Home > Uncategorized > Surga di Tepian Zayandeh: Menelisik Keindahan Taman-taman Isfahan

Surga di Tepian Zayandeh: Menelisik Keindahan Taman-taman Isfahan

Have you seen Isfahan, that city like Paradise,
That holy cypress, that soul nourishing Eden;
That palace of the nation and that throne of government
That face of the seven spheres, that eye of the seven lands
(Jamal al-Din Isfahani: Divan-i Kamil)

Zayandeh, sebuah sungai yang membelah kota Isfahan tersaji di hadapanku, jernih dan mengalir tenang. Di sepanjang sungai, terbentang jembatan-jembatan indah dan bersejarah, seperti Khajou, Marnan, Shahrestan dan Sio-Se-Pol. Di jembatan terakhir inilah, kami duduk di sebuah balkon yang menghadap langsung ke permukaan air. Senja sedari tadi sudah berpulang, warna violetpun perlahan mulai memudar.

Seorang lelaki tua yang duduk lebih awal dari kami, menyapa dengan senyum hangatnya. Obrolan pun mengalir bersamanya, sesekali diselingi menyeruput teh panas dan sup ash. Agak unik sebenarnya, menemukan lelaki ini sendiri di tepi Zayandeh, karena kebanyakan yang tertangkap oleh mataku, pasangan muda atau keluarga besar. Bapak yang ternyata pedagang karpet ini, seperti sengaja dikirim untuk menemani tamu-tamu yang datang dari negeri jauh.

Kemampuannya berbahasa Inggris membuat obrolan semakin jauh dari hanya sekedar basa-basi, ia mendedah banyak cerita soal persaingan ketat bisnis karpet. Sarah, teman seperjalanan kami yang baru saja membeli karpet buatan tangan, merasa berjodoh soal perkapetan.

Ia terlihat bahagia, saat bapak itu memberikan penilaian bagus pada karpet yang dibelinya. Obrolan kadang meloncat seputar kota Isfahan, menjawab berbagai serbuan pertanyaan kami. Sambil mengambil gambar di berbagai sudut jembatan, sesekali Santi juga ikut menimpali.

Konsentrasiku, sebenarnya tak sepenuhnya tertumpah pada topik obrolan. Mataku lebih sering mencuri pandang pada ruang-ruang balkon yang berderet di atas jembatan, sebanyak 33 buah. Lengkungan pada tiap ruang itu nampak indah tertimpa cahaya kuning keemasan. Arsitek bangunan ini, Ostad Hossein Banna, pastilah seorang yang berjiwa seni tinggi hingga melahirkan karya yang begitu indah. Jembatan ini sendiri memiliki panjang 300 meter dengan lebar 14 meter menghubungkan jalan Chahar Bagh bawah ke bagian atas.

Sio-Se-Pol, tak hanya menyandang gelar indah tapi juga menggenggam sejarah panjang. Pembangunannya dilakukan pada masa Shah Abas tahun 1602 M di bawah pengawasan Verdi Khan. Cerita kehidupan Verdi Khan sendiri cukup menarik, ia datang ke dataran Iran sebagai budak Kristen asal Georgia yang diperjualbelikan. Setelah mengalami berbagai pengalaman pahit, akhirnya nasib baik membawanya ke pangkuan Shah Abas. Shah kemudian mempercayakan padanya sebuah distrik di Fars. Verdi sungguh beruntung, orang asing yang memperoleh tempat istimewa. Sementara, hari ini ribuan pengungsi Afghanistan yang membanjiri kota-kota Iran, sejak bertahun lalu masih menyandang buruh-buruh kasar.

Cerita di balik kemasyhuran Sio-Se-Pol juga tak lepas dari kisah para pemusik jalanan yang kerap beraksi di sekitar area jembatan. Kedatangaku di musim panas tahun lalu, menyimpan kenangan indah bersama dua orang seniman. Saat itu, Zayandeh tak dialiri air hingga pengunjung bisa leluasa berjalan di bawah lorong-lorong tiang jembatan. Di salah satu sudut itulah seorang pemuda memetik gitar dengan amat piawai, pemuda lain membawakan lirik lagu yang tak kalah indah. Perpaduan nyaris sempurna, jauh dari selera musik supir-supir di jalan-jalan Tehran yang sering membuat penumpang tercekat.

Isfahan, memang menawarkan keindahan dari alterasi sudut pandang. Suhu udaranya yang tidak terlampau ekstrim, keramahan penduduk, penyajian karya seni, gedung-gedung bersejarah juga keindahan taman-tamannya. Bangsa Inggris menjulukinya dengan Oxford-nya Iran, tapi orang Italia menyebutnya sebagai Florence-nya Asia. Bagaimanapun, Isfahan tetaplah Isfahan, kota di Asia yang memiliki perkawinan sejarah antara Persia lama dan kejayaan Islam.

Aura keindahan ini terutama terpancar dari taman-taman yang didesain tidak jauh dari sungai Zayandeh. Sebelum mengakhiri perjalanan hari ini di Sio-Se-Pol, mata dan jiwaku disegarkan oleh kecerlangan lanskap di sekitar taman-taman Isfahan seperti Hast-e Behest dan Chehelsotoon.

Pengembangan taman-taman ini sesungguhnya mengambil inspirasi dari deskripsi surga yang ada dalam Quran, meskipun ide dasar taman sendiri sudah dikenal dalam masyarakat Persia sejak masa Kaisar Persia pertama, Syrus Agung. William Temple menyebutkan: “Alexander telah menulis bahwa ia melihat makam Syrus dalam sebuah taman surga” Jadi, Istilah taman yang dikitari tanaman, bunga-bunga dan air bisa dilacak sampai Persia kuno.

Pada masa Islam, taman-taman itu mengalami siklus dialektika antara pra Islam dan periode Islam dengan deskripsi al-Qur’an. Oleh para pendirinya, taman-taman diberikan sentuhan spiritual. Taman duniawi menjadi simbol pendahuluan dari surga yang akan datang, memotifasi bagi setiap Muslim untuk menggapainya. Taman dalam dimensi lebih jauh adalah metafora universal dan hubungan simbiosis antara manusia dan alam. Air sebagai simbol pemurnian moral dan kesucian, ikan sebagai lambang kehidupan, pohon-pohon cemara yang menjulang tinggi menggambarkan alam metafisik, kehidupan setelah kematian dan kebun buah menghadiahkan kebahagiaan sedang bunga akan memberikan aroma dan warna. Perpaduan warna Persia kuno dan Islam juga mempengaruhi taman-taman di Afrika Utara, Spanyol, Asia Tengah dan India.

Cerita keelokan vista di taman-taman Isfahan ini, sejak lama telah menggugah hati para pelancong Eropa. “Pandangan pertama pada kota Isfahan sungguh memukau, suluruh sudutnya menyita perhatian mata dari jalan-jalan hingga taman-taman yang menyebar” Begitu pengakuan Sir John Malcolm dalam Sketches of Persia (London,1849, p. 129). Deskripsi keindahan Isfahan bahkan telah diabadikan sejak abad ke 17 oleh sejarawan dan tokoh yang pernah menyinggahi kota ini seperti Engelbert Kaempfer (1684-1685), Pietro della Valle (1619), Thomas Herbert (1628), John Fryer (1677) dan lain-lain.

Isfahan dengan aliran Zayandeh dan taman-taman yang mengitarinya seumpama oase di tengah negeri pasir. Bagiku yang pernah menempati dataran kering Kavir di Qom atau berada di jantung Tehran dengan kotak-kotak apartemennya, menjejakkan kaki di Isfahan seperti menemukan negeri baru.

Saat berada di Hast-e Behest siang tadi, mataku menangkap ritme hidup yang mengalir tenang, menjumpai ibu-ibu yang duduk-duduk memandangi kolam air memanjang, seorang perempuan muda tertidur di bawah pohon rindang juga anak-anak berlarian di antara rerumputan.

Namun, kebebasan itu seakan terenggut dalam lukisan dinding yang kujumpai di Istana Chehelsotoon. Perempuan-perempuan masa itu, digambarkan hanya sebagai pelayan pada jamuan raja-raja. Rupanya, kehidupan feminim pernah amat mewarnai perempuan negeri ini. Rasanya tidak percaya kalau melihat perempuan-perempuan berani dan mandiri yang sering kutemui di kota Tehran atau perempuan-perempuan yang sekarang tengah menikmati udara bebas di tepian Zayandeh.

Semakin malam, suasana di tepi Zayandeh makin terlihat ramai, denyut nadi kota ini seperti tak menghiraukan pergerakan jarum jam. Apalagi, saat ini memang musim panas, waktu liburan panjang keluarga.

Bila tak ingat Mehdi yang sedari tadi tidur di pangkuan, mungkin kami juga akan tetap tersihir oleh ketenangan yang dihadiahkan Zayandeh, sungai pemberi kehidupan. Dan malam itu, perlahan kutinggalkan Sio-Se-Pol dengan sejuta kenangan yang berlintasan.

Kulihat ayah menggendong Mehdi yang terlelap, Sarah menenteng karpet baru dan Santi menggenggam hasil jepretannya, semuanya terlihat bahagia. (IRIB/AA/PH)

Isfahan, 31 Juli 2010

Oleh: Afifah Ahmad

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: