Home > Uncategorized > Mengenal Imam Husein bin Ali

Mengenal Imam Husein bin Ali

Suatu pagi, Ummu Ayman mengeluh kepada Rasulullah karena mengalami mimpi yang membuatnya tidak bisa tidur semalam dan terus menangis karena melihat sebagian anggota tubuh Nabi berada di rumahnya. Rasulullah pun tersenyum sembari memberinya kabar gembira bahwa cucunya akan segera lahir dan ia akan menjadi ibu angkat karena akan menyusuinya. 

Pada suatu hari Rasulullah membisikan pada Fathimah, bahwa Jibril memberitahu beliau bahwa ia akan melahirkan seorang bayi laki-laki. Beliau berpesan, bila ia lahir, jangan menyusuinya sebelum aku datang, meskipun harus menunggu sebulan. Kelak setelah terlahir dan sebelum disusui oleh ibunya, Rasulullah menjulurkan lidahnya yang suci, lalu bibir mungil bayi sempurna itu mengisap dan mengulumnya. Seusai itu, Rasulullah berkata kepada putrinya, “Allah swt telah menetapkan bahwa kepemimpinan akan berlanjut dari bayi ini.”

Imam penyandang banyak gelar, seperti Ar-Rasyid, Al-Wafi, Az-Zaki ini, menurut sebagian besar sejarawan, dilahirkan di Madinah pada tanggal 3 Sya’ban tahun ke3 Hijriyah , atau pada tahun ke 4 Hijriyah.

Ketika mendengar bahwa putrinya, Sayyidah Fahtimah, telah melahirkan bayi yang dinanti-nanti itu, Rasululllah, sebagimana disebutkan dalam I’lam Al-wara, segera bergegas ke rumah menantunya, Ali bin Abi Thalib. Sesampainya di sana, ia menyuruh Asma binti Umays, wanita yang mengabdikan dirinya sebagai pembantu Fatimah, untuk menyerahkannya. Nabi-pun mengendongnya lalu membungkusnya dengan sepotong kain putih lalu mendekapnya, kemudian mengumandangkan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri bayi yang yang berpendar-pendar itu. Tiba-tiba raut wajah Manusia teragung itu menampakkan kesedihan dan matanya melinangkan air bening. Ketika ditanya sebabnya oleh Asma’, beliau menjawab: “Hai Asma’, ia akan dibunuh oleh gerombolan pembangkang setelah wafatku. Allah tidak akan memberikan syafaatku kepada mereka.”

Beberapa saat kemudian, Rasulullah menegur menantunya, ‘Hai Ali, apa nama yang kau berikan untuk anakku ini? Suami Fathimah itu dengan nada santun menyahut: “Wahai utusan Allah, aku tidak akan pernah mendahului Anda untuk memberinya sebuah nama.”

“Asyura Berdarah” @Ama

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: