Beranda > Uncategorized > Keikhlasan Seorang Budak

Keikhlasan Seorang Budak

Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang sangat terkenal kebaikannya. Semua orang menaruh hormat kepadanya, kepadanya, karena ia termasuk orang yang berilmu luas, di samping kedudukannya sebagai cucu Rasulullah saww. Kedermawanannya pun dikenal masyarakat. Ia lebih mementingkan perintah agama daripada keperluannya sendiri. Imam Husain bin Ali mencontoh sifat-sifat mulia itu dari Rasulullah saww., ibunya (Sayyidah Fatimah Az Zahra), dan ayahandanya (Imam Ali bin Abi Thalib).

Husain bin Ali - salam baginya – mempunyai sebidang kebun yang cukup luas. Kebun itu diurus dan dijaga oleh seorang budak yang bernama Shafi. Shafi sendiri sangat memperhatikan kebun tuannya itu. Ia merasa wajib berbuat demikian karena ia memandang tugasnya itu sebagai suatu amanat. Ia adalah seorang yang jujur, lugu dan berbudi luhur.  Setiap hari ia tak lupa menyirami tanaman-tanaman yang ada di kebunnya, dan mengawasinya agar tidak dimasuki pencuri. Di dalam menjalankan tugasnya itu, Shafi ditemani oleh seekor anjing yang setia. Anjing itu juga milik tuannya.

Suatu hari, Al Husain datang ke kebunnya. Ia tidak memanggil Shafi, sehingga Shafi tetap tidak tahu bahwa tuannya telah datang. Al Husain mengawasi kebunnya. Ia melihat teman-teman dari dekat, memeriksa dan memegangnya. Di tengah kesibukannya itu, Imam Husain bin Ali as. melihat Shafi sedang duduk beristirahat di bawah sebuah pohon, dan di anjing duduk pula berhadapan dengan Shafi. Kemudian dilihat oleh Husain, bahwa Shafi mengeluarkan sepotong roti dari kantung miliknya. Roti itu dibaginya menjadi dua bagian, separuh untuk dia dan separuh lagi diberikan kepada anjing yang duduk di hadapannya itu. Dan mulailah roti itu dimakan.

Imam Husain mengamati Shafi yang sedang menikmati sarapan paginya. Setelah selesai, Shafi mengangkat kedua tangannya, menengadah dan berdoâ, “Alhamdulillah. Ya Allah, ampunilah diriku dan diri tuanku. Limpahkanlah rahmat dan karunia-Mu kepadanya sebagaimana Engkau telah memberkati ayah dan ibunya.”
Imam Husain memperhatikan semua perbuatan budaknya. Ia pun mendengar doa Shafi. Ia merasa terharu. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia tetap bersembunyi.

Lama-kelamaan, Imam Husain tak tahan lagi bersembunyi. Ia memangil budaknya: “Assalamu’alaikum hai Shafi…”
Shafi sangat terkejut mendengar suara orang memanggil. Ia kenal betul, bahwa itu adalah suara tuannya. Dengan bergegas dan terbata-bata, ia menjawab salam tuannya: “Wa ‘laikum salam…”

Sampailah Shafi di hadapan tuannya. Ia merasa takut dan kecewa karena ia tidak mengerti kedatangan tuannya. Ia menyampaikan permintaan maaf dengan kepala menunduk. Maafkan saya Tuan, karena saya telah lalai, sehingga saya tidak menyambutnya dengan sambutan yang seharusnya.
Tak mengapa hai Shafi. Sebenarnya akulah yang bersalah, sebab aku telah masuk ke kebunmu tanpa izin terlebih dahulu, jawab Imam Husain sambil menepuk punggung Shafi.

Mengapa Tuan berkata demikian. Bukankah kebun ini milik Tuan? tanya Shafi sambil tetap merasa malu.
Imam Husain menjawab: Lupakan itu, hai Shafi. Sesungguhnya aku tadi telah lama memperhatikanmu. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, mengapa tadi engkau berikan separuh roti sarapan pagimu kepada anjing itu?
Ah.. Sesungguhnya aku merasa malu kepada anjing ini. Ketika aku hendak makan, anjing itu memandangiku terus menerus. Anjing ini adalah milik Tuan. Ia telah ikut menjaga kebun ini dari gangguan orang, sedangkan aku hanya mengerjakannya. Oleh sebab itu, aku berpendapat bahwa hasil yang kuperoleh dari Tuan selayaknyalah dibagi dengan anjing ini, sebab ia pun berhak memperoleh itu, jawab Shafi.

Imam Husain bin Ali  memandangi wajah budaknya. Ia begitu kagum mendengar jawaban Shafi yang mengharukan itu. Tanpa disadari, air mata menetes dari mata Imam Husain. Ia tak kuasa lagi menahan keharuan dan kekagumannya, sehingga ia kemudian berkata: Wahai Shafi, mulai saat ini engkau aku merdekakan. Dan ambillah uang dua ribu dinar ini sebagai hadiah dariku.

Mendengar ucapan Tuannya, kini Shafilah yang merasa tidak percaya. Ia memandang Tuannya dengan penuh keharuan. Hatinya melonjak gembira, sekaligus terharu. Ia memandang uang dan Tuannya secara bergantian. Bagaimana mungkin, pikir Shafi, ia dibebaskan begitu mudah, dan diberi uang begitu banyak. Ia beranikan dirinya berkata kepada Tuannya: Tapi Tuan…,  Sudahlah , jawab Husain memotong perkataan Shafi. Ambillah uang itu dan engkau merdeka!

Itulah kisah Shafi, budak Imam Husain bin Ali yang dimerdekakan karena kejujuran dan keikhlasannya. Ia telah memberikan rotinya dengan ikhlas kepada anjingnya, shingga Tuannya merasa bangga dan terharu. Dan Allah SWT pun kemudian memberikan karunia-Nya kepada Shafi, dengan memberinya balasan yang sangat besar kepadanya.

About these ads
Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: