Home > Uncategorized > Wasiat Sufi Imam Khomeini

Wasiat Sufi Imam Khomeini

Kecintaan Manusia pada Kesempurnaan

Anakku, ketahuilah bahwa dalam diri manusia -kalau bukan dalam semua kemaujudan – terdapat suatu kecintaan bawaan dan tak dapat disangkal akan kesempurnaan mutlak, dan kecintaan akan persatuan dengan Allah. Adalah mustahil bagi kesempurnaan mutlak berjumlah dua atau lebih. Kesempurnaan mutlak itu adalah Allah, ‘Azza wa Jalla, yang kepada-Nya semua orang mengejar dan mencintai-Nya sepenuh hati, meski orang itu boleh jadi tak mengetahui (bahwa dia mencintai-Nya) akibat keberadaannya dalam perangkap hijab-hijab kegelapan dan cahaya.
Anakku, dalam keadaan mata tertutup,mereka membayangkan bahwa mereka mencari sesuatu yang lain. Akan tetapi, jika meraih suatu kesempurnaan, keindahan, atau maqam, mereka tak terpuasi dengan pencapaian mereka dan tak mendapatkan yang mereka cari. Suatu kekuasaan, bahkan kekuasaan adidaya, seberapa pun besarnya derajat kekuasaan yang mereka raih, (selalu) mencari kekuasaan yang lebih besar dari itu.
(Demikian pula), ketika pencari ilmu telah mencapai suatu derajat tertentu pengetahuan, mereka (akan) terus mengejar derajat lebih tinggi karena (merasa) tidak menemukan tujuan yang dikejarnya dalam (derajat yang sudah dicapainya itu), yang tak mereka sadari. Jika sang pencari kekuasaan diberi kekuatan untuk menguasai seluruh dunia bendawi, termasuk benua-benua, tata surya, dan galaksi-galaksi, atau apa pun yang ada di sebaliknya, kemudian ditanya; “(Sebenarnya) masih ada lagi kekuasaan yang lebih tinggi dari mereka ini dan ada pula dunia-dunia di balik yang ini; maukah kamu juga memiliki kekuasaan-kekuasaan dan dunia-dunia itu?”

Adalah mustahil bagi mereka untuk tidak memiliki keinginan itu. Sebagai gantinya, dengan suara fitrah, mereka akan berkata, “Wahai, betapa senangnya jika aku bisa menaklukkannya juga.”

Seperti ini pula halnya orang-orang yang mengejar pengetahuan. Jika mereka menengarai adanya suatu derajat pengetahuan yang lebih tinggi dibanding dengan yang telah mereka miliki, sifat mencari-mutlak mereka akan berkata, “Aku berharap (derajat yang lebih tinggi) itu ada, dan aku memiliki kemampuan untuk meraihnya, atau pengetahuanku bisa mencakupnya.” Yang bisa memuaskan semua orang dan memadamkan api-api jiwa pemberontak dan tak terpuasi yang menyala-nyala itu adalah untuk sampai kepada-Nya, ‘Azza wa Jalla, dan mengingatnya dalam makna yang sebenarnya. Inilah yang akan menciptakan ketenteraman dan kepuasan karena sesungguhnya ia (hati?-Ym) adalah penampakan-Nya.

“(Hanya) dengan mengingat Allahlah hati-hati akan menjadi tenteram.” (TQS Al-Ra’d [13]: 28)

Dengan itu, Anakku, seolah-olah (Allah Swt.) berkata, “Perhatian! Perhatian! Benamkan dirimu dalam ingat (dzikr) kepada-Nya agar hatimu yang terus berkelana dan galau, yang terbang dari satu dahan ke dahan lain, dapat menemukan kedamaian.”

Cinta-diri sebagai Hijab antara Manusia dan Allah

Maka, Anakku yang kukasihi – semoga Allah membantumu dalam memperoleh kedamaian lewat mengingat-Nya – dengarkanlah wasiat dan nasihat dari seorang ayah yang kebingungan dan galau ini. Jangan sekali-kali mencoba untuk melakukan berbagai upaya untuk meraih jabatan, ketenaran, atau memuaskan nafsu badani apa saja. Sebab jika meraih suatu jabatan, engkau akan merasa menyesal karena tak meraih (jabatan) yang lebih tinggi lagi. Hal itu akan membuatmu serakah akan sesuatu yang melebihinya dan, (pada gilirannya), akan membawa kekecewaan dan melipatgandakan kegusaranmu. Jika engkau bertanya kepadaku, “Mengapa engkau tak menasihati dirimu sendiri?” Maka jawabannya adalah, “Lihatlah pada apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan.” Semua ini adalah kata-kata yang benar meski keluar dari mulut seorang gila.

Dalam Al-Quran yang mulia, setelah menyatakan, “Tak ada musibah yang menimpa di atas bumi ini atau dalam hatimu kecuali ia telah tercatat di dalam sebuah Kitab sebelum Kami menciptakan (musibah) itu .” (TQS Al-Hadîd [57]: 22)
Allah Swt. menyambung, “… agar engkau tak menjadi kecewa men genai apa-apa yang lepas darimu, dan engkau tak bergembira atas apa-apa yang telah datang kepadamu.Allah tak men yukai orang-orang yang congkak dan omongbesar.” (QS Al-Hadîd [57]: 23)

Anakku, manusia terbuka terhadap kemungkinan (mengalami) pancaroba dalam dunia ini. Kadang-kadang nasib buruk menimpanya dan, pada saat yang lain, dunia berbaik-hati kepadanya, yang berkat itu ia boleh jadi meraih kekayaan dan prestise sosial, kekuasaan, dan rezeki. Tak satu pun di antara keduanya yang lestari. Jangan biarkan kekurangan-kekurangan dan kesusahan-kesusahan hidup membuatmu bersedih sehingga menghabiskan kesabaranmu. Engkau harus selalu ingat bahwa, kadang-kadang, nasib buruk dan kekurangan membawa-bersamanya apa-apa yang baik dan bermanfaat bagimu, Boleh jadi .engkau tak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu. (QS Al-Baqarah [2]: 216)

Jangan pula biarkan kesuksesan dan prestasi duniawi, yang dielu-elukan oleh nafsu-badani, membuatmu kehilangan kendali atas dirimu, dan mendorongmu untuk memperlakukan ciptaan Allah dengan kecongkakan. Bisa saja apa yang kamu anggap baik akan ternyata buruk bagimu.

Anakku, yang tercela dan merupakan sumber seluruh kerusakan, kejahatan, dan kehancuran serta merupakan akar seluruh kesalahan adalah kecintaan pada dunia, yang tumbuh dari cinta-diri.
Dunia material (mulk) ini pada dirinya sendiri tidak tercela karena ia merupakan penampakan Allah

dan Kerajaan-Nya, tempat turunnya para malaikat, seperti juga tempat para nabi, ‘ala yhimus-salam, dididik dan sujud kepada Allah. Dunia ini adalah kenisah (tempat ibadah) bagi orang-orang saleh dan suatu tempat yang di dalamnya Kebenaran diwahyukan ke dalam hati-hati para pencinta Kekasih-Hakiki.

Sejalan dengan itu, jika kecintaan pada (dunia material) ini bersumber dari kecintaan kepada Allah, dan dunia ini dipandang sebagai penampakan-Nya ‘Azza wa Jalla, cinta seperti itu akan menjadi sesuatu yang terpuji dan sesuai dengan kesempurnaan. Sebaliknya, jika cinta-diri merupakan sebab kecintaan pada dunia, cinta seperti itu akan menjadi sumber segala kesalahan. Jadi, dunia yang tercela ada dalam dirimu. Seluruh keterikatan hati kepada yang selain dari Pemilik hati itu akan menjadi penghalang. Cinta-diri adalah sebab seluruh penentangan kepada Allah dan pengumbaran dalam dosa, kejahatan, dan pengkhianatan. Segala macam cinta dunia dan kemilaunya, termasuk kecintaan pada status sosial, reputasi, kekayaan, kekuasaan, dan sebagainya, tumbuh dalam cinta-diri.

Anakku, meski secara alami tak ada hati yang dapat mengembangkan keterikatan kepada yang selain dari Rabb-sejatinya, layar-layar (yang menutupi) kegelapan dan cahaya, yang menjadikan kita lalai kepada Rabb-sejati dan membuat kita menyangka yang lain sebagai Sang Kekasih. Itulah kegelapan atas kegelapan. Kita dan yang sesama kita sejauh ini belum lagi mencapai hijab-hijab (yang menutupi) cahaya dan masih berada dalam perangkap hijab-hijab (yang menutupi) kegelapan. Orang-orang yang meninggalkan hijab-hijab kegelapan bersenandung:

“Ilâhî, anugerahilah daku kepasrahan-total kepada-Mu,

dan sinari mata-mata-hatiku dengan pancaran penglihatan kepadamu

hingga mata-mata-hati itu mengorak hijab-hijab (yang menutupi) cahaya itu

dan mencapai sumber Keagungan-(Mu),

dan (jadikan) ruh-ruh kami terpancang dalam ambang kesucian-Mu.

Ilâhî, jadikan aku termasuk yang menyahut tatkala Kau memanggil mereka,

dan yang ketika Kau menatap mereka maka mereka pingsan (akibat terpana) oleh kedahsyatan-Mu.”

Iblis, Setan, yang membangkang kepada Allah dengan menolak bersujud kepada Adam, pada kenyataannya, adalah tawanan dalam hijab gelap (yang menutupi) kecongkakannya. Yakni ketika ia mengatakan, “Saya lebih baik daripada dia: Kau menciptakanku dari api, dan dia dari lempung.” Dia diusir dari hadirat Ilahi. Mirip dengan itu, selama kita masih tetap tinggal ter-hijab oleh cinta-diri, egoisme, dan pemuasan-diri, kita juga bersifat setani dan terusir dari hadirat yang Maha Pengasih, tetapi, wahai, betapa sulitnya upaya untuk menghancurkan berhala besar ini, ibu dari segala berhala. Selama menaatinya, kita tak akan menaati Allah dan pasrah kepada-Nya, ‘Azza wa Jalla. Selama berhala ini tak dihancurkan, hijab-hijab gelap itu tak akan pernah terangkat dan tercampakkan.

Pertama, Anakku, kita mesti tahu apa itu hijab. Jika tak tahu apakah ia itu, kita tak akan mampu untuk mencampakkannya sepenuhnya, bahkan sebagiannya pun. Menurut salah sebuah hadis, suatu ketika para sahabat berkumpul bersama Nabi Saw. Mereka mendengar suara yang amat keras. Para sahabat pun bertanya kepadanya Saw. Sang Nabi menjawab, “Itu tadi adalah (suara) batu, yang telah mulai menggelinding dari tubir neraka tujuh puluh tahun yang lalu, dan sekarang ia telah mencapai dasar neraka.” Tak lama setelah itu,mereka mendengar bahwa seorang kafir yang berumur tujuh puluh tahun baru meninggal dunia.

Jika hadis ini sahih, para sahabat yang mendengar suara itu sesungguhnya telah sampai pada suatu maqam ruhaniah, atau mereka telah dibuat mendengar suara itu lewat perantaraan Rasulullah Saw., sebagai peringatan bagi yang lalai dan pelajaran bagi yang jahil. Bahkan, jika hadis tadi tidak sahih-saya tak ingat redaksi-persisnya – ia (tetap) merujuk pada suatu fakta bahwa (sesungguhnya) kita terus berjalan menuju neraka selama hidup kita. Sepanjang hidup, kita melaksanakan shalat, yang merupakan zikir terbesar kepada Allah, Ta’âlâ, dengan punggung kita mengarah kepada Tuhan, ‘Azza wa Jalla, dan Rumah-Nya seraya mengarah pada kenisah ego kita. Sungguh patut disesali jika shalat kita, bukannya menjadi (wahana) mi’raj yang mengantar kita kepada-Nya dan pada surga tempat pertemuan dengan-Nya, ia justru membawa kita ke pengasingan-neraka.

Anakku, perumpamaan ini (aku buat) bukanlah untuk tujuan (menjadikan) orang-orang seperti aku dan engkau meraih pengetahuan tentang Allah dan menyembah-Nya sebagaimana ia layak disembah. Karena, (bahkan) makhluk yang paling kenal Allah dan hak-hak-Nya untuk disembah dan dilayani (Rasulullah saw.)telah menyatakan, “Kami tak mengenal-Mu sebagaimana Engkau layak dikenal, dan kami tak menyembah-Mu sebagaimana Engkau layak disembah.”

Pernyataan ini harus membuat kita menyadari ketakmampuan kita dan menangkap ketakbernilaian diri kita. Ia mesti membuat kita segera berupaya) menyangkal egoisme dan egotisme kita, dan menjadikan kita (siap) menaklukkan raksasa yang keras-kepala ini. Mudah-mudahan, kita dapat berjaya untuk mengendalikannya dan menyingkirkan suatu bahaya besar – yang pikiran tentangnya saja menyiksa jiwa kita.

Sungguh, Anakku, bahaya cinta-diri dan cinta dunia dengan segala konsekuensinya dapat menimpa seseorang dalam momen-momen terakhir ketika ia meninggalkan dunia ini menuju tempat tinggal yang kekal. Pada saat itu, di ambang kematian, ketika fakta-fakta tertentu terungkap baginya, ia akan mendapati (malaikat) pesuruh Allah siap memisahkannya dari kecintaannya, dunia ini. Dalam keadaan seperti itu, ia akan meninggalkan dunia ini dengan kebencian dan kemarahan kepada Allah, ‘Azza wa Jalla. Inilah akibat cinta-diri dan cinta dunia. Masalah ini juga telah dirujuk dalam hadis-hadis.

Seorang saleh dan bisa dipercaya suatu kali pernah meriwayatkan kepadaku suatu kejadian. Katanya, “Suatu kali, aku berada di sisi pembaringan seseorang yang sedang berada di ambang kematiannya. Si orang yang sedang sekarat itu berkata, ‘Tak ada yang telah begitu banyak menganiayaku seperti Allah yang kini sedang akan memisahkanku dari anak-anakku yang telah aku besarkan dengan amat susah-payah.’ Aku pun bangkit dan meninggalkan tempat itu tak lama setelahnya.” Mungkin kata-kata yang aku pergunakan agak berbeda dari persisnya kata-kata yang digunakan oleh si pembawa cerita yang saleh dan terpelajar itu. Betapapun, jika yang saya ceritakan itu memiliki kemungkinan benar, perkara ini amatlah penting sehingga kita harus dapat mencari jalan keluar dari persoalan ini.

Anakku, jika sesaat kita renungkan kemaujudan-kemaujudan yang ada di dunia ini, termasuk diri-diri kita, kita akan tahu bahwa tak ada kemaujudan yang memiliki sesuatu yang (benar-benar) miliknya sendiri. Apa saja yang kita punyai (sesungguhnya) adalah anugerah dan nikmat Ilahi yang diberikan Allah entah sebelum kita hadir di dunia ini atau selama jangka waktu kehidupan kita sejak bayi hingga kematian, bahkan setelah kematian. Lewat para pembimbing yang (oleh Allah) telah ditugasikan membimbing kita, boleh jadi secercah cinta Allah, yang mungkin sekarang kita hampa darinya, dapat hadir dalam diri kita dan memungkinkan kita untuk memahami ketakbernilaian dan kemiskinan kita serta menemukan jalan menuju-Nya, ‘Azza wa Jalla. Atau sedikitnya hal itu dapat memampukan kita untuk terselamatkan dari pengkhianatan oleh (kecenderungan) penyangkalan (kita) yang mendorong seseorang untuk menganggap penyangkalan pada ajaran-ajaran dan penampakan-penampakan Ilahi sebagai persoalan kebanggaan dan prestise dan, dengan demikian, (membuat kita) tetap tinggal dalam jurang egoisme dan cinta-diri selamanya.

Diriwayatkan bahwa, suatu kali, Allah meminta salah seorang dari para nabinya untuk menunjukkan seseorang yang menurut anggapan si nabi lebih rendah daripadanya. Setelah menemukan seekor keledai mati, ia menyeret bangkainya beberapa langkah. Tapi, segera saja ia dicengkam oleh rasa malu. Dalam keadaan seperti itu, ia pun diberi tahu: “Kalau saja kamu jadi membawanya (kepadaku), kamu sudah akan kehilangan maqam kenabianmu.” Aku tak tahu apakah riwayat ini sahih. Tapi, boleh jadi, dalam maqam para Nabi, suatu perasaan keunggulan-bahkan (hanya) sebatas itu – bermakna sejenis egoisme dan cinta-diri. Dan, ini biasa membawanya pada kejatuhan .[]

Sumber Tulisan: http://www.mizan.com/

Penyunting: Yamani

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: