Home > Uncategorized > Makan Malam Bersama Tuhan

Makan Malam Bersama Tuhan

Makan 1Seringkali kita memaknai praktek-praktek ibadah kepada Allah SWT  hanya diidentikkan dengan berbagai ritus-ritus keagamaan seperti shalat, puasa, membayar zakat, dan pergi haji ke Baitullah. Dalam menjalankan praktek ibadah itupun terkadang tidak sedikit orang terjebak merasa bahwa ibadahnya selalu harus ditujukan kepada Allah, sehingga mengabaikan untuk mengutamakan hak manusia sebagai bentuk ibadah sosial (dalam bahasa fiqih disebut hak adami). Padahal pada hakikatnya, ibadah dan seluruh aktifitas manusia lebih dari sekedar untuk memenuhi hak ubudiyah-Nya (hak untuk disembah), ibadah jauh lebih dimaksudkan untuk diri kita khususnya, dan setelah kita menjadi rendah hati (tulus), ibadah ditujukan untuk berkontribusi membantu makhluk pada umumnya, simaklah kisah singkat berikut ini !
Pada suatu hari, beberapa orang dari Bani Israil datang menemui Musa as dan berkata, “Wahai Musa, bukankah kau bisa bicara dengan Tuhan? Tolong sampaikan pada-Nya, kami ingin mengundang-Nya makan malam.” Musa marah luar biasa. Ia berkata bahwa Tuhan tidak perlu makan atau minum.
Ketika Musa datang ke Gunung Sinai untuk berbicara dengan Tuhan, Tuhan bersabda, “Mengapa kau tidak menyampaikan kepada-Ku undangan makan malam dari hamba-Ku?” Musa menjawab, “Tapi Tuhanku, Engkau tidak makan. Engkau pasti tidak akan menerima undangan tolol seperti itu.” Tuhan berkata, “Simpan pengetahuanmu antara kau dan Aku. Katakan pada mereka, Aku akan datang memenuhi undangan itu.” Turunlah Musa dari Gunung Sinai dan mengumumkan bahwa Tuhan akan datang untuk makan malam bersama Bani Israil. Tentu saja semua orang, termasuk Musa, menyiapkan jamuan yang amat mewah.
Ketika mereka sedang sibuk memasak hidangan-hidangan terlezat dan mempersiapkan segalanya, seorang kakek tua muncul tanpa diduga. Orang itu miskin dan kelaparan. Ia meminta sesuatu untuk dimakan. Para koki yang sibuk memasak menolaknya, “Tidak, tidak. Kami sedang menunggu Tuhan. Nanti ketika Tuhan datang, kita makan bersama-sama. Mengapa kamu tidak ikut membantu? Lebih baik kamu ikut mengambilkan air dari sumur!” Mereka tidak memberi apa-apa untuk kakek malang itu.

TehWaktu berlalu tetapi Tuhan ternyata tidak datang. Musa menjadi amat malu dan tidak tahu harus berkata apa kepada para pengikutnya. Keesokan harinya, Musa pergi ke Gunung Sinai dan berkata, “Tuhan, apa yang Kau lakukan kepadaku” Aku berusaha meyakinkan setiap orang bahwa Kau ada. Kau katakan Kau akan datang ke jamuan kami, tapi Kau ternyata tak muncul. Sekarang tidak ada yang akan mempercayaiku lagi!.” Tuhan menjawab, “Aku datang. Jika saja kau memberi makan kepada hamba-Ku yang miskin, kau telah memberi makan kepada-Ku.”
Tuhan bersabda, “Aku, Yang tidak akan bisa dimasukkan ke seluruh semesta, bisa dimasukkan ke dalam hati hamba-Ku yang beriman.”

Ketika kita berkhidmat kepada hamba Tuhan, kita telah berkhidmat kepada-Nya. Ketika kita mengabdi kepada makhluk, sesungguhnya kita juga mengabdi dan beribadah kepada Sang Khalik. Dengan argumen indah ini tidak terlalu sulit bagi kita untuk berkhidmat kepada Allah, banyak-banyaklah membantu sesama, sayangi anak yatim, kasihi orang tua, hiburlah orang yang kesusahan, santuni orang-orang fakir, beri pakaian bagi yang membutuhkan, insya Allah Tuhan akan selalu bersama kita, Amien!  GOD BLESS YOU…..

Tetaplah SEMANGAT Tetaplah SHALAWAT
~♥~اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ~♥~

Kampoengsufi @Ama, 1999, Syamsu Dharma

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: