Home > Uncategorized > Hakikat Irfan ~ Tasawuf Hakiki

Hakikat Irfan ~ Tasawuf Hakiki

Banyak sekali orang yang mengira bahwa ajaran irfan (red.tasawuf) menyuruh manusia untuk berkhalwat dan berzikir sambil menggerak-gerakkan kepala atau menari-nari dengan gaya aliran sufi tertentu. Begitulah asumsi sebagian orang mengenai tasawuf/irfan. Tetapi, apakah memang demikian hakikat dan makna tasawuf/irfan menurut Islam dan Nabi Muhammad saww ? 

Tingkat tertinggi irfan telah dijelaskan oleh Imam Ali bin Abi Thalib as, dan asumsi yang kita sebutkan tadi telah keluar dari irfan yang sejati. Banyak orang mengira bahwa seorang arif (ahli irfan/sufi) harus meninggalkan segalanya, duduk di zawiyah-zawiyah (pojok-pojok), sesekali berzikir dan bernyanyi, membuka kedai dan sebagainya. Meskipun merupakan manusia yang paling arif setelah Rasulullah saww di antara semua umat ini dan hamba yang paling mengenal Allah SWT, Imam Ali bin Abi Thalib tidak pernah menyingkir dari kehidupan dan tidak mempedulikan hal-hal yang terjadi di masyarakat. Bahkan, tidak pernah kita mendengar bahwa beliau memiliki suatu halaqah zikir. 

Sebaliknya, beliau selalu sibuk dengan pelbagai pekerjaannya sambil terus berzikir kepada Allah. Jadi, pesuluk itu bukan orang yang acuh tak acuh dengan urusan masyarakat di sekelilingnya, lalu duduk di satu sudut masjid dan sibuk berwirid sambil menyangka bahwa ia sedang menjalankan suluk yang sejati. Para nabi dan para wali Allah juga bersuluk, tetapi mereka tetap sangat peduli dengan apa-apa yang terjadi pada masyarakat dan tidak hanya duduk-duduk di rumah untuk berwirid dan mengatakan : “Kami adalah ahli suluk.”

Suluk adalah jihad atau perjuangan terbesar, yakni jihad manusia untuk melawan ego arogan (thaguti) dalam batinnya. Kalian, wahai para pemuda, harus memulai jihad ini sejak sekarang. Jangan biarkan potensi-potensi jasmani kalian lenyap dengan sia-sia. Semakin lemah kekuatan jasmani kalian, watak-watak akhlak yang rusak juga akan semakin mengakar pada diri kalian. Akibatnya, pelaksanaan jihad akbar ini akan semakin sulit bagi kalian.

Berbeda dengan orang-orang tua yang tidak lagi mampu melakukannya dengan tangguh dan cepat, para pemuda dapat memenangkan jihad ini dengan mudah dan cepat. Jangan menunda-nunda perbaikan diri kalian hingga masa tua. Salah satu dari sekian tipu-muslihat hawa nafsu manusia yang digagaskan oleh setan adalah penundaan masa perbaikan diri sampai masa tua nanti.

Setan suka membisikkan tipuan ini ke telinga para pemuda : “Mumpung kalian masih muda, pergunakanlah masa berharga ini untuk bersenang-senang dan foya-foya. Saat kalian tua nanti, baru kalian melakukan tobat.” Demikianlah cara setan mengelabui remaja lewat hawa nafsunya. Wahai anak-anak muda, selagi kalian masih bertubuh kuat, semangat kepemudaan kalian masih membara dan akar keburukan dan maksiat belum menguat dalam kalbu kalian, perbaikilah diri kalian.

Jika kalian tidak berpikir untuk menyucikan diri di masa muda dan sehat ini, maka nanti di masa tua takala hati dan tubuh sudah susut oleh kerusakan, kemauan dan semangat perlawanan telah hilang padahal tumpukan dosa telah menghitam-legamkan kalbu kalian, akan sangat sulit bagi kalian untuk dapat mendidik dan mengolah diri kalian ? Di waktu tua, sulit sekali bagi kalian untuk bisa berhasil membersihkan jiwa dan mencari keutamaan dan ketakwaan. Orang yang sudah 50 atau 70 tahun mengisi lembaran hidupnya dengan menggunjing, berbohong dan melewati hari-harinya dengan dosa dan maksiat tidak akan mudah untuk bertobat dan menyesali segenap perbuatannya. Orang-orang semacam ini biasanya sampai akhir usianya akan tetap demikian.

Hai anak-anak muda, jangan kalian menunggu usia tua untuk bertobat dan menjadi manusia yang salih. Hati kalangan muda masih lembut, pengaruh gaib (malakuti) masih kuat dan dorongan kerusakan masih lemah. Semakin tua usia seseorang, semakin kuat akar-akar dosa menancap di dalam kalbu hingga menjadi mustahil rasanya untuk dapat mencerabut semuanya secara total.

Bila kalian sudah terdidik sejak muda, artinya kalian akan terus terdidik. Sebaliknya, bila di usia muda itu – semoga tidak demikian adanya – kalian belum terdidik, maka di masa tua ketika kemauan sudah melemah dan pasukan iblis sudah bercokol kuat begitu sulit rasanya – kalau tidak malah mustahil – akan muncul keinginan untuk mendidik diri. Berpikirlah sejak masa muda.

Semakin banyak nafas yang kalian hirup semakin dekat kalian dengan kematian, dan tidak seorang pun yang dapat memungkiri kenyataan ini. Setiap menit yang lewat dari usia kalian berarti kalian sudah semenit lebih dekat kepada kuburan dan kematian. Renungkan baik-baik bahwa kematian semakin mendekati kita dan tiada yang memberi jaminan bahwa kalian dapat hidup sampai 120 tahun, bahkan sekarang ini sudah hampir tidak ada lagi orang yang berumur sepanjang itu. Mungkin kalian akan meninggal pada usia 25 atau 50 atau 60 tahun. Tidak ada jaminan atau pijakan – mudah-mudahan Allah SWT memanjangkan usia kalian – yang bisa membuat kalian menyangka akan berusia panjang. Kalian harus merenung dan berpikir. Jangan lupa introspeksi dan mawas diri (muraqabah). Perbaikilah akhlak kalian, dan bersihkan hati kalian. []
_________
Dikutip dari : Cahaya Sufi, (Jawaban Imam Khomeini terhadap 40 Soal Akhlak dan Irfan), Penerbit Misbah, Jakarta, 2003.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: