Home > Uncategorized > Surat Maaf sebuah Paku

Surat Maaf sebuah Paku

Duhai yang dikorbankan dunia sementara di langit kau begitu mulia.

Sudah lama daku menyaksikan kasih sayang ayahmu al-Mustahafa, penghormatan suamimu al-Murtadha, dan tumbuhnya kedua penghulu pemuda surga.

Selama ini aku bersyukur karena telah ditempatkan dalam rumah yang paling istimewa, mendengar wahyu yang senantiasa dibaca, dan melihat malaikat yang sering datang menyapa.

Setiap hari aku merasa bahagia. khususnya kala ayahmu datang mengetuk pintu dan membuat kayu bergetar mengajakku menyerap cahaya sang kekasih Tuhan alam semesta.

Aku tahu dia menjengukmu karena rindu aroma surga. Kulihat dia menciummu dengan sepenuh hati dan seutuh jiwa. Memandangmu sebagai wujud cinta yang mengusir letih dan segala gundahnya.

Kehadiran ayahmu dalam rumah selalu membawa berkah yang tiada dua. Dia menyayangimu seakan kau bayi dalam pelukannya dan pada saat yang sama menghormatimu seakan kau adalah ibunya.

Aku juga kagum luar biasa terhadap suamimu Ali yang begitu menyayangi, menghormati, dan memuliakanmu seakan engkau adalah nafas kehidupannya. Di luar dia adalah Singa Allah namun sesampainya di rumah dia berlaku sebagai belaian Allah yang membasuh air matamu dan menyirami bunga hatimu. Percakapannya denganmu adalah ilmu yang jernih, sedang gerak-geriknya adalah hikmah. Mendidik anak-anakmu sebagai guru yang tak kenal lelah, dan membina jiwa mereka untuk menjadi sebaik-baik manusia yang berjalan di atas tanah dengan membawa darah Rasulullah dan menjaga syariah.

Dimalam hari kalian silih berganti bermunajat di hadapan Allah. membuatku menangis tersedu mendengar kau mendoakan semua dan melupakan dirimu yang beralaskan pelepah.aku tahu kau bisa merubah gunung menjadi emas namun memilih hidup dengan kerja keras.

Aku telah hadir pada hari seorang miskin, seorang tawanan, dan seorang anak yatim datang mengetuk pintu pada saat kalian hendak berbuka puasa selama 3 hari berturut-turut lalu kalian memberi semua dari bekal yang sedikit dan menahan lapar selama 3 hari hingga ayahmu datang memeluk dan Jibril turun membacakan hadiah surat dari Sang Maha Kuasa hal ataa ‘alal insaan hiinun minad dahri lam yakun syaian madzkuura..

saat itu aku bersama semua kayu dan pelepah merasakan rumah ini seperti terbang ke surga dan ikut berbuka puasa dengan hidangannya serta gembira luar biasa melihat anak-anakmu kembali berenergi dan ceria.

Kini aku sudah tua, ayahmu sudah tiada, dan suamimu sudah enggan keluar rumah, dan kau tersenyum menahan derita, merintih di malam buta, dan siang masih meneteskan air mata. hidup dalam tekanan para pemburu dunia yang melupakan rumah Nabi mereka.

Duhai Fathima, demi Allah di hari ini aku berharap aku tak pernah ada.

Aku tak mau menjadi penyebab luka, yang menusuk sisi perutmu hingga berdarah dan ternoda. Melihatmu sakit aku tak tega. Andai aku mempunyai mata maka aku sudah menangis darah.

Aku tak tega melihat Hasan Husain dan zainabmu diselimuti kesedihan jiwa yang menggores hati mereka yang masih muda.

Duhai Fathima, engkau tahu bahwa aku hanyalah sebuah benda yang tak punya kuasa. aku hanya bisa berdoa agar Allah mengembalikanku di hari nanti agar aku dapat menusuk mereka yang mendzalimimu hanya itulah obat deritaku.

Wahai Fathima, aku melihat suamimu dan anak-anakmu sibuk untuk menguburkanmu di malam hari tanpa ada yang mengetahui. Mengapa kau harus mewasiatkannya seperti itu.. mengapa bahkan aku tak kau beri tahu..?

Wahai Fathima, sungguh di malam-malam in aku luar biasa rindu padamu. Rumah ini sudah menjadi rumah rekaman segala luka dan duka yang dapat menimpa manusia. Aku yakin bahwa semua duka dan derita akan malu jika dibandingkan dengan apa yang terjadi padamu dan anak-anakmu.

Wahai putri Khadijah tiap malam aku masih mendengar rintihan rumah ini semenjak di dalamnya kau tiada. Wahai Fathima andaikan aku menetap dalam tubuhmu hingga aku bisa menemanimu dalam kuburmu maka aku akan sedikit lebih lega.

Wahai Putri kekasih Allah, Maafkanlah daku! Sungguh membuatmu terluka telah menumpulkan jiwa ragaku. Salam atasmu wahai sebaik-baik wanita surga. Salam atasmu wahai putri al-Musthafa, salam atasmu wahai istri al-Murtadha, salam atasmu wahai ibu Hasan dan Husain sayidus Syuhadaa!

Bagi yg sempat membaca suratku ini, hendaknya memanjatkan shalawat untuk fathimah dan keluarganya yg suci.

اللهم صل على محمد وآل محمد

by MoSha Alloy on Saturday, May 7, 2011 at 4:50pm

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: