Home > Uncategorized > Seruan Imam Ali:Kewajiban Mengikuti Ahlul Bayt Nabi

Seruan Imam Ali:Kewajiban Mengikuti Ahlul Bayt Nabi

Telah berkata Amirul Mukmimin Ali bin Abi Thalib: “Kearah manakah kamu akan pergi? Dan bagaimanakan kamu dapat tertipu? Sedangkan panji-panji (kebenaran) telah ditegakkan; bukti-bukti pun telah jelas. Mercusuar telah dinyalakan.  Maka bagaimana kamu dapat diselewengkan? Bahkan bagaimana kamu disesatkan, sedangkan kerabat-kerabat Nabi-mu berada di tengah-tengah kamu? Mereka itulah tonggak kebenaran; panji-panji agama; lidah-lidah yang selalu berkata benar! Tempatkanlah mereka itu sebaik kamu menempatkan al-Quran . Datangilah mereka dengan penuh perhatian, sebagaimana onta-onta yang haus mendatangi mata air pelepas dahaga. 

Wahai manusia, peganglah erat-erat apa yang disabdakan oleh Nabimu, penutup para Nabi; Mereka yang mati di antara kami, sesungguhnya ia tiada mati, Mereka yang telah hancur luluh tulang belulangnya di antara kami, sesunguhnya ia tiada hancur! Maka janganlah kamu ucapkan apa yang tiada kau mengerti, sebab kebenaran yang sejati adalah justru yang kamu tiada memiliki alasan apapun untuk menyalahkannya, yaitu aku! Bukankah aku (dalam segala perbuatanku), telah berpegang teguh pada peninggalan Rasulullah yang terpenting yaitu al-Quran dan meniti jalan peninggalan beliau lainnya – yaitu keluarga beliau. Dan kutegakkan panji keimanan diantaramu” (Nahjul Balaghah I hal 152, khutbah no 83}

Dan telah berkata pula Imam Ali; “Jagalah keluarga Ahlul Bait Nabimu, tetaplah bersama mereka, ikutlah jejak mereka. Sebab mereka takkan pernah menyelewengkan kamu dari petunjuk (yang benar). Dan mereka takkan mengembalikan kamu ke dalam kegelapan kekafiran. Jika mereka berhenti, berhentilah. Jika mereka bergerak, bergeraklah! Jangan mendahului mereka, agar kamu tidak binasa!“

Dan beliau telah berkata pula (tentang Ahlul Bayt): “Mereka itu kehidupan bagi ilmu, kematian bagi kebodohan. Kearifan mereka menunjukkan luas ilmu yang mereka miliki. Dzahir mereka (yang tamak dari luar) menjelaskan apa yang ada dalam batin mereka. Pendapat mereka dapat diketahui, meskipun mereka berdiam diri.  Takkan pernah mereka berlawanan dengan kebenaran, dan takkan  pernah mereka berselisih  didalamnya. Merekalah tiang-tiang Islam yang kokoh. Dan tempat berlindung yang aman. Dengan mereka, kebenaran telah dikembalikan ketempatnya, terputus dari sumbernya. Mereka memahami agama dengan pemahaman yang penuh kesadaran dan pengertian, bukan dengan pendengaran dan riwayat semata-mata. Sebab yang meriwayatkan ilmu itu banyak tapi yang menjaga kebenarannya sedikit.“

“Dan tidaklah patut memasuki suatu rumah kecuali lewat pintunya. Maka barangsiapa yang memasuki tidak lewat pintu-pintunya, ia dinamakan pencuri…” Kemudian dijelaskannya lagi mengenai Ahlul Bait : ”Mereka itulah yang dipuji dalam ayat-ayat al-Quran. Dimuliakan Allah Yang Maha Penyayang. Bila mereka berkata, pasti dapat dipercaya. Dan bila berdiam diri, tak seoranpun yang berani berbicara sebelum mereka. Maka setiap orang hendaknya jujur kepada dirinya sendiri. Dan janganlah sekali-kali meninggalkan penggunaan akal sehatnya.

Selanjutnya beliau berkata lagi dalam salat satu khutbahnya (khutbah ke143, II hal 43)  :”Dan ketahuilah bahwa kalian takkan mengenal kebenaran kecuali mengenali orang-orang yang meninggalkannya. Dan takkan memenuhi janji kalian dengan al-Quran, sehingga kamu mengenali orang-orang yang melanggarnya. Dan takkan berpegang teguh padanya, sehingga kalian mengenali orang-orang yang melemparnya. Maka carilah kebenaran itu dalam diri mereka. Ahlul Bayt yang memang mereka itulah ahlinya. Sebab mereka itu adalah kehidupan bagi ilmu, dan kematian bagi kebodohan. Merekalah yang bisa diketahui ilmunya dari hasil penilaiannya. Yang diketahui ucapannya dari diamnya,  bathinnya dari zhahirnya. Takkan pernah mereka melawan Alquran dan mereka takkan berselisih  tentangnya. Al-Quran bagi mereka, merupakan saksi yang benar. Ia diam namun sesungguhnya ia berkata-kata dengan jelasnya.”

Banyak lagi ucapan-ucapan beliau mengenai hal ini seperti :”dengan kami, kalian mendapat petunjuk sehingga keluar dari kegelapan dan mencapai kemuliaan “, (Khutbah ke 13, 133)

“Kami adalah pohon  Nubuwah  (kenabian). Pusat Risalah  (kerasulan. Persinggahan Malaikat  (pembawa wahyu) Sumber Ilmu. Mata Air hikmah. Orang yang memandang kami dengan kecintaan  menyongsong rahmat Allah. Adapun musuh-musuh kami dan yang membenci kami, menyongsong kemurkaan-Nya”. (Khutbah ke 105, 1:214}

Dimanakah orang-orang yang mengaku bahwa merekalah dan bukannya kami (Ahlul Bayt), yang dengan mantapnya menguasai ilmu? Semata-mata disebabkan kebohongan dan kedengkian mereka atas kami, karena Allah telah memuliakan kami dan menghinakan mereka? Melimpahkan karunia-Nya atas kami dan menjauhkannya dari mereka? Memasukkan kami dalam lindungan-Nya dan mengeluarkan mereka? Dengan kami, orang mendapat petunjuk dan dengan kami, dihilangkan kebodohan. Kepemimpinan (Imamah) haruslah diserahkan pada para Imam dari Bani Hasyim diantara Quraisy. Tidaklah ia pantas bagi selain mereka. Dan tidaklah pantas para pemimpin (Imam) kecuali yang berasal dari mereka…“(Nahjul Balaghah, II:36).

Kepada orang-orang yang melanggar perintahnya, baliau telah berkata :“Mereka telah memilih kesenangan yang segera, dan menjauhkan kebahagiaan yang mendatang. Meninggalkan air yang jernih, dan minum yang keruh …“.

Beliau berkata lagi:“Barangsipa di antara kami meninggal dunia, sedangkan ia mengenal dan mengetahui hak Tuhannya, serta hak Rasulnya dan Ahlul Baytnya, maka sesungguhnya ia mati syahid, pahalanya dijamin Allah, dan berhak mendapat balasan pahala sesuai dengan amal shaleh yang diniatkannya – meskipun ia mati diatas tempat tidurnya (bukan dalam medan jihad) – sebab niatnya yang baik itu menempatkannya pada kedudukan mujahid yang menghunus pedangnya fisabilillah.“ (Khutbah 185, II:156)

Dan ucapan beliau :“Kami adalah orang-orang yang dikaruniai kelebihan kemuliaan. Kami adalah pengikut terdepan para nabi. Kelompok kami adalah Hizbullah, adapun musuh-musuh kami  – kelompok orang-orang zalim- mereka adalah hizbusysyaithan.

Demikian pula Imam Hasan bin Ali  – cucu Rasulullah dan pemimpin pemuda penghuni surga telah berkata :“Cintailah kami dengan ketaqwaan kamu kepada Allah, sebab kami ini adalah pemimpin –pemimpinmu.“ (As-Sawaiq, hal 137)

Ama @2003

Categories: Uncategorized
  1. desi
    17 November 2010 at 10:10 pm

    subhanallah ..
    berarti selama ini saya tidak salah belajar ..
    selama ini dikatan ilmu yang saya pelajari itu dibilang sesat ..
    padahal isinya sama banget sama yang tercantum di artikel ini
    subhanallah ..
    iman saya skarang benar-benar tambah kokoh ..

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: