Home > Uncategorized > Doa Kita : Bukan Lampu Aladin

Doa Kita : Bukan Lampu Aladin

“Bila engkau ingin tahu kedudukanmu di sisi Tuhan, lihatlah di mana posisi Tuhan di hatimu,“ ujar Imam Ja’far ash-Shadiq ~salam baginya~. Alangkah rendahnya kita di mata Tuhan, bila kita memperlakukan Dia hanya sebagai jin untuk lampu Aladin kita. Kita memandang doa sebagai mantera magis untuk mengendalikan alam semesta. Tuhan harus tunduk dengan kemauan kita. Doa kita mirip dengan lampu Aladin dan Tuhan menjadi jin. Ketika kita berdoa Tuhan harus keluar untuk bersimpuh di depan kita, dan berkata, ‘Tuan katakan kehendak tuan.’ Ketika Tuhan tidak memenuhi kehendak kita, kita marah kepadaNya, kita kecewa dan segera membuang lampu Aladin kita.

Kita berdalih doa adalah ungkapan cinta, tetapi Anda hanya berdoa ketika memerlukan-Nya. Jadi anda mencintai-Nya  karena Anda memerlukan-Nya. Seorang filsuf Jerman menulis,“Immature love says, ’I love you because I need you.’ Mature love says, ‚’I need you because I love you.’

Zakariyya as. adalah Nabi dan manusia sempurna yang terpelihara dari dosa. Puluhan tahun doanya tidak dipenuhi. Berhentikah dia berdoa? Kecewakah ia kepada Tuhan?  Tuhan memuji Zakariyya, setelah Zakariyya memuji Tuhan.

Ingatlah rahmat Tuhanmu untuk hamba-Nya Zakaria. Ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara lembut. Ia berkata, “Tuhanku, sungguh sudah rapuh tulangku, sudah berkilauan kepalaku dengan uban, tetapi aku belum pernah kecewa untuk berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku” (QS 19:2-4)

Kekasih Tuhan yang lain, Musa as., berjuang dan berdoa untuk kejatuhan Fir’aun. “Ada rentang waktu empat puluh tahun antara permulaan doa Musa as. Dengan tenggelamnya Fir’aun,” ujar Imam Ja’far.

Di tempat lain, penghulu para wali Allah ini berkata,”Seorang kekasih Allah berdoa kepadaNya,  Dia berkata kepada salah seorang malaikatNya, ‘penuhi keperluan hambaku, tetapi jangan segera, karena aku senang mendengar rintihannya.’ Seorang musuh Tuhan berdoa kepada-Nya, Dia berkata kepada salah seorang malaikatNya, ‘Penuhi keperluannya dengan segera, karena Aku benci mendengar suaranya.’”

Jika Anda seorang pecinta, dan Anda mencintai Tuhan dan Dia mencintai rintihan Anda, berdoalah terus, merintihlah terus di depan Kekasih anda.

Ingatlah selalu firman Tuhan, “Aku senang mendengar rintihannya”.

Keheningan Malam Bandoeng Oetara (Amasufi, 1990)

Proudly Powered by Ama Salman al-Banjari @2011

 

Categories: Uncategorized
  1. 6 February 2012 at 10:32 am

    Amin…:)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: