Home > Uncategorized > Nur Muhammad (Haqiqat-e-Muhammadi)

Nur Muhammad (Haqiqat-e-Muhammadi)

Untuk sahabatku yang sedang rajin-rajinnya ‘mencoba’ merayap trotoar kaki-lima kehidupan sufistik. Bahasan dan gagasan tentang ‘Nur’, cahaya selalu menjadi titik penerang awal dalam menempuh kehidupan spritual. Tak mudah untuk mencerna persoalan yang buat sebagian orang menjadi ‘pelik’ terlebih sekat(hijab) terbesar masih menyelimuti warna kehidupan kita, Welcome to the Jungle…!

Dalam Islam, khususnya di kalangan Syiah, Syafe’i dan para Sufi, kecuali Wahabi, terdapat keyakinan bahwa Nur Muhammad adalah ciptaan Allah yang pertama. Hadis di kalangan Ahlus Sunnah berbunyi sbb: “Kuntu nabiyyan wa Adama baynal mar’i wat thin.” Di situ Nabi bersabda, ” Aku telah menjadi Nabi ketika Adam sedang dalam bentuk air dan tanah (proses penciptaan).” Rasulullah merujuk pada keadaan beliau ketika masih dalam bentuk Nur Muhammad, esensi atau ruh Muhammad, jauh sebelum beliau disimpan dalam sulbi orangtuanya. 

Dalam hadis riwayat Syiah, Rasulullah saw mengatakan bahwa Allah menciptakan beliau, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain sebelum Allah menciptakan Adam, ketika tak ada apa-apa sama sekali. Tak ada langit, bumi, bulan, matahari, cahaya, kegelapan, neraka, surga, dsb. Hanya Nur Muhammad saja yang tercipta pada waktu itu. Selanjutnya Dia ciptakan Nur Ali, Nur Fatimah, Nur Hasan dan Nur Husain.

Dalam riwayat lain, Abas bin Abdul Muthalib, paman Nabi menanyakan kepada beliau tentang proses penciptaan sang Rasul. Rasulullah menyebutkan bahwa beliau dan empat tokoh suci lainnya diciptakan dari Nur Allah SWT. Dan karena Nur merekalah seluruh alam semesta tercipta. Hal ini seperti sedekah “keluarga” Nur Muhammad SAAW buat seluruh alam semesta.

Kemudian beliau melanjutkan bahwa dari Nur-Nya Allah menciptakan Nur beliau dan dari Nur Muhammad Allah menciptakan Arsy-Nya (“singgasana” Allah) dan karenanya Nur Muhammad lebih tinggi dan mulia daripada singgasana-Nya.

Lalu dari Nur-Nya Allah menciptakan Nur Ali dan darinya Allah menciptakan para malaikat. Karena itu Nur Ali lebih tinggi dan mulia daripada para malaikat.

Kemudian dari Nur-Nya Allah menciptakan Nur Fatimah dan darinya Allah menciptakan langit dan bumi. Langit dan bumi pada dasarnya tercipta karena sadaqah Fatimah. Karena itu Nur Fatimah lebih tinggi dan mulia daripada langit dan bumi.

Kemudian dari Nur-Nya Allah menciptakan Nur Hasan dan darinya Allah menciptakan (seluruh) matahari dan (seluruh) bulan. Karena itu Nur Hasan lebih tinggi dan mulia daripada matahari dan bulan.

Kemudian dari Nur-Nya Allah menciptakan Nur Husain dan darinya Allah menciptakan jannah (surga) dan hurrul ‘ayn (para bidadari). Karena itu Nur Husain lebih tinggi dan mulia daripada jannah dan hurrul ‘ayn.

Dari riwayat Abu Dzar al-Ghifari kita mengetahui kelanjutan hadis di atas. Setelah menciptakan kelima Anwar Suci ini Allah selanjutnya menciptakan seluruh ciptaan-Nya yang lain. Setelah itu Allah menempatkan kelima Cahaya Suci ini di sekitar Arsy-Nya dan sejak itulah kelima Anwar itu bertasbih dan memuji Allah dan Keagungan-Nya.

Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa ketika Adam diciptakan beliau kemudian bangkit dan melihat ke arah Arsy Allah. Beliau melihat ada Lima Cahaya di sekitar Arsy-Nya dan bertanya kepada Allah tentang mereka. Allah kemudian menjelaskan bahwa mereka adalah Cahaya dari orang-orang yang Allah cintai dan mereka adalah rujukan untuk syafaat dari orang-orang yang meminta kelak. Allah berfirman bahwa siapa saja yang meminta syafaat melalui mereka Dia akan menerima permohonan mereka dan mengampuni kesalahan mereka. Selanjutnya Allah berfirman, “Lihat pada:

Cahaya yang pertama, Ana al-Mahmud wa hadza Muhammad;

Cahaya yang kedua, Ana al-‘Aliy wa hadza ‘Aliyyun;

Cahaya yang ketiga, Ana al-Fathir wa hadza Fathimah;

Cahaya yang keempat, Ana al-Muhsin wa hadza Hasan;

Cahaya yang kelima, Ana Dzu al-Ihsan wa hadza Husain.”

Aku Yang Mahamulia dan ini (Nur) Muhammad; Aku Yang Mahatinngi dan ini (Nur) Ali; Aku Sang Pencipta dan ini (Nur) Fathimah; Aku Yang Mahabaik dan ini (Nur) Hasan; Aku Mahadermawan dan ini (Nur) Husain.

Seperti halnya pada Kelima Tokoh Suci (Panjatan Pak) di atas, pada setiap manusia Allah juga meniupkan ruh atau cahaya-Nya. Hanya saja derajatnya tidak sama. Perumpamaanya pada cahaya yang dihasilkan oleh lampu sorot (spotlight). Makin dekat kita pada sumbernya makin kuat cahayanya dan makin jauh kita dari situ makin lemah cahayanya. Jadi seakan-akan kita adalah perpanjangan dari cahaya tersebut. Panjatan Pak dekat dengan Sumber Cahaya (baca: Allah) dan kita adalah ujung lain dari sinar tersebut.

Ketika Allah pada akhirnya mengirimkan Lima Anwar tersebut ke dunia (dalam proses kelahiran yang biasa), secara fisik mereka seperti kita tetapi secara ruhani mereka berbeda jauh dari kita. Dengan pengertian seperti inilah hendaknya kita memahami status dan posisi Rasulullah SAAW. Lagi-lagi kita menggunakan perumpamaan untuk dapat lebih memahami lebih baik. Perhatikan mobil. Pabriknya membuat mobil dalam beberapa versi. Ada model “high end” (classy) dan mahal, ada pula model “ordinary” atau mobil biasa. Komponen-komponen utama kedua jenis mobil ini sama, namun ada pula komponen mobil mewah yang tidak terdapat, atau ada tapi dengan kualitas yang lebih rendah, pada mobil biasa. Keduanya mobil, namun kualitas keduanya tidak sama. Kualitas utama inilah yang kita namakan esensi atau nur Muhammad, haqiqat-e-Muhammadi, yang jadi bahasan kita sekarang.

Adakah dalil-dalil tentang Nur Muhammad atau Nur Ali Muhammad (Anwar Panjatan Pak) ini dalam Qur’an?

Kembali kita kepada dialog Allah dengan iblis pada waktu Allah memerintahkannya dan para malaikat bersujud kepada Adam. Perhatikan kembali ayat-ayat Surah Shaad (38) di atas. Apakah memang iblis tidak paham atas esensi kejadian Adam, dengan mengira beliau hanya terbuat dari tanah saja, atau dia memiliki maksud lain? Allah Mahatahu apa yang jadi niatnya seperti yang digambarkan dalam Firman-Nya berikut:

Dalam QS 38: 75 Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri (istikbar, أَسْتَكْبَر) ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi (Al-‘Aaliin, الْعَالِينَ)?”.

Ayat di atas menunjukkan bahwa pada saat itu telah ada sekelompok “makhluk” yang oleh Allah ditempatkan dalam posisi yang sangat tinggi (Al-‘Aaliin, الْعَالِينَ). Siapakah mereka? Mereka tak lain adalah Nur Muhammad wa Ali Muhammad.

Apa perbedaan antara istikbar dan al-‘aaliin? ‘Aaliin artinya mereka yang berada pada tempat yang tinggi karena memang mereka pantas dalam posisi itu sementara istikbar sebutan untuk yang menginginkan tempat yang tinggi padahal mereka tidak pantas berada dalam status tersebut. Inilah yang menyebabkan Iblis terlempar dari surga dan terkutuk selamanya.

Kembali kepada Nur Muhammad. Meskipun Allah menciptakannya sebagai ciptaan yang pertama namun Allah mengirimkannya sebagai Nabi yang terakhir untuk mengakhiri dan menyempurnakan seluruh misi dan risalah kenabian. Semua Nabi dan Rasul menyiapkan landasan bagi kehadiran agung Sang Nabi Penutup. Seperti kata pepatah Inggris: “Save the best for last.”

Jiwa Sang Nabi Penutup ini tidak sama dengan jiwa manusia lainnya. Jiwa dan qalbu atau ruh Sang Nabi begitu kuatnya sehingga mampu menyerap Al-Quran yang bila dibebankan kepada gunung ia akan terbelah dan hancur.

QS 59: 21 “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.”

Gunung yang merupakan bagian bumi yang terkuat tak akan sanggup menerima Al-Qur’an semenatara wahyu yang sama dapat diserap oleh jiwa Nabi kita yang mulia selama lebih dari 22 tahun. Setiap tahun, pada malam Qadr, ayat-ayat Al-Qur’an turun dan beliau menerimanya dengan relatif mudah. Inilah kelebihan dari Nur Muhammad.

Akhirnya, kita akhiri diskusi kita dengan mengutip kembali ayat Al-Qur’an yang menunjukkan tentang Nur Muhammad dan Anwar keempat lainnya.

Dalam QS Al-Anbiya (21) ayat 72, Allah berfirman: “Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Yakub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang saleh.”

Jadi Ibrahim AS, Bapak Para Nabi yang juga termasuk Ulul Azmi, dan Keluarganya yang terpilih termasuk ke dalam orang-orang yang Allah sebut salihin.

Lalu mengapa dalam ayat lain, QS Al-Syu’ara (26): 83, Allah melukiskan beliau sebagai berikut? “(Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh (وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ).”

Apakah ada pertentangan dalam Al-Quran? Mengapa sebelumnya Ibrahim dan Keluarganya dimasukkan ke dalam kelompok para salihin sementara dalam ayat sesudahnya beliau bermohon agar dimasukkan ke dalam kelompok para salihin. Sebetulnya sama sekali tidak ada pertentangan. Dalam Surah Al-Anbiya di atas, Ibrahim dan Keturunannya yang terpilih memang dikelompokkan Allah sebagai orang-orang yang salih. Namun dalam Surah Al-Syu’ara di atas, ditunjukkan ada sekelompok orang salihin lain yang Ibrahim ingin bergabung bersama mereka.

Kalau kita perhatikan doa Ibrahim dalam Surah Syu’ara sebelum dan sesudah ayat 83 di atas, konteks doanya adalah keinginan beliau agar Allah mengabulkannya di Akhirat, bukan di dunia ini, yaitu agar Allah “mengampuni kesalahanku di Hari Kiamat” (ayat 82) dan “menjadikan aku termasuk orang-orang mempusakai surga” (ayat 85). Dan pada ayat 83 itu beliau ingin dimasukkan ke dalam “kelompok orang-orang salihin”. Orang-orang salihin dalam konteks Hari Akhir ini tidak lain dan tak bukan adalah Panjatan Pak, Lima Orang Suci SAAW. Karena di dunia beliau tak mungkin bertemu dengan mereka, dan beliau tahu Allah telah menciptakan mereka (dalam bentuk Anwar) sebelum beliau lahir, Ibrahim AS berdoa agar dipertemukan dengan mereka di Hari Akhir.

Begitu pula dengan kisah Nabi Nuh yang bersyafaat dengan Yang Lima Orang pada waktu peristiwa banjir besar. Kelima Tokoh tersebut telah ada dalam wujud Nur Muhammad wa Ali Muhammad.

Wassalaam,

Kang Abdi , Nuhun –  punten artikelnya ‘dipotong-potong’  ku abdi   hehehe

Salam Bahagia Selalu (SBS) ti Ama Salman di Lembang Tiris…

Categories: Uncategorized
  1. elfan
    20 November 2010 at 8:08 am

    Setelah Aku sempurnakan bentuknya (Adam) dan Aku tiupkan kepadanya Ruh-KU maka hendaklah kamu tunduk merendahkan diri kepadanya (Adam) (QS. 15:29)

    Lalu dimana riwayat Nur Muhammad itu didapat ceritanya???

    • juse
      6 August 2012 at 6:24 pm

      manusia terdiri dri : jasad (Adam), ruh (nur Muhammad), Hidup (nur Al Hayat). Jika manusia telah wafat maka tinggal jasad/bangkai. yang keluar dri jasad itu Ruh kendaraan Al hayat. Jika ruh telah disangkarkan dialam arwah maka yg keluar itu adalah Al hayat. Al hayat itu tidak mati,tdk habis,tdk berawal dan tdk berakhir. Al hayat itu yg ditanggung manusia dlm hidupnya, olehnya itu Allah SWT berfirman dlm QS.15:29. cahaya Al hayat itu berpendar hanya untuk manusia bukan untuk mahluk lain,olehnya itu manusia paling mulia. sedangkan zat Al hayat (Allah) tetap diatas singgasana-Nya,tdk berpindah dan tdk berpendar.

  2. SALIMAH
    6 January 2011 at 4:44 pm

    asalamulaikum saudara penulis bolg ini, setelah penat meredah dunia internet ini akhirnya terjumpa blog ini. iaitu hakikat nur muhamad yang mana terciptanya nur zat dan allah menjadikan dirinya untuk membuktikank kehadiran diri nya (Nur Muhamad) dengan terciptanya seluruh alam ini. thank kerana info ini untuk menambah pengatahuan ku dalam melayari kehidupan sementara dunia ciptaan nya.

  3. 15 May 2012 at 8:57 pm

    Subhanallah, tidak lah ALLAH menciptakan segala sesuatu melainkan ada hitungan(angka-angka) NYA.
    Sungguh saya sudah banyak (sering) mendengar kisah ini, walau saya lupa di buku apa saya pernah temukan, jadi buat saya gak penting – sambil berharap saya menemukan, dan mengingat kembali buku yang saya maksud.
    Saya hanya bingung saya masuk diblog siapa walau ada orang yang menyebut kang Abdi – tetap saja saya vekum mudeng, saya hanya minta izin untuk copas artikel ini, tksh – mohon maaf kalau saya tidak sopan kang Abdi (panggilan ikut2an), wasalam!

  4. Samsi
    26 January 2013 at 11:44 pm

    Assalamu ‘alaikum…alhamdulillah kami jumpai blog ini yg telah lama kamì cåri 2 dan sukai isi serta mohon izin ngopinya.matur suwun

    • kampoengsufi
      27 January 2013 at 3:00 am

      Wass…
      Silakan…Mas…
      Semoga bermanfaat Salam

  5. Deddy setyo utomo Al-ghazali
    6 November 2013 at 4:43 pm

    Sayang kurang mendasar penitiannya…..pertanyaan mendasar… didapat dari mana riwayat nur muhammad ini?
    tolong di perjelas sumbernya? thx🙂 barokAllah

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: