Home > Uncategorized > Kisah Qambar Tentang Imam Ali

Kisah Qambar Tentang Imam Ali

Imam Ali as mempunyai dua orang budak, Qambar dan Sa’id. Setelah Imam Ali as wafat, Qambar menceritakan bahwa ia sangat jarang mendapat kesempatan untuk melayani majikannya.

Imam Ali as biasa melakukan sendiri pekerjaannya, biasa mencuci pakaiannya sendiri, dan bahkan menisiknya bilamana perlu. Beliau biasa menimba air dari sumur untuk dipakainya sehari-hari.

Beliau memberi makanan yang baik dan pakaian yang pantas, sedang beliau sendiri makan dan berpakaian seperti orang miskin. Jangankan mencambuki atau memukul budaknya, beliau bahkan tidak pernah marah kepada mereka.

Beliau tidak pernah menggunakan tongkat bahkan terhadap kudanya, unta atau keledainya. Hewan-hewan ini nampaknya mengerti akan perasaan dan keinginannya, berlari dan berjalan menurut yang dikehendakinya. Ungkapan yang sering digunakannya terhadap hewan-hewan itu adalah, “ Tenanglah, nak…”

Qambar selanjutnya menceritakan, “Sekali, dan hanya sekali, beliau gusar kepada saya. Hal itu terjadi ketika saya menunjukkan kepada beliau uang yang telah saya simpan. Itu bagian pendapatan yang diberikan Baitul Mal kepada saya, sebagaimana orang-orang lain, serta uang yang telah saya terima dari para anggota keluarganya. Saya tidak segera menggunakannya dan mengumpulkannya. Jumlahnya tidak banyak, hanya seratus dirham. Ketika saya tunjukkan kepadanya semua uang tersebut, beliau nampak cemas dan yang lebih memedihkan hati saya, beliau nampak sangat sedih.

Sepontan saya tanyakan perihal kesedihannya, maka Imam Ali as mengatakan, “Qambar, apabila engkau tidak membutuhkan uang ini, tidakkah ada orang disekitarmu yang memerlukannya? Sebagian dari mereka mungkin sedang kelaparan, sebagian sakit dan lemah. Tidakkah engkau dapat menolong mereka? Saya tak pernah mengira bahwa engkau bisa begitu tak perasa dan kejam, dan dapat mencintai harta demi harta. Qambar, saya khawatir engkau tidak berusaha untuk mendapatkan banyak dari Islam. Berusahalah lebih sungguh-sungguh dan tulus. Bawa keluar uang itu dari rumahku

“Akhirnya saya membawa uang itu dan membagi-bagikannya di antara para pengemis di masjid Kufah“, kata Qambar mengakhiri kisahnya tentang majikannya, Imam Ali as.

2 Ramadhan 1432H

Di Keheningan Malam Bandoeng Oetara..!
Ama Salman al-Banjari (Dharma)

Categories: Uncategorized
  1. sigit partomo alfaqir
    4 August 2011 at 12:15 pm

    Allahumma shali ala Muhammad wa aali Muhammad

  2. ciki
    4 August 2011 at 12:37 pm

    oke…

  3. Ammar
    16 August 2011 at 1:26 am

    Allahumma shalli ‘alla muhammad wa aali muhammad wa ‘ajjil farajahum

  4. Ammar
    16 August 2011 at 1:31 am

    … ..Sungguh sangat mengharukan..

  5. aji putra
    19 August 2011 at 7:02 pm

    Memang rezeki bukan untuk ditumpuk, tapi untuk digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat.

    ^_^

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: