Home > Uncategorized > Perempuan dan Ruang Kapitalis

Perempuan dan Ruang Kapitalis

Sejak munculnya kembali kaum kapitalis dengan baju barunya (neo-liberalisme), maka kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati kebebasan dari tangan imperialis menjadi impian di siang bolong, mereka memang tidak dijajah dengan moncong senjata, tapi mereka dijajah dengan pemaksaan ekonomi dibalik slogan globalisasi dan pasar bebas. Sebuah pemaksaan halus bagi masyarakat agar mereka (masyarakat) menjadi lebih kapitalistis.   Ketika dunia menjadi milik kapitalisme, masyarakat didorong, diarahkan dan digiring ke satu titik; “Masyarakat Konsumer”.

Masyarakat kapitalistik menciptakan nilai-nilai yang berlimpah ruah melalui barang-barang konsumer, serta menjadikan konsumsi sebagai pusat aktivitas kehidupan. Karena nilai ditentukan melalui produksi barang-barang konsumer maka akan terjadi over-produksi, dan untuk mengantisipasi itu, para konsumen dirayu dengan berbagai macam cara agar mereka membangun kebiasaan artifisial.   Kebutuhan artifisial ini dibangkitkan dengan logika hawa nafsu-nya Baudrillard. Dengan rayuan yang bertubi-tubi (melalui iklan misalnya) maka masyarakat sekarang mengkonsumsi sesuatu bukan lagi sekedar untuk “survive” melainkan untuk “to be”.

Dalam mengkonsumsilah masyarakat menemukan identitasnya, dibarang-barang konsumsilah terletak nilai dan harga dirinya, itulah masyarakat konsumer.   Bangunan masyarakat konsumer dalam pandangan Yasraf Amir Piliang adalah bangunan masyarakat sensualitas. Mulai dari sensualitas ekonomi (libidonomi), sensualitas media (erotisasi komunikasi), sensualitas politik (hasrat kekuasaan), sensualitas seni (sistem seni yang terperangkap dalam dimensi pemenuhan hasrat semata) dan sensualitas pikiran (pornografi). Dan yang pasti, bangunan masyarakat konsumer sangat merugikan kelompok masyarakat tertentu yaitu Perempuan.

Misalnya saja, dalam sensualitas ekonomi, Yasraf menemukan bahwa libidonomi bekerja dalam tiga tingkat “politik tubuh (body politics)” yang kesemuanya menggunakan perempuan sebagai obyek eksploitasi. Ketiga tingkatan itu adalah : 1) Ekonomi-politik tubuh (political economy of the body), 2) Ekonomi-politik tanda (political economy of the signs) dan 3) Ekonomi-politik hasrat (political economy of desire).

cover-hijab_edit2

Dalam Ekonomi-politik tubuh, tubuh digunakan dalam berbagai kerangka relasi sosial dan ekonomi, berdasarkan konstruksi sosial atau “ideologi” tertentu. Ekonomi politik tanda memproduksi tubuh menjadi tanda-tanda didalam sebuah sistem ekonomi pertandaan (sign system) masyarakat informasi yang membentuk citra hukum dan identitas tubuh didalamnya.

Sedangkan ekonomi politik hasrat menjadikan ekonomi sebagai “politik pembebasan hasrat” yaitu “pelepasan” hasrat dari berbagai kungkungan dan penyalurannya lewat berbagai kegiatan ekonomi (produksi, distribusi dan konsumsi).   Ketiga bangunan ekonomi-politik Yasraf ini, kemudian melahirkan iklan-iklan sexist yang male orientid dan (s)eksploitatif  terhadap tubuh perempuan.

Perubahan besar-besaran terjadi dalam identitas keperempuanan, nilai keperempuanan tidak lagi ditentukan oleh nilai kemanusiaan yang dibawanya sejak lahir, melainkan lebih ditentukan oleh apa merk lipstiknya, berapa mahal harga bajunya, seperti apa model handphone-nya dan lain-lain.

Namun yang pasti tumbal terbesar kapitalisme dengan globalisasinya adalah perempuan.   Tapi tentunya ini bukan sesuatu yang “given”, semua ini bisa dirubah, tergantung apakah kita ingin merubahnya atau tidak dan apakah kita melakukan gerakan atau tidak. Sebagaimana dikatakan Wiji Thukul bahwa “aku berfikir tentang gerakan tapi mana mungkin kalau diam ?”

Ini menjadi tantangan bagi kita semua, utamanya perempuan apakah kita akan diam saja?    Dian Kartika Sari (Koalisi Perempuan Indonesia) pernah mengatakan bahwa “sebuah gerakan hanya akan terwujud jika banyak orang secara bersama-sama melihat adanya suatu masalah, kemudian ikut peduli, berfikir dan berbuat untuk mengatasi masalah tersebut”.

Sebuah tantangan yang begitu menentukan arahan akan sebuah gerakan perempuan yang solid dan padu.   Sebenarnya kalau kita mau secara teliti melihat dan mangamati, apa sesungguhnya yang telah dialami perempuan di dalam kehidupan kapitalis ini, maka yang akan kita temukan adalah sebuah fakta bahwa perempuan tidak lagi menjadi pemilik diri –tubuh dan kesadaran–nya, melainkan perempuan hanya menjadi peminjam diri yan telah dimiliki sepenuhnya oleh para produsen melalui produksi dan reproduksi.

Perempuan dalam mengkonsumsi suatu produk, tidak lagi tergantung pada seberapa besar produk tersebut mampu membuatnya makin manusiawi, melainkan seberapa besar produk itu makin membuatnya menjadi sebuah tontonan yang menarik. Perempuan bukan lagi menjadi penonton setia dari sebuah telenovela atau sinetron, malah pada hari ini, perempuanlah yang ditonton dan ditertawakan oleh televisi pada saat dia tidak menggunakan produk tertentu.

Dalam dunia pertelevisian yang mewakili teknologi audio-visual yang massif, dunia perempuan digambarkan hanya sebatas cinta, perselingkuhan rumah tangga dan warisan. Eve-volution (perubahan di dunia hawa) hanya terjadi diseputar tetek bengek halus dan mulusnya kulit, lembut dan berkilaunya rambut serta manis dan menariknya senyum karena memakai lipstik tertentu.

Kultur kapitalis membangun perempuan dalam “cinderella complex” yaitu suatu bangunan psikoanalisis perempuan yang memiliki harapan akan kepastian dan rasa aman, serta keinginan untuk dilindungi, dicintai dan dipuja. Cinderella Complex ini dibuat dan diramu melalui televisi menjadi sesuatu yang nature bagi perempuan.   Sebenarnya celah untuk melepaskan diri dari jepitan kultural ini sangatlah sulit, namun sesuatu harus dilakukan demi sebuah pemanusiaan dan pemerdekaan.

Menurut Mochtar W. Oetomo, pembebasan perempuan dari belitan kapitalisme hanya bisa dilakukan apabila perempuan mampu membangun kesadaran semiotik dan kesadaran simbolik dalam gerakan yang dilakukannya.   Menurutnya, kesadaran kultural, teologis dan ekonomis saja tidak cukup untuk membebaskan perempuan karena kesadaran kultural akan budaya patriarkhi, dalam beberapa hal malah menimbulkan kontradiksi karena terlalu radikal.

Sementara itu kesadaran teologis cendrung membuat gerakan  keperempuanan menjadi anti agama. Dan kesadaran ekonomis bisa saja membuat perempuan sama rakusnya dengan pria dalam memandang uang dan kekuasaan.   Usulan Mochtar W Oetama tentang kesadaran simbolik dan kesadaran semiotik patut dipertimbangkan karena budaya patriarkhi, bangunan teks keagamaan yang missogini dan perekonomian yang patriarkhi sesungguhnya berkembang melalui kekerasan simbolik dan kekerasan semiotik yang dilakukan oleh audio-visual lewat televisi.

Kekerasan simbolik yang dimaksud adalah bentuk kekerasan melalui proses simbolisasi terhadap perempuan dengan cara sangat wajar dan rujukan absah, hingga akhirnya simbol itu dianggap sebagai kewajaran.

Sementara itu, kekerasan semiotik adalah sebentuk kekerasan melalui ungkapan dan bahasa yang memiliki rujukan struktural (kultural, religi) serta rujukan kontekstual sehingga bahasa itu tampak menjadi wajar dan absah.   Kedua jenis kekerasan inilah yang harus dilawan dengan gerakan perempuan yang intinya adalah bagaimana perempuan memiliki pilihan bebas dan dia memegang kontrol atas pilihan bebas tersebut.

Titik kritisnya adalah pada kesadaran bahwa perempuan juga adalah manusia yang memiliki pilihan bebas dan kemampuan menjalankan dan mengontrol pilihan bebas tersebut. Termasuk dalam melakukan analisis terhadap semiotika dan simboliasi yang dilakukan oleh media televisi sampai kedalam kamar tidur para perempuan kita.

Dalam gerakan keperempuanan yang dibangun hendaknya tidak kebablasan dengan kemudian menawarkan kebebasan sebagaimana bebasnya Madonna yang kemudian oleh sebagian kaum pergerakan perempuan dianggap sebagai perempuan yang otonom dan cerdas. Memang kita seharusnya membangun kesadaran bahwa perempuan bebas untuk mengekspresikan potensinya tetapi tentunya tetap dalam koridor nilai yang diyakini.

Diolah dgn renungan Cinta by Ama Salman from “Masyarakat Konsumer” Kasman McTutu

Tetap SEMANGAT & Tetap SHALAWAT..!
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad wa ‘ajjil faraja âli Muhammad.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: