Home > Uncategorized > “Verbalisme Relijius” (Agama rasa “strawberry”)

“Verbalisme Relijius” (Agama rasa “strawberry”)

Di mobil mewah –sejak era Catatan Si Boy- tasbih bergelantungan. Cewek berjilbab ikut casting dan kontes lagu dangdut. ‘I’m a Moslem’ (khusus yang diinggriskan) juga menjadi stiker umum. Di café kita mendengar orang berdasi saat meeting dengan mitranya bergumam ‘alhamdulillah’.

Di penjara sering mulut barapidana menyemburkan ‘astaghfirullah’. Di kuburan orang-orang yang melayat mengucapkan ‘inna lillah’. Di bursa saham kita lihat orang menepuk dahi sambil berteriak ‘Ya Allah’ (yang sebagian mem-pleset-kannya menjadi ce ileh).  Di majelis taklim, ustadz kadang merasa perlu menyihir hadirin dengan ‘wallahi’ (demi Allah). Dalam konferensi pers, Pak Pejabat memulai ucapannya dengan ‘bismillah’ dan menutupnya dengan ‘assalamu… wa rahamatullahi wa barakatuh’. Di pentas dangdut, penyanyi melantunkan lagu yang diisi dengan ‘Ya Allah’. Artis yang memperlihatkan sebagian dada silikonnya juga tidak segan-segan menyebut ‘insya Allah’. Yang paling gres, anak-anak band berteriak “Oh, Tuhan, Tolonglah aku…” (untuk mendapatkan cewek, maksudnya). Kata “mulia” itu diteriakkan sambil berjingkrak-jingkrak.

Alhasil, hampir semua mulut yang bertengger di wajah setiap muslim berlomba adu kefasihan mengucapkan kata mahaindah ini. Di bulan Ramadhan, para pegadang suara dan rupa itu makin terlihat solehah. Sudah bening, berkerudung lagi ditambah dengan ucapan “Alhamdulillah”. Benar-benar “kesalehan industrial”

Sebuah kata bisa mengandung salah satu dari beragam pengertian; Pertama, kata yang dipergunakan sebagai nama umum atau atribut universal saja. Kedua, kata yang digunakan sebagai nama universal dan personal sekaligus. Ketiga kata yang digunakan sebagai nama personal (alam syakhshi) semata.

Dalam bahasa Arab, kata “Allah” sebagai lafdh al-jalalah (nama kebesaran) dipergunakan dan ditetapkan sebagai nama personal (alam syakhshi). Sedangkan ar-rahman ditetapkan sebagai predikat khusus. Selain dari kata Allah (yang merupakan nama khusus) dan kata al-rahman (yang merupakan sifat khusus), tidak bersifat khusus. (Lihat M. Fuad Abdul-Baqi, Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfadh Al-Qur’an, hal. 62-63).

Itulah sebabnya mengapa kata “rabb”, ilah”, “khaliq” digunakan untuk selain Allah, bahkan “ra’uf” dan “rahim” digunakan untuk Nabi, sebagaimana tertera dalam surah at-Taubah ayat 128 Keenam, kata sebagai nama khusus yang sejak semula ditetapkan untuk menunjuk sebuah maujud tertentu dan sebelumnya tidak pernah ada dalam arti umum.

Karena Tuhan tak terindrakan, maka untuk mengenali dan berhubungan dengan Sang Zat itu, digunakanlah sebuah simbol unik yang berkonotasi secara eksklusif, yaitu Allah. Atas dasar itu, kata baku “Allah”, yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 930 kali, juga kata olahan (musytaq)-nya, ditetapkan sebagai sebuah “nama personal”, dan ia tidak mempunyai arti selain zat Adikodrati Swt.

Selain yang dikaitkan dengan Allah, masih banyak lagi kosa kata dan simbol verbal relijius yang perlahan-lahan mulai ‘dianiaya’ dan dikikis substansi spiritualnya akibat penggunaan yang serampangan, pemahaman yang dangkal dan penge-pop-an (peng-genitan) yang sudah kebablasan. Kita bisa menemukan, misalnya, ‘halal bi halal’ digunakan hanya untuk membuat deal-deal politik yang merugikan kepentingan bangsa, ’silaturahmi’ menjadi ajang reuni para politisi, bahkan ‘dakwah’ dijadikan kedok kampanye.

Memang, menggunakan kata-kata relijius, apalagi dengan tujuan mengambil berkah dan menganggungkan syiar Allah, dapat dianggap sebagai kesalehan, namun mengeksploitasinya demi pembodohan rakyat, manipulasi opini dan kebohongan publik apalagi demi menjustifikasi perbuatan atau keputusan yang korup adalah pelecehan terhadap simbol agama.

Mensyukuri kekayaan tidak cukup dengan alhamdulillah versi verbal, namun juga dengan alhamdulillah versi aktual. Pelaku korupsi dan kejahatan lainnya mungkin bisa dicari celah hukumnya untuk dibebaskan, tapi hukum Tuhan tidak akan bisa dianulir hanya dengan ucapan ‘astaghfirullah’.

Muhsin Labib @Ama 2009

http://bahteraummat.wordpress.com/2009/10/28/%e2%80%9cverbalisme-relijius%e2%80%9d-agama-rasa-strawberry/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: