Home > Uncategorized > Kisah Para Prajurit Karbala

Kisah Para Prajurit Karbala

Menanti Gadis Pujaan di Sorga

Salah satu syuhada terkenal Karbala ialah Nafi bin Hilal Jamali. Ia seorang pemuda tampan, berperawakan jangkung, pemberani, pembaca al-Quran, seorang penulis hadis dan sahabat setia Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Ia ikut serta dalam tiga peperangan Imam Ali as di Irak. Nafi bertemu dengan Al-Husain di pertengahan jalan sebelum syahidnya Muslim bin Aqil. Di Karbala, Al-Husain memerintahkan Nafi bin Hilal bersama saudaranya Abul Fadhl Abbas, dengan disertai 30 orang berkuda, 20 pejalan kaki dan 20 kantong air, untuk mengambil air. Karena keperkasaan, Abul Fadhl Abbas dan Nafi bin Hilal yang tiada tanding, mereka berhasil mengalahkan pasukan penjaga sungai Efrat. Lalu memenuhi kantong-kantong air dan membawanya ke kemah.

Nafi menikahi seorang gadis namun belum dirayakan. Gadis itu memegangi bajunya sambil menangis dan berkata, “Ke mana engkau hendak pergi? Kepada siapa aku menitipkan diri sepeninggalmu?”

Al-Husain mendengar itu. “Istrimu tidak mampu berpisah darimu. Jika mau, engkau dapat mendahulukan kegembiraannya dibandingkan jihad,” ujar Al-Husain menawarkan.

Nafi’ mengelus kepala istrinya seraya membisikinya. Istrinya pun melepasnya dengan segenap cinta. Nafi berjanji menantinya di samping telaga dan merayakan pesta perkawinan disana.

“Wahai putra Rasulullah, jika sekarang aku membiarkanmu sendirian dan tidak menolongmu, jawaban apa yang besok akan aku berikan kepada Rasulullah saw?” sahut Nafi’.

Kemudian Nafi maju ke medan perang sambil melantunkan syair:

“Jika kau tak mengenalku, akulah Ibnu Jamali. Agamaku, agama Husain dan Ali

Jika aku terbunuh hari ini, maka itulah harapanku.  Itulah keyakinanku Dan aku akan memperoleh hasil perbuatanku.”

Muzahim datang menghadapi Nafi dan berkata, “Aku berada dalam agama Usman.”

Nafi menjawab, “Kau berada dalam agama setan.”

Nafi menyerangnya dan berhasil membunuhnya. Tiba-tiba ia melontarkan panah beracun yang telah disiapkannya ke arah musuh. Setelah melontarkan panah terakhir, ia menyerang dengan pedangnya. Ia berhasil membunuh 13 orang dan melukai beberapa orang lainnya. Tanpa disadari, musuh mengepungnya. Mereka memutus lengan atasnya lalu menangkapnya. Syimir bangkit untuk memenggal lehernya.

Nafi berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah menetapkan kematianku di tangan manusia yang paling buruk.”

(Tarikh Thabari, juz.4, hal.312, Farsanul-Hayja, juz.2, hal.130, Maqtal Khawarizmi, juz.2, hal.21, Tarikh Thabari, juz.4, hal.331, al-Bidayah wan-Nihayah, juz.8, hal.184, disalin dari buku HUSAIN, KSTARIA LANGIT, Penerbit Zahra).

Categories: Uncategorized
  1. ammar dalil
    5 December 2011 at 10:28 am

    suatu adegan yg menarik kejalan spritual. …Salam atas kalian wahai para pembela imam Husain as..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: