Home > Uncategorized > “Selamat Tinggal, tuhan-tuhan bertulang!”

“Selamat Tinggal, tuhan-tuhan bertulang!”

Setiap bulan Rabiul Awal tiba, saya terkenang puisi yang saya buat dan baca di YAPI dalam acara Maulid yang dihadiri Alamrhum Ayahnda Tercinta Ust. Husin Al-Habsyi kira-kira 20 tahun silam. Bila berkenan, silakan membacanya dan mempublishnya. Shalawat!
 
 by Muhsin Labib
 
Nun jauh di sana, di Roma, tatkala hening meranggas di istana yg megah, dan satwa-satwa malam sedang menyelenggarakan konser rutin di semak-semak kebun yang rimbun dan basah, tiba-tiba sang kasiar terjaga dengan wajah kutu bersimbah peluh lalu memanggil-manggil juru takwil mimpi yang tak lagi diingat namanya. Dengan tergopoh-gopoh, sang penakwil berlari menghadap juragannya yang terbujur lunglai di atas ranjangnya. “Hai,” teriaknya membahana. “Dalam tidurku kulihat kerajaan Romawi tumbang dan istananya runtuh lalu berubah menjadi tumpukan puing yang betapa mengerikan,” tanyanya tersengal-sengal. Penakwil tua itu menundukkan kepala sambil berbisik: “Baginda, telah terlahir bayi ajaib di Arabia bernama MUHAMMAD’. 
 
Di lorong Salam yang tenang,di sepetak bangunan yang remang
di kampung Tihamah yang lengang
di jantung Bakkah yang gersang
di persada Jazirah yang kerontang…
sinar misterius menghunjam persada dan membedah malam pertengahan Rabi’ul awwal,
sebuah jeritan bayi malakuti melambung dan mengoyak angkasa Ummul-Qura
gemerincing lampu-lampu kristal istana Khosro Parwiz mengisyaratkan sebuah peristiwa…
Dentang-dentang lonceng raksasa gereja Roma mengumandangkan sebuah warta…
Debam-debam gajah-gajah Abrahah yang berjatuhan beradu bagai genderang laga…
Kelepak sayap merpati di atas Mekkah yang menari bersusulan laksana rebana pesta…
lalu terdengar kumandang …
selamat menggigil, cukong-cukong tamak…
selamat berhamburan, tuhan-tuhan bertulang…
selamat berjatuhan, raja-raja jorok…
selamat ketakutan, seniman-seniman cabul di pasar Ukaz
selamat bangkrut, saudagar-saudagar budak
Berpestalah, hai kuli-kuli gratis juragan-juragan Quraisy
Bergembiralah, hai kaum buruh di ladang Umayyah
Kumandangkan lagu kemerdekaan
Gelarlah permadani merah demi menyambut MUHAMMAD!

Mentari menyingsing dan menyongsong,
Purnama menyeruak dan menyapa,
Gemintang berkilau dan menyambut,
Pelangi berhias dan mendaulat
Ka’bah menyala dan mengucapkan ’selamat datang’ ’selamat lahir’…
kepada debur ombak rabbani yang bergulung menghempas buih syaitani
kepada desah nafas subuh yang berhembus lembut segarkan pori-pori fitrah
kepada rinai-rinai iman yang berguguran membilas sahara Hijaz
kepada sepoi-sepoi sejuk yang meniup pucuk dedaunan korma
kepada simponi tangkai zaitun yang bergesekan laksana biola
kepada mawa api tauhid yang menjilat gelap syirik
kepada untaian syair ilahi yang abadi
kepada rangkaian firman yang suci
kepada penguasa altar malakut yang menghadirkan gelegar dahsyat di lelangit
kepada kuasa Musa,
kasih Yesus,
damai Budha,
hikmah Socrates,
logika Aristo,
ide Plato,
Iluminasi Agustinus,
aura Zoroaster
dan wibawa Lao Tse…
kepada pemuka para kohen, santo dan imam
kepada utusan Sang Khuda,
duta Sang Theos,
pewarta Sang Hyang dan Rasul Allah
kepada Sang Rahmat
kepada Akibat Pertama
kepada Cahaya Kedua
kepada dia yang bernama MUHAMMAD!

Bertapa dalam gua gelap Tsur
bersemedi dalam lembah Hira
menggigil dalam kesendirian lereng Arafah
menggelinjang dalam asmara Lahut
menggigil dalam pelukan Sang Jalal
mengerang dalam kehangatan Sang Jamal
bergejolak dalam pesta malaikat
menanggalkan busana ragahilang dalam Ada
kembali memasuki nasutdilumuri kotoran onta di Haram
dilempar bebatuan bocah-bocah Thaif
bermandikan darah di Uhud
bersenda jenaka di hadapan yatim
menghibur para janda syuhada
berhariraya dengan gelandangan
bergaul dengan kaum cacat dan kusta
bersukacita didatangi tamu tuna netra
berjalan menunduk di keramaian
mencium tangan pekerja kasar
pemaaf kala berkuasa
membantu sebelum diminta
berbalik tubuh bila diseru
menegur tanpa menunggu
bermurah dengan senyum
menggali parit dan sumur
tidur dengan bantal batu
keluar masuk pasar dan berseru akulah Sang Utusan
akulah MUHAMMAD

MUHAMMAD, Sang Nabi…
nabi para pendekar tiada banding bagai Haidar,
nabi para prajurit berani bagai Miqdad…
nabi para cendekiawan mahir bagai Salman…
nabi para kader tanpa pamrih bagai Ammar…
 nabi para budak berhati salju bagai Bilal…
nabi para martir perindu sorga bagai Ja’far…
nabi para tahanan politik anti nepotisme bagai Abu Zar…

 MUHAMMAD!
Jangan pandang kami dg mata kecewa…
Lumpang tempat putrimu menumbuk gandum teramat mahal bagi kami…
Atap pelepah korma bilikmu sungguh teduh di atas kepala kami…
Derit pintu rumahmu sunggu merdu di telinga kami
Tangisan kedua cucumu yang sakit menahan lapar sungguh menyayat hati kami…
Suaramu yang parau saat meminta secarik kertas dan setangkai pena mengiang selalu dalam sanubari kami…
Pesanmu agar kami tak berbalik menjadi pengikut Samiri akan kami rawat dalam dada kami sepanjang hidup!!!  

MUHAMMAD!
Sampaikan salam kami kepada Zahra sang demonstran…
kepada Ali yang digorok di mihrab Kufah…
kepada Hasan yang menggelepar akibat racun…
kepada Husain yang hancur diinjak-injak dalam tarian puluhan kaki kuda di Nainawa…..
kepada jejiwa suci, gemintang yg menghiasi angkasa buana…
Kini kau sedang melihat kami dengan mata kecewa
kami yang sedang nongkrong di atas fosil-fosil kebodohan
kami yang asyik harakiri dengan pornografi atas nama seni
kami yang makin trampil menjadi bangsa yang latah
kami yang sakau dengan korupsi dari rt sampai pejabat
kami yang sudah kehilangan etika ketimuran
kami yang menjadi konsumeris dan pemuja raga
kami yang sibuk mempertontonkan lakon anarkisme
kami yang sudah menjadi kue ulangtahun dalam pesta para musuh
kami yang tak lagi bisa hidup rukun dan menghargai perbedaan
kami yang sebenarnya tak mengenal MUHAMMAD………

Categories: Uncategorized
  1. soehawk
    14 October 2011 at 2:01 am

    subhanalloh…….

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: