lebih dari itu, Ibn ‘Arabi tak melihat kombinasi seimbang dari berbagai asma’ Allah itu sebagai bersifat netral – yakni gabungan dari yang jamaliyat dan jalaliyat, atau seluruh spektrum-warna sifat-Nya dengan sama kuat – melainkan sebagai didominasi dengan yang jamaliyat. Terkait dengan ini Sang Syaikh merujuk pada berbagai ayat al-Qur’an yang bermakna seperti ini, termasuk : “Kasih-sayangnya meliputi segala sesuatu.” Juga hadis qudsi yang berbunyi “ Kasih-sayang-Ku mendominasi murka-Ku”. Dengan demikian, menanamkan akhlak Allah identik dengan menanamkan sifat cinta di dalam diri kita dan menjadikannya sumber bagi setiap tindakan kita, baik dalam berinteraksi dengan Allah, manusia, maupun alam semesta selebihnya.

Kesemuanya itu, menurut Ibn ‘Arabi, hanyalah mungkin dicapai dengan menaati dan menjalankan ajaran syari’ah dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan kita.

Manusia yang mampu menanamkan akhlak Allah secara sempurna dalam dirinya inilah yang disebut sebagai al-insan al-kamil (manusia paripurna). Merekalah, selain para Nabi, awliya’ (para sahabat)-Nya. Merekalah para sufi sejati..!

Sumber : Islam-Indonesia (HB)

Proudly Powered by Ama Salman al-Banjari ~ Suatu Malam di akhir May@2012

Categories: Uncategorized
  1. 19 February 2015 at 1:28 pm

    Penerapannya bagaimana mahzab cinta itu. Karena ego selalu mempertahankannya

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: